Nama KH Abdul Hakim Mahfudz atau yang akrab disapa Gus Kikin semakin berada di pusat perhatian Nahdlatul Ulama. Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, tersebut muncul sebagai salah satu figur penting dalam perjalanan menuju kepemimpinan PBNU.
Namun, perjalanan Gus Kikin menuju panggung nasional NU tidak bisa dilepaskan dari Tebuireng. Pesantren yang didirikan oleh Hadratussyaikh KH M Hasyim Asy’ari itu bukan sekadar tempat Gus Kikin menjalankan amanah kepengasuhan, tetapi juga merupakan bagian dari sejarah panjang keluarganya.
Ada satu hal menarik yang membuat sosok Gus Kikin memiliki ikatan genealogis dengan pendiri NU. Ia merupakan keturunan KH Hasyim Asy’ari dari jalur ibu.
Baca Juga :
- Satu Darah, Dua Jalan: Gus Kikin Pimpin PBNU, Abdul Hadi Wijaya Berkiprah di PKS
- Mengapa Ijazah SMA Gibran Kembali Dipersoalkan? Ini Dokumen yang Dipertanyakan Denny Indrayana
Gus Kikin lahir pada 17 Agustus 1958 dari pasangan KH Mahfudz Anwar dan Nyai Hj. Abidah Ma’shum. Dari garis ibunya, nasab Gus Kikin tersambung kepada Nyai Hj. Khoiriyah Hasyim, putri sulung KH M Hasyim Asy’ari. Nyai Khoiriyah merupakan bagian penting dari keluarga besar Tebuireng dan menikah dengan KH Ma’shum Ali, ulama yang dikenal sebagai ahli falak sekaligus pengarang kitab Amtsilah Tasrifiyah.
Dengan demikian, hubungan Gus Kikin dengan KH Hasyim Asy’ari bukan sekadar hubungan historis karena sama-sama berada di lingkungan Tebuireng. Ada hubungan darah yang menghubungkan keduanya melalui garis keturunan Nyai Khoiriyah Hasyim.
Di sinilah perjalanan Gus Kikin menjadi menarik. Ia bukan hanya meneruskan tradisi kepemimpinan pesantren, tetapi juga berada dalam mata rantai keluarga besar yang sejak awal memiliki peran penting dalam perkembangan Tebuireng dan NU.
Dari Tebuireng ke PWNU Jawa Timur
Sebelum namanya masuk dalam percaturan kepemimpinan PBNU, Gus Kikin telah memiliki pengalaman panjang dalam organisasi dan pesantren.
Pada 2016, ia mendapat amanah sebagai Wakil Pengasuh Pesantren Tebuireng. Setelah KH Salahuddin Wahid atau Gus Sholah wafat, Gus Kikin kemudian dipercaya meneruskan kepemimpinan pesantren tersebut.
Di organisasi NU, kiprahnya juga semakin menonjol. Pada 2024, PBNU menunjuk Gus Kikin sebagai penjabat Ketua PWNU Jawa Timur. Setelah itu ia terpilih secara definitif sebagai Ketua PWNU Jawa Timur.
Posisi tersebut membuat Gus Kikin tidak hanya dikenal sebagai pengasuh pesantren, tetapi juga sebagai salah satu tokoh yang memiliki pengalaman mengelola organisasi NU di tingkat wilayah.
Ketika Muktamar ke-35 NU mulai memasuki fase politik organisasi, nama Gus Kikin kemudian semakin kuat disebut sebagai kandidat Ketua Umum PBNU.
Menariknya, Gus Kikin sejak awal tidak menampilkan ambisi terbuka untuk mengejar jabatan tersebut. Ia menyatakan siap apabila diberi amanah, tetapi juga siap apabila tidak dipilih.
Sikap tersebut menjadi salah satu karakter yang melekat dalam pencalonannya. Pada April 2026, Gus Kikin menyatakan kesediaannya apabila mendapat dorongan untuk maju, sembari menekankan pentingnya mengembalikan NU kepada semangat persatuan dan Qonun Asasi.
Nasab, Pesantren dan Pengalaman Organisasi
Kekuatan Gus Kikin berada pada pertemuan tiga unsur sekaligus: pesantren, nasab dan pengalaman organisasi.
Dari sisi pesantren, ia merupakan pengasuh Tebuireng, salah satu pesantren paling berpengaruh dalam sejarah NU.
Dari sisi nasab, ia memiliki hubungan keluarga dengan KH Hasyim Asy’ari melalui jalur Nyai Khoiriyah Hasyim.
Sementara dari sisi organisasi, pengalaman sebagai Ketua PWNU Jawa Timur memberinya pengalaman langsung dalam mengelola struktur NU di salah satu wilayah dengan basis Nahdliyin terbesar di Indonesia.
Kombinasi inilah yang kemudian membuat Gus Kikin dipandang sebagai figur yang memiliki “modal lengkap” untuk memasuki panggung kepemimpinan PBNU.
Namun, nasab tentu bukan satu-satunya alasan. Dalam tradisi NU, garis keturunan dari ulama besar memang memiliki nilai historis dan simbolis, tetapi legitimasi kepemimpinan tetap sangat bergantung pada kemampuan, pengalaman, integritas dan penerimaan para pemilik suara dalam forum Muktamar.
Karena itu, perjalanan Gus Kikin menuju kepemimpinan PBNU sebenarnya bukan sekadar kisah seorang keturunan pendiri NU yang kembali ke panggung organisasi.
Ini adalah kisah tentang bagaimana sebuah mata rantai sejarah Tebuireng terus bergerak dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Dari KH Hasyim Asy’ari yang mendirikan Tebuireng dan NU, kemudian berlanjut melalui keturunannya, hingga Gus Kikin yang kini dipercaya memikul tanggung jawab besar di lingkungan pesantren dan organisasi NU.
Jika pada akhirnya Gus Kikin benar-benar memimpin PBNU, maka perjalanan tersebut akan memiliki makna simbolik yang sangat kuat: seorang pengasuh Tebuireng, yang memiliki hubungan darah dengan pendiri NU, kembali membawa nama Tebuireng ke pusat kepemimpinan organisasi yang lahir dari rahim pesantren tersebut.