Kemenangan TKO Max Holloway atas Conor McGregor di UFC 329 menjadi salah satu hasil pertandingan yang paling menyita perhatian. Bukan semata karena Holloway berhasil menang, melainkan karena duel yang sangat dinantikan itu harus berakhir hanya dalam waktu sekitar satu menit akibat cedera lutut yang dialami McGregor setelah melakukan serangan agresif di awal ronde pertama.
Meski kemenangan tersebut tercatat sebagai TKO untuk Holloway, banyak penggemar justru kembali mengingat perkataan mantan juara UFC, Khabib Nurmagomedov. Selama beberapa tahun terakhir, Khabib berkali-kali menyampaikan pendapat bahwa Conor McGregor sudah tidak lagi berada di masa emasnya. Menurutnya, petarung asal Irlandia itu telah kehilangan ritme bertanding karena terlalu lama meninggalkan kompetisi dan lebih banyak disibukkan oleh aktivitas di luar oktagon.

Jika melihat perjalanan karier Conor, pendapat Khabib memang terasa semakin relevan. Pada periode 2015 hingga 2016, McGregor tampil luar biasa. Ia dikenal memiliki kecepatan tangan yang sulit ditandingi, akurasi pukulan kiri yang mematikan, serta kepercayaan diri yang mampu membuat lawan kehilangan mental bahkan sebelum pertandingan dimulai. Kemenangan atas José Aldo dalam 13 detik dan keberhasilannya menjadi juara dua divisi menjadi bukti bahwa Conor pernah berada di level yang sangat tinggi.
Namun olahraga bela diri terus berkembang. Seiring bertambahnya usia, cedera yang berulang, serta minimnya frekuensi bertanding, performa seorang atlet tentu akan mengalami perubahan. Sejak patah kaki pada 2021, perjalanan McGregor untuk kembali ke performa terbaiknya tidak pernah benar-benar mulus. Kini, dalam laga comeback melawan Holloway, ia kembali dihantam cedera yang membuat pertandingan harus dihentikan lebih awal.
Tentu saja, tidak adil jika menyimpulkan bahwa Holloway menang karena kemampuan Conor telah habis. Cedera bisa dialami siapa saja di dunia MMA. Bahkan Holloway sendiri menunjukkan sikap sportif dengan berharap McGregor segera pulih dan membuka peluang untuk bertemu kembali di masa depan.
Meski demikian, hasil ini seolah menguatkan pandangan Khabib bahwa “prime time” Conor McGregor mungkin memang telah berlalu. Di MMA modern, bakat saja tidak cukup. Konsistensi bertanding, kondisi fisik, disiplin latihan, dan kemampuan menjaga tubuh dari cedera menjadi faktor yang sama pentingnya.
Apakah Conor masih mampu kembali? Tentu peluang itu selalu ada. Dunia MMA telah berkali-kali menghadirkan kisah kebangkitan yang sulit dipercaya. Namun jika ingin kembali menjadi penantang gelar, McGregor harus membuktikannya di dalam oktagon, bukan hanya melalui konferensi pers atau media sosial.
Pada akhirnya, kemenangan Max Holloway bukan hanya menjadi catatan penting dalam kariernya, tetapi juga menjadi pengingat bahwa setiap petarung memiliki masanya. Dominasi tidak berlangsung selamanya, dan bahkan legenda sekalipun harus menghadapi kenyataan bahwa waktu adalah lawan yang tidak pernah bisa dikalahkan.