Sebelum Gontor Berdiri, Ada Seorang Ibu: Kisah Nyai Sudarmi dan Tiga Putranya

Jauh sebelum Pondok Modern Darussalam Gontor dikenal sebagai salah satu lembaga pendidikan Islam penting di Indonesia, ada sebuah keluarga di Desa Gontor, Ponorogo, yang sedang menghadapi masa sulit.

Sang ayah, Kiai Santoso Anom Besari, merupakan pemimpin generasi ketiga Pondok Gontor Lama. Namun setelah beliau wafat, pesantren tersebut mengalami kemunduran dan akhirnya tidak lagi berjalan sebagaimana sebelumnya. Di tengah keadaan itu, istrinya, Rr. Sudarmi atau yang kemudian dikenal sebagai Nyai Sudarmi Santoso, harus membesarkan anak-anaknya.

Dari tujuh anak yang dilahirkan pasangan Kiai Santoso Anom Besari dan Nyai Sudarmi, tiga putra kelak mengubah sejarah Gontor: KH Ahmad Sahal, KH Zainuddin Fananie, dan KH Imam Zarkasyi. Ketiganya kemudian dikenal sebagai Trimurti, tiga pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor.

Namun, sebelum ketiganya menjadi tokoh besar, ada seorang ibu yang terlebih dahulu menanamkan keyakinan bahwa ilmu harus menjadi jalan hidup anak-anaknya.

Nyai Sudarmi, Perempuan di Balik Kebangkitan Gontor

Nyai Sudarmi merupakan keturunan Rr. Surodiningrat, Bupati Madiun. Sementara suaminya, Kiai Santoso Anom Besari, berasal dari lingkungan keluarga pesantren yang memiliki hubungan dengan Kesepuhan Cirebon.

Pasangan tersebut dikaruniai tujuh anak. Imam Zarkasyi, yang kelak menjadi salah satu pendiri Gontor, merupakan anak bungsu. Dalam sejumlah kajian mengenai kehidupan Imam Zarkasyi, Nyai Sudarmi digambarkan sebagai perempuan yang tegas, cekatan dan mampu mengurus berbagai pekerjaan keluarga.

Kehidupan keluarga itu berubah setelah Kiai Santoso Anom Besari wafat ketika anak-anak mereka masih kecil. Bahkan menurut buku yang diterbitkan Universitas Darussalam Gontor, ketika ibunya kemudian wafat pada 1917, Ahmad Sahal baru berusia sekitar 16 tahun, Zainuddin Fananie 12 tahun, dan Imam Zarkasyi baru berusia tujuh tahun. Ketiganya pun menjadi yatim piatu dalam usia yang masih sangat muda.

Di sinilah perjuangan Nyai Sudarmi menjadi penting.

Pesantren Gontor Lama sedang mengalami kemunduran, tetapi cita-cita pendidikan keluarga itu tidak berhenti begitu saja.

Tiga Anak Laki-Laki yang Dipersiapkan untuk Masa Depan

Nyai Sudarmi mempunyai tiga putra yang kemudian menjadi tokoh utama dalam sejarah Gontor.

Anak tertuanya di antara ketiganya adalah KH Ahmad Sahal, lahir di Gontor pada 22 Mei 1901. Setelah menempuh pendidikan dasar, Ahmad Sahal belajar di sejumlah pesantren, antara lain Kauman, Joresan dan Durisawo di Ponorogo. Ia kemudian memperluas pendidikannya ke berbagai pesantren lainnya.

Adiknya, KH Zainuddin Fananie, juga diarahkan untuk memperoleh pengalaman pendidikan yang berbeda. Sementara KH Imam Zarkasyi, yang lahir pada 21 Maret 1910, kemudian menempuh pendidikan formal dan pesantren. Ia belajar di sekolah umum sekaligus mengaji di pesantren, sebelum melanjutkan perjalanan intelektualnya ke Solo.

Pola pendidikan ketiga bersaudara itu kemudian menjadi salah satu fondasi penting pemikiran mereka.

Mereka tidak hanya mengenal pendidikan pesantren tradisional. Mereka juga bersentuhan dengan sistem pendidikan modern.

Semua itu tidak terjadi secara kebetulan.

Sumber-sumber sejarah Gontor menyebut bahwa Nyai Sudarmi memiliki tekad agar ketiga putranya memperoleh ilmu yang cukup sehingga suatu hari dapat menghidupkan kembali Gontor Lama yang telah mati.

Dengan kata lain, sebelum Trimurti membangun Gontor baru, Nyai Sudarmi terlebih dahulu membangun manusianya.

Kisah Tiga Anak Ayam

Ada satu kisah yang kemudian diwariskan dalam literatur mengenai keluarga Trimurti.

Dalam kisah tersebut, ketika Gontor sedang mengalami kemunduran, Nyai Sudarmi pernah bermimpi melihat seekor ayam betina bersama tiga anak ayam di dalam masjid pesantren. Dalam mimpi itu, seseorang berpesan kepadanya agar ketiga anak ayam tersebut dijaga dan dipelihara.

Nyai Sudarmi kemudian mengaitkan tiga anak ayam tersebut dengan tiga putranya: Ahmad Sahal, Zainuddin Fananie dan Imam Zarkasyi.

Kisah ini dicatat dalam sejumlah literatur biografi Imam Zarkasyi. Setelah pengalaman tersebut, Nyai Sudarmi semakin bersungguh-sungguh mendidik ketiga putranya, disertai doa, tirakat, puasa Senin-Kamis dan zikir.

Kisah mimpi tersebut sebaiknya dipahami sebagai bagian dari tradisi cerita keluarga dan literatur tentang Trimurti, bukan sebagai fakta sejarah yang dapat dibuktikan secara independen.

Tetapi pesan di balik kisah itu sangat jelas: bagi Nyai Sudarmi, ketiga putranya adalah amanah yang harus dijaga dan dipersiapkan untuk meneruskan perjuangan keluarga.

“Lebih Baik Mempunyai Ilmu”

Ada pula pesan yang sering dikaitkan dengan pendidikan Nyai Sudarmi kepada anak-anaknya: lebih baik memiliki ilmu daripada sekadar memiliki harta.

Pesan seperti itu menjadi sangat berarti jika melihat perjalanan ketiga putranya di kemudian hari.

Mereka tidak memilih jalan hidup untuk mengumpulkan kekayaan pribadi. Mereka justru mengabdikan ilmu dan kehidupannya untuk pendidikan.

Bahkan setelah Nyai Sudarmi wafat, ketujuh anaknya bermusyawarah mengenai harta peninggalan keluarga. Dalam sejumlah kajian disebutkan bahwa harta tersebut kemudian diarahkan untuk mendukung pendidikan Ahmad Sahal, Zainuddin Fananie dan Imam Zarkasyi demi memenuhi harapan ibunya agar putra-putranya menjadi orang alim dan saleh.

Dengan demikian, pendidikan bagi keluarga ini bukan sekadar aktivitas sekolah atau pesantren.

Pendidikan merupakan amanah keluarga.

Restu dari Generasi Tua

Ada pula kisah menarik ketika Nyai Sudarmi bersama ketiga putranya dipanggil oleh Raden Imam Anompuro, penghulu di Ponorogo.

Ketiga anak tersebut kemudian diuji secara bergantian dengan bacaan-bacaan agama. Setelah itu, Raden Imam Anompuro memberikan ucapan kepada Nyai Sudarmi yang dalam literatur diterjemahkan sebagai bentuk penerimaan atau restu.

Peristiwa tersebut kemudian dipahami sebagai simbol bahwa perjuangan keluarga Gontor akan diteruskan oleh generasi muda.

Bagi ketiga anak tersebut, perjalanan masih panjang.

Mereka harus belajar.

Mereka harus meninggalkan kampung halaman untuk mencari ilmu.

Dan mereka harus melihat dunia pendidikan dari berbagai sisi.

Nyai Sudarmi Tidak Sempat Melihat Gontor Bangkit

Bagian paling mengharukan dari kisah ini justru terletak pada satu kenyataan: Nyai Sudarmi tidak sempat menyaksikan Gontor bangkit kembali.

Menurut sumber resmi Universitas Darussalam Gontor, Nyai R. Soedarmi wafat pada 1917, ketika ketiga putranya masih sangat muda.

Pada saat itu, Ahmad Sahal baru berusia sekitar 16 tahun, Zainuddin Fananie 12 tahun, sedangkan Imam Zarkasyi baru tujuh tahun.

Belum ada Pondok Modern Darussalam Gontor.

Belum ada ribuan santri.

Belum ada sistem pendidikan modern yang kelak dikenal luas.

Yang ada hanyalah tiga anak laki-laki yang sedang menempuh pendidikan dan sebuah cita-cita keluarga yang belum terwujud.

Nyai Sudarmi pergi sebelum melihat buah dari perjuangannya.

Namun cita-citanya tidak ikut terkubur.

Dari Tiga Putra Menjadi Trimurti

Setelah bertahun-tahun menempuh pendidikan di berbagai lembaga, ketiga bersaudara itu akhirnya kembali ke Gontor.

Pada 20 September 1926 atau 12 Rabiul Awwal 1345 H, mereka memulai kembali perjuangan pendidikan di Gontor. Ketiganya kemudian dikenal sebagai KH Ahmad Sahal, KH Zainuddin Fananie dan KH Imam Zarkasyi atau Trimurti pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor.

Ahmad Sahal sebagai kakak tertua menjadi salah satu penggerak awal pendidikan di Gontor. Zainuddin Fananie membawa pengalaman pendidikan yang berbeda, sedangkan Imam Zarkasyi kemudian memberikan kontribusi besar dalam pengembangan sistem pendidikan modern Gontor.

Dari sinilah Gontor berkembang menjadi lembaga pendidikan yang pengaruhnya melampaui Ponorogo.

Tetapi di balik nama besar Trimurti, ada cerita yang sering kali tidak mendapat porsi sebesar kisah ketiga pendirinya.

Cerita tentang seorang ibu.

Gontor dan Warisan Seorang Ibu

Sejarah sering kali mengingat nama orang-orang yang berdiri di atas panggung.

Namun di balik mereka biasanya ada orang-orang yang bekerja jauh dari sorotan.

Dalam kisah Gontor, salah satu sosok tersebut adalah Nyai Sudarmi.

Ia kehilangan suami ketika anak-anaknya masih kecil. Ia menghadapi kemunduran pesantren keluarga. Ia membesarkan tujuh anak. Ia memastikan tiga putranya memperoleh pendidikan. Dan ia menanamkan keyakinan bahwa ilmu jauh lebih berharga daripada harta.

Ia memang tidak melihat Gontor bangkit pada 1926.

Tetapi tiga anak yang ia persiapkanlah yang kemudian menghidupkannya.

Karena itu, ketika sejarah Pondok Modern Darussalam Gontor berbicara tentang KH Ahmad Sahal, KH Zainuddin Fananie dan KH Imam Zarkasyi sebagai Trimurti, ada satu nama yang layak ditempatkan jauh sebelum nama-nama tersebut:

Nyai Sudarmi.

Sebab sebelum tiga bersaudara itu menjadi pendiri Gontor, mereka terlebih dahulu merupakan tiga anak yang dibesarkan oleh seorang ibu yang percaya bahwa masa depan keluarganya harus dibangun melalui ilmu.

Dan mungkin, di situlah salah satu pelajaran terbesar dari sejarah Gontor: sebuah lembaga pendidikan yang bertahan hingga lintas generasi terkadang bermula bukan dari bangunan besar, bukan dari modal yang melimpah, tetapi dari keyakinan seorang ibu terhadap masa depan anak-anaknya.

Satu pemikiran pada “Sebelum Gontor Berdiri, Ada Seorang Ibu: Kisah Nyai Sudarmi dan Tiga Putranya”

Tinggalkan komentar