Mengapa KH Maimun Zubair Tetap Dihormati Lintas Partai Meski Menjadi Tokoh PPP?

Nama KH Maimun Zubair, atau yang akrab disapa Mbah Moen, tidak hanya dikenal sebagai ulama kharismatik dan pengasuh Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang, Rembang. Beliau juga memiliki perjalanan panjang di dunia politik melalui Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Namun, menariknya, meskipun aktif di PPP, Mbah Moen tetap dihormati oleh tokoh-tokoh dari berbagai partai politik. Apa yang membuat beliau mampu melampaui sekat-sekat politik?

Kiprah Politik yang Berangkat dari Dakwah

Mbah Moen mulai terjun ke dunia politik pada awal 1970-an dengan menjadi anggota DPRD Kabupaten Rembang. Setelah itu, beliau dipercaya menjadi anggota MPR RI selama tiga periode dan memegang sejumlah posisi penting di PPP, termasuk Ketua Majelis Pertimbangan Partai dan kemudian Ketua Majelis Syariah PPP. Peran tersebut menunjukkan bahwa beliau bukan sekadar pendukung, melainkan salah satu tokoh yang memberikan arah moral bagi partai.

Namun, bagi Mbah Moen, politik bukanlah tujuan akhir. Politik dipandang sebagai salah satu sarana untuk memperjuangkan nilai-nilai Islam, keadilan, dan kemaslahatan umat. Pandangan inilah yang membuat beliau tetap menjaga jarak dari konflik politik praktis yang sering memecah belah.

Menjadi Ulama Sebelum Menjadi Politikus

Salah satu alasan mengapa Mbah Moen dihormati lintas partai adalah karena masyarakat lebih mengenalnya sebagai ulama daripada sebagai politikus. Aktivitas utamanya tetap mengajar kitab kuning, membina santri, serta memberikan nasihat keagamaan kepada masyarakat.

Keilmuan yang mendalam, kesederhanaan hidup, dan ketawadhuannya membuat banyak tokoh, baik dari kalangan NU, Muhammadiyah, partai politik, maupun pemerintahan, datang untuk meminta doa dan nasihat. Kharisma inilah yang menjadikan beliau dihormati oleh berbagai kalangan.

Menjaga Silaturahmi dengan Semua Pihak

Mbah Moen dikenal sebagai sosok yang terbuka terhadap siapa pun. Beliau menerima kunjungan berbagai tokoh bangsa tanpa memandang latar belakang politik. Sikap tersebut mencerminkan pandangan bahwa seorang ulama memiliki tanggung jawab membimbing umat secara luas, bukan hanya kelompok tertentu.

Dalam berbagai kesempatan, beliau lebih sering menyampaikan pesan tentang persatuan, akhlak, dan kepentingan bangsa dibandingkan membahas persaingan politik. Karena itu, kehadirannya diterima oleh banyak pihak sebagai penyejuk, bukan sebagai simbol perpecahan.

Politik sebagai Sarana Pengabdian

Banyak penelitian mengenai kiprah Mbah Moen menjelaskan bahwa beliau memandang politik sebagai bagian dari pengabdian kepada masyarakat. Kehadirannya di PPP bukan untuk mengejar kekuasaan, melainkan agar nilai-nilai agama tetap memiliki ruang dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Pendekatan tersebut membuat beliau mampu menjaga keseimbangan antara peran sebagai ulama dan sebagai tokoh politik.

Warisan Keteladanan

Hingga akhir hayatnya pada tahun 2019, Mbah Moen tetap dikenang sebagai ulama yang mampu menjadi jembatan di tengah perbedaan. Ketika berbagai tokoh nasional menyampaikan belasungkawa atas wafatnya, hal itu menunjukkan bahwa penghormatan kepada beliau melampaui batas organisasi maupun partai politik.

Warisan terbesar KH Maimun Zubair bukan semata-mata jabatan politik yang pernah diemban, melainkan keteladanan dalam menjaga ilmu, akhlak, persatuan, dan kebijaksanaan. Itulah sebabnya, meskipun dikenal sebagai tokoh PPP, nama Mbah Moen tetap dihormati oleh masyarakat dan tokoh dari berbagai latar belakang politik hingga saat ini.

Tinggalkan komentar