Keputusan Islam Makhachev naik dari lightweight ke welterweight menjadi salah satu langkah paling menarik dalam perjalanan kariernya di UFC. Banyak yang melihat keputusan tersebut semata-mata sebagai ambisi untuk menjadi juara dua divisi. Namun jika melihat perjalanan Makhachev sejak mempertahankan sabuk lightweight, ada alasan yang jauh lebih besar di balik kepindahan tersebut.
Makhachev sebenarnya sudah berada di posisi yang sangat nyaman di kelas 155 pound. Ia merebut gelar lightweight dari Charles Oliveira pada UFC 280 pada Oktober 2022 dan kemudian mempertahankannya empat kali. Ia mengalahkan Alexander Volkanovski dua kali, Dustin Poirier, dan Renato Moicano. UFC mencatat Makhachev sebagai pemegang sejumlah rekor penting di lightweight, termasuk empat pertahanan gelar beruntun.
Dengan pencapaian tersebut, pertanyaannya kemudian berubah: apa lagi yang harus dibuktikan Islam di lightweight?
Jawaban Makhachev sendiri cukup jelas. Ia menginginkan tantangan baru.
Lightweight Mulai Kehilangan Daya Tarik
Salah satu faktor yang mendorong Makhachev naik kelas adalah situasi di lightweight. Ia sebenarnya sempat menunggu pertarungan melawan Arman Tsarukyan. Pertarungan tersebut dianggap sebagai salah satu pertandingan paling logis karena Tsarukyan sedang membangun kemenangan beruntun dan dianggap sebagai salah satu penantang terkuat bagi sabuk Makhachev.
Namun ketika Tsarukyan mundur dari pertarungan, situasinya berubah.
Makhachev kemudian mengatakan bahwa ia tidak melihat pertarungan yang cukup menarik baginya di lightweight. Pada saat bersamaan, muncul juara baru di welterweight, Jack Della Maddalena.
Bagi Makhachev, nama Della Maddalena justru memberikan motivasi baru. Ia mengatakan pertarungan tersebut membuatnya kembali bersemangat untuk berlatih dan bangun pagi untuk menjalani persiapan.
Artinya, keputusan naik kelas bukan semata-mata karena tidak ada lawan di lightweight. Lebih tepatnya, Makhachev merasa tantangan terbesar berikutnya sudah berada di kelas 170 pound.
Ambisi Menjadi Juara Dua Divisi
Faktor berikutnya adalah legacy.
Makhachev sebelumnya sudah memberi sinyal bahwa setelah menyelesaikan urusannya di lightweight, ia menginginkan sabuk kedua. Bahkan sebelum benar-benar meninggalkan lightweight, ia pernah mengatakan bahwa dirinya membutuhkan sabuk kedua dan melihat welterweight sebagai tujuan berikutnya.
Ini penting karena dalam olahraga seperti UFC, status juara satu divisi memang sudah luar biasa. Tetapi menjadi juara di dua kelas memberikan dimensi berbeda terhadap warisan seorang petarung.
Jika Makhachev tetap di lightweight, ia mungkin bisa mempertahankan sabuk beberapa kali lagi. Namun narasinya akan tetap berkisar pada seberapa lama ia mampu mendominasi kelas 155 pound.
Dengan naik ke welterweight, risikonya jauh lebih besar, tetapi hadiahnya juga jauh lebih besar.
Ia bisa mengubah statusnya dari sekadar salah satu lightweight terbaik menjadi juara UFC di dua kelas berbeda.
Dan itulah yang akhirnya terjadi.
Mengapa Welterweight?
Pilihan welterweight juga cukup masuk akal secara kompetitif.
Kelas 170 pound memiliki banyak petarung elite dengan gaya berbeda. Setelah Jack Della Maddalena merebut sabuk dari Belal Muhammad pada UFC 315, muncul peluang yang sangat menarik bagi Makhachev. UFC kemudian secara resmi mengumumkan pertarungan Della Maddalena melawan Makhachev untuk perebutan gelar welterweight di UFC 322.
Tentu ada pertanyaan besar: apakah kemampuan grappling dan wrestling Makhachev yang sangat dominan di lightweight bisa dibawa ke kelas yang lebih besar?
Pertanyaan itu akhirnya terjawab di atas octagon.
Pada UFC 322, Makhachev mendominasi Della Maddalena selama lima ronde dan menang mutlak dengan skor 50-45 dari seluruh juri. Ia pun menjadi juara UFC di dua kelas dan tercatat sebagai petarung ke-11 dalam sejarah UFC yang memegang gelar di dua divisi.
Yang menarik, perpindahan kelas tersebut ternyata tidak membuat gaya bertarung Makhachev kehilangan efektivitasnya. Justru ia mampu membawa tekanan wrestling dan kontrol grappling-nya ke level 170 pound.
Risiko Tetap Ada
Namun naik kelas bukan keputusan tanpa risiko.
Petarung welterweight secara alami lebih besar dan lebih kuat. Lawan-lawan Makhachev di 170 pound juga memiliki kemampuan striking dan fisik yang berbeda dibandingkan mayoritas lawannya di lightweight.
Karena itu, keputusan Makhachev sebenarnya cukup berani.
Ia meninggalkan zona nyaman ketika masih menjadi penguasa lightweight dan memilih menghadapi petarung yang secara ukuran tubuh lebih besar.
Tetapi justru di sinilah menariknya.
Makhachev tidak naik kelas karena kalah atau terdesak dari lightweight. Ia naik ketika masih berada di puncak.
Itu membuat keputusan tersebut terlihat lebih seperti ekspansi karier daripada pelarian dari sebuah divisi.
Dari Dominasi Menuju Legacy
Kalau melihat seluruh perjalanan tersebut, alasan Makhachev naik ke welterweight bisa dirangkum menjadi tiga hal: tantangan, motivasi, dan legacy.
Ia sudah memenangkan pertarungan-pertarungan penting di lightweight. Ia sudah mempertahankan sabuk berkali-kali. Ketika pertarungan melawan Tsarukyan tidak terjadi dan muncul juara baru di welterweight, Makhachev melihat kesempatan untuk membuka babak baru.
Dan ternyata keputusan itu berhasil.
Setelah merebut gelar welterweight dari Della Maddalena pada November 2025, Makhachev kemudian mempertahankan sabuk tersebut dengan kemenangan atas Ian Machado Garry pada UFC 330 pada Agustus 2026.
Kini pertanyaannya bukan lagi apakah Islam Makhachev mampu bertarung di welterweight.
Pertanyaannya sudah berubah menjadi:
Seberapa jauh dominasi Makhachev bisa berlanjut di 170 pound?
Karena jika ia mampu mempertahankan gelar welterweight beberapa kali lagi, pembicaraan mengenai dirinya tidak lagi sebatas siapa lightweight terbaik sepanjang masa.
Pembicaraannya bisa naik ke level yang jauh lebih besar:
Apakah Islam Makhachev sedang membangun salah satu warisan terbesar dalam sejarah UFC?