Terpilihnya KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2026–2031 membawa kembali perhatian publik pada keluarga besar Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari. Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, itu bukan hanya dikenal sebagai tokoh pesantren dan organisatoris NU, tetapi juga memiliki garis keturunan langsung dari pendiri Nahdlatul Ulama tersebut.
Menariknya, di Jawa Barat terdapat sosok lain yang juga memiliki garis keturunan KH Hasyim Asy’ari, tetapi menempuh jalan pengabdian yang berbeda. Ia adalah Ir. H. Abdul Hadi Wijaya, M.Sc., yang lebih dikenal sebagai Gus Ahad, politikus yang berkiprah melalui Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Jawa Barat.
Dua tokoh ini sama-sama berasal dari garis keluarga Hasyim Asy’ari, tetapi kemudian tumbuh dalam lingkungan, pilihan perjuangan, dan ruang pengabdian yang berbeda. Gus Kikin berada di jalur pesantren dan NU, sedangkan Abdul Hadi Wijaya menempuh jalan pendidikan, profesionalisme, dan politik melalui PKS.
Garis Keluarga yang Bertemu pada Nyai Khairiyah Hasyim
Untuk memahami hubungan genealogis keduanya, titik pentingnya adalah Nyai Khairiyah Hasyim, putri sulung KH Hasyim Asy’ari.
Baca Juga :
- Ahmad Heryawan Diusulkan Masuk Kabinet, Apa Alasan Tokoh Jawa Barat Mendorong Aher?
- Sebelum Gontor Berdiri, Ada Seorang Ibu: Kisah Nyai Sudarmi dan Tiga Putranya
Gus Kikin merupakan putra KH Mahfudz Anwar dan Nyai Hj Abidah Ma’shum. Dari garis ibunya, Gus Kikin merupakan keturunan Nyai Khairiyah Hasyim. Nyai Abidah Ma’shum merupakan putri KH Ma’shum Ali dan Nyai Khairiyah Hasyim. Dengan demikian, garis keturunan Gus Kikin tersambung kepada KH Hasyim Asy’ari melalui jalur Nyai Khairiyah. NU Online dan sejumlah sumber resmi lainnya menyebut Gus Kikin sebagai cicit KH Hasyim Asy’ari.
Sementara itu, Abdul Hadi Wijaya juga menjelaskan bahwa dirinya merupakan keturunan KH Hasyim Asy’ari melalui putri sulung beliau, Nyai Khairiyah Hasyim. Dalam profil yang diterbitkan PKS, Abdul Hadi menyebut Nyai Khairiyah sebagai leluhurnya dan menyatakan bahwa dirinya merupakan keturunan kelima Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari.
Artinya, ketika membicarakan Gus Kikin dan Gus Ahad, terdapat satu titik genealogis yang sama: garis keturunan Nyai Khairiyah Hasyim.
Namun, silsilah keluarga besar Bani Hasyim memiliki banyak cabang dan nama yang sama. Karena itu, hubungan keduanya lebih tepat disebut sebagai sama-sama keturunan KH Hasyim Asy’ari melalui garis Nyai Khairiyah, tanpa terburu-buru menyebut keduanya sebagai saudara sepupu atau hubungan kekerabatan tertentu sebelum seluruh mata rantai silsilah diverifikasi secara genealogis.
Gus Kikin: Dari Tebuireng ke Puncak PBNU
Gus Kikin memiliki kedekatan yang sangat kuat dengan tradisi pesantren. Ia lahir di Jombang pada 17 Agustus 1959 dan merupakan putra KH Mahfudz Anwar dan Nyai Hj Abidah Ma’shum.
Perjalanan hidupnya juga tidak sepenuhnya berada di jalur pesantren. Ia pernah menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran Jakarta dan bahkan menjalani karier profesional di dunia pelayaran. Setelah itu, ia mengembangkan usaha di bidang shipping dan logistik.
Namun, perjalanan tersebut akhirnya membawanya kembali ke lingkungan pesantren dan NU.
Gus Kikin dipercaya menjadi salah satu pengurus PBNU pada periode sebelumnya, kemudian menjadi Ketua PWNU Jawa Timur. Ia juga dipercaya meneruskan kepemimpinan di Pondok Pesantren Tebuireng setelah era KH Salahuddin Wahid atau Gus Sholah.
Kini, perjalanan tersebut mencapai titik penting. Dalam Muktamar ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Gus Kikin terpilih sebagai Ketua Umum PBNU masa khidmah 2026–2031 melalui mekanisme Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA).
Sebelum keputusan AHWA, Gus Kikin memperoleh suara tertinggi dalam proses penjaringan kandidat Ketua Umum, dengan 472 suara. Sembilan anggota AHWA kemudian bermusyawarah dan menetapkannya sebagai Ketua Umum PBNU.
Dengan posisi tersebut, Gus Kikin kini berada di salah satu titik kepemimpinan tertinggi dalam organisasi yang didirikan oleh leluhurnya, KH Hasyim Asy’ari.
Abdul Hadi Wijaya: Keturunan Hasyim Asy’ari di Jalur Politik
Berbeda dengan Gus Kikin, Abdul Hadi Wijaya atau Gus Ahad menempuh perjalanan melalui dunia pendidikan, profesional, dan politik.
Abdul Hadi Wijaya lahir pada 25 November 1967. Ia dikenal sebagai akademisi dan politisi yang berkiprah di Jawa Barat. Namanya cukup lama berada dalam struktur politik PKS Jawa Barat dan pernah menjadi anggota DPRD Jawa Barat.
PKS sendiri pernah secara resmi memuat profil Abdul Hadi sebagai keturunan KH Hasyim Asy’ari. Dalam penjelasannya, Abdul Hadi menerangkan bahwa garis keturunannya berasal dari Nyai Khairiyah Hasyim, putri sulung KH Hasyim Asy’ari.
Di sinilah kisah dua tokoh tersebut menjadi menarik.
Jika Gus Kikin kemudian tumbuh dalam lingkungan Tebuireng dan NU hingga akhirnya dipercaya menjadi Ketua Umum PBNU, Abdul Hadi justru memilih ruang pengabdian melalui politik praktis bersama PKS.
Keduanya menunjukkan bahwa garis keturunan keluarga besar ulama tidak selalu menghasilkan pilihan jalan yang sama.
Satu Leluhur, Dua Ruang Pengabdian
Gus Kikin dan Abdul Hadi Wijaya pada akhirnya menjadi gambaran menarik mengenai bagaimana sebuah keluarga besar dapat melahirkan tokoh dengan orientasi pengabdian yang berbeda.
Gus Kikin meneruskan tradisi pesantren dan organisasi yang sangat dekat dengan sejarah keluarganya. Ia mengasuh Tebuireng dan kini memimpin PBNU, organisasi yang didirikan oleh KH Hasyim Asy’ari.
Sementara Abdul Hadi Wijaya mengambil jalur politik. Ia memilih PKS sebagai kendaraan perjuangannya dan membangun karier politik di Jawa Barat.
Perbedaan tersebut tidak serta-merta menghapus kesamaan akar genealogis. Justru di situlah menariknya sejarah keluarga besar ulama Indonesia.
Satu cabang keluarga dapat melahirkan seseorang yang mengabdikan diri melalui pesantren dan organisasi keagamaan, sementara cabang lainnya memilih pendidikan, parlemen, dan politik sebagai ruang perjuangan.
Fenomena semacam ini sebenarnya bukan sesuatu yang aneh dalam sejarah keluarga pesantren. Tradisi keluarga kiai tidak selalu membentuk satu pola kehidupan yang seragam. Sebagian meneruskan pesantren, sebagian menjadi akademisi, pengusaha, birokrat, aktivis, bahkan politisi.
Dari Hasyim Asy’ari ke Generasi yang Berbeda
KH Hasyim Asy’ari mendirikan Nahdlatul Ulama pada 1926 bersama sejumlah ulama lainnya. Hampir satu abad kemudian, keturunannya muncul dalam berbagai ruang kehidupan masyarakat Indonesia.
Gus Kikin menjadi contoh bagaimana garis keluarga tersebut tetap berlanjut dalam tradisi pesantren dan NU. Sementara Abdul Hadi Wijaya menjadi contoh bagaimana keturunan yang sama dapat mengambil jalan berbeda melalui pendidikan dan politik.
Karena itu, kisah keduanya bukan semata-mata soal hubungan darah. Ada cerita lebih besar mengenai bagaimana warisan keluarga ulama diterjemahkan oleh generasi yang berbeda.
Gus Kikin membawa garis keluarga Hasyim Asy’ari ke puncak kepemimpinan PBNU. Abdul Hadi Wijaya membawa garis keluarga yang sama ke ruang politik Jawa Barat.
Satu darah tidak selalu berarti satu jalan.
Tetapi dari jalan yang berbeda itu, keduanya tetap memiliki satu titik sejarah yang sama: KH Hasyim Asy’ari dan Nyai Khairiyah Hasyim.
Dan ketika Gus Kikin kini dipercaya memimpin PBNU periode 2026–2031, kisah tersebut menjadi semakin menarik. Sebab, hampir seratus tahun setelah lahirnya NU, salah satu keturunan Hasyim Asy’ari kembali berada di pucuk kepemimpinan organisasi yang diwariskan dari generasi pendirinya.