Sabah dan Sarawak: Bagaimana Proses Bergabung dengan Malaysia?

Sabah dan Sarawak merupakan dua wilayah yang terletak di Pulau Kalimantan bagian utara. Saat ini keduanya menjadi bagian dari Federasi Malaysia, namun proses bergabungnya kedua wilayah tersebut memiliki sejarah yang panjang dan melibatkan berbagai kepentingan politik, kolonial, serta aspirasi masyarakat setempat. Peristiwa ini menjadi salah satu bab penting dalam sejarah Asia Tenggara modern.

Latar Belakang Sejarah

Sebelum bergabung dengan Malaysia, Sabah dan Sarawak berada di bawah kekuasaan Inggris. Sarawak awalnya diperintah oleh keluarga Brooke yang dikenal sebagai “Rajah Putih” sejak tahun 1841. Setelah Perang Dunia II berakhir, Sarawak menjadi Koloni Mahkota Inggris pada tahun 1946.

Sementara itu, Sabah yang saat itu dikenal sebagai British North Borneo juga berada di bawah administrasi Inggris setelah sebelumnya dikelola oleh British North Borneo Company. Kedua wilayah tersebut memiliki penduduk yang terdiri atas berbagai suku, seperti Dayak, Kadazan-Dusun, Iban, Melayu, Tionghoa, dan kelompok etnis lainnya.

Gagasan Pembentukan Malaysia

Pada tahun 1961, Perdana Menteri Malaya, Tunku Abdul Rahman, mengusulkan pembentukan sebuah federasi baru yang menggabungkan Persekutuan Tanah Melayu, Singapura, Sabah, Sarawak, dan Brunei. Tujuannya antara lain mempercepat proses dekolonisasi wilayah-wilayah Inggris di Asia Tenggara serta menciptakan stabilitas politik dan keamanan kawasan.

Usulan tersebut kemudian mendapat perhatian dari pemerintah Inggris dan berbagai pihak yang berkepentingan terhadap masa depan wilayah Kalimantan Utara.

Komisi Cobbold

Untuk mengetahui pandangan masyarakat Sabah dan Sarawak, dibentuk Komisi Cobbold pada tahun 1962. Komisi ini bertugas melakukan konsultasi dengan berbagai kelompok masyarakat, tokoh adat, organisasi politik, dan pemimpin lokal.

Hasil laporan Komisi Cobbold menunjukkan bahwa terdapat dukungan yang cukup besar terhadap pembentukan Malaysia, meskipun sebagian masyarakat menginginkan berbagai jaminan, seperti perlindungan hak-hak penduduk asli, kebebasan beragama, kewenangan pemerintahan daerah, serta pengaturan khusus mengenai imigrasi dan administrasi.

Rekomendasi inilah yang kemudian menjadi dasar bagi proses pembentukan Federasi Malaysia.

Resmi Bergabung pada Tahun 1963

Setelah melalui berbagai pembahasan dan kesepakatan, pada 16 September 1963 Federasi Malaysia resmi dibentuk. Negara baru tersebut terdiri atas:

  • Persekutuan Tanah Melayu
  • Sabah
  • Sarawak
  • Singapura

Brunei yang sebelumnya juga direncanakan bergabung akhirnya memilih tetap berada di bawah perlindungan Inggris dan kemudian menjadi negara merdeka pada tahun 1984.

Dua tahun setelah pembentukan Malaysia, Singapura memisahkan diri dan menjadi negara merdeka pada tahun 1965.

Reaksi Indonesia dan Filipina

Pembentukan Federasi Malaysia tidak diterima oleh semua negara di kawasan. Indonesia di bawah Presiden Soekarno menilai pembentukan Malaysia sebagai bagian dari kepentingan kolonial Inggris. Hal tersebut memicu Konfrontasi Indonesia-Malaysia yang berlangsung antara tahun 1963 hingga 1966, terutama di wilayah perbatasan Kalimantan.

Sementara itu, Filipina mengajukan klaim historis atas Sabah berdasarkan hubungan Kesultanan Sulu dengan wilayah tersebut. Hingga kini, isu Sabah masih menjadi salah satu persoalan yang sesekali muncul dalam hubungan Malaysia dan Filipina.

Sabah dan Sarawak Saat Ini

Saat ini Sabah dan Sarawak merupakan dua negara bagian terbesar di Malaysia berdasarkan luas wilayah. Keduanya memiliki tingkat otonomi yang lebih luas dibandingkan sebagian besar negara bagian lain, termasuk dalam beberapa aspek administrasi, keimigrasian, dan pengelolaan sumber daya.

Selain dikenal karena kekayaan minyak dan gas bumi, Sabah dan Sarawak juga memiliki hutan hujan tropis, keanekaragaman hayati, serta budaya masyarakat adat yang menjadi bagian penting dari identitas Malaysia.

Kesimpulan

Proses bergabungnya Sabah dan Sarawak ke dalam Federasi Malaysia merupakan hasil dari dinamika politik internasional, proses dekolonisasi Inggris, serta konsultasi dengan masyarakat setempat melalui Komisi Cobbold. Peristiwa yang terjadi pada 16 September 1963 tersebut tidak hanya mengubah peta politik Pulau Kalimantan, tetapi juga membentuk wajah Asia Tenggara modern. Hingga kini, sejarah bergabungnya Sabah dan Sarawak tetap menjadi salah satu topik penting dalam kajian sejarah dan hubungan internasional di kawasan Asia Tenggara.

Tinggalkan komentar