Makkah bukan hanya menjadi tujuan umat Islam untuk menunaikan ibadah haji dan umrah. Sejak lama, kota suci ini juga dikenal sebagai pusat lahirnya ulama-ulama besar yang kemudian memberi warna bagi perkembangan Islam di berbagai penjuru dunia, termasuk Indonesia. Di antara tokoh yang pernah menimba ilmu di Tanah Suci adalah KH Maimun Zubair dan KH Hilmi Aminuddin.
Meski keduanya berasal dari latar belakang yang berbeda dan kemudian berkiprah melalui jalur dakwah yang tidak sama, terdapat satu titik temu yang menarik, yaitu sama-sama pernah memperdalam ilmu agama di Makkah. Kesamaan perjalanan inilah yang menunjukkan betapa pentingnya Haramain sebagai pusat pembentukan intelektual ulama Indonesia lintas generasi.
Baca juga :
- Mengapa Akar Rumput PKS dan Muhammadiyah Sering Dianggap Memiliki Kedekatan? Sebuah Analisis
- Aplikasi Cek Bansos Kemensos: Fungsi, Cara Menggunakan, dan Bantuan yang Bisa Dicek
- Sejarah Berdirinya Nahdlatul Ulama: Lahir dari Semangat Menjaga Ajaran Islam dan Persatuan Umat
KH Maimun Zubair, yang akrab disapa Mbah Moen, lebih dahulu dikenal sebagai ulama pesantren yang memiliki pengaruh besar di lingkungan Nahdlatul Ulama. Setelah menimba ilmu dari ayahnya dan belajar di Pesantren Lirboyo, beliau melanjutkan perjalanan ilmiahnya ke Makkah sekitar tahun 1950. Selama berada di sana, beliau berguru kepada sejumlah ulama terkemuka, di antaranya Sayyid Alawi al-Maliki, Syekh Hasan al-Masysyath, Syekh Yasin al-Fadani, Sayyid Amin al-Quthbi, dan Syekh Abdul Qadir al-Mandili. Sepulang dari Makkah, Mbah Moen tetap melanjutkan belajar kepada sejumlah kiai di Indonesia sebelum akhirnya mengembangkan Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang yang melahirkan ribuan santri.
Sementara itu, KH Hilmi Aminuddin juga memiliki perjalanan akademik ke Tanah Suci. Pengalaman belajar di Makkah menjadi salah satu fase penting yang membentuk wawasan keislaman dan cara pandangnya terhadap dakwah. Sekembalinya ke Indonesia, beliau aktif dalam pembinaan umat, pendidikan kader, serta pengembangan gerakan dakwah yang kemudian dikenal luas melalui aktivitas tarbiyah. Pengalaman belajar di pusat keilmuan Islam tersebut menjadi salah satu fondasi penting dalam perjalanan dakwahnya.
Namun, penting dipahami bahwa kesamaan keduanya bukan berarti mereka belajar pada waktu yang sama atau memiliki hubungan guru-murid secara langsung. Hingga kini tidak terdapat bukti sejarah yang menunjukkan bahwa KH Maimun Zubair dan KH Hilmi Aminuddin pernah menjadi teman belajar di Makkah. Kesamaan yang dapat dipastikan adalah keduanya sama-sama menjadikan Tanah Suci sebagai tempat memperdalam ilmu agama sebelum kembali mengabdi kepada masyarakat Indonesia.
Fenomena ini sebenarnya bukan sesuatu yang unik. Sejak abad ke-19 hingga akhir abad ke-20, Makkah menjadi tempat bertemunya para pelajar Muslim dari berbagai daerah Nusantara. Mereka datang dari latar belakang organisasi, pesantren, dan tradisi yang berbeda, tetapi sama-sama belajar kepada para ulama Haramain. Setelah kembali ke tanah air, masing-masing mengembangkan dakwah sesuai karakter, kebutuhan masyarakat, dan lingkungan tempat mereka mengabdi.
Dari sinilah lahir keragaman wajah dakwah Islam Indonesia. Ada yang memilih mengembangkan pesantren, ada yang fokus pada pendidikan, ada pula yang bergerak melalui organisasi kemasyarakatan maupun pembinaan kader. Perbedaan metode tersebut tidak menghilangkan satu kesamaan mendasar, yaitu semangat menuntut ilmu kepada para ulama yang memiliki sanad keilmuan kuat.
Jejak keilmuan KH Maimun Zubair dan KH Hilmi Aminuddin mengingatkan bahwa perjalanan seorang ulama tidak hanya dibentuk oleh tempat kelahirannya, tetapi juga oleh tradisi ilmu yang diwariskan para guru. Makkah menjadi salah satu mata rantai penting yang mempertemukan banyak tokoh Islam Indonesia dengan khazanah keilmuan dunia Islam.
Pada akhirnya, kisah dua tokoh ini menunjukkan bahwa perbedaan jalan dakwah bukanlah penghalang untuk menghargai akar keilmuan yang sama. Semangat mencari ilmu hingga ke pusat-pusat peradaban Islam telah melahirkan kontribusi besar bagi perkembangan dakwah di Indonesia. Dari Haramain, mereka kembali membawa ilmu, lalu mengabdikan diri dengan cara masing-masing demi kemajuan umat dan bangsa.