Nama Bogor tidak hanya dikenal sebagai Kota Hujan, tetapi juga sering dikaitkan dengan kejayaan Kerajaan Sunda Pajajaran. Banyak sejarawan meyakini bahwa wilayah Bogor merupakan lokasi Pakuan Pajajaran, ibu kota Kerajaan Sunda yang mencapai puncak kejayaannya pada masa Sri Baduga Maharaja, tokoh yang dalam tradisi masyarakat Sunda lebih dikenal sebagai Prabu Siliwangi. Namun, apa sebenarnya dasar keyakinan tersebut? Benarkah Bogor merupakan bekas ibu kota Pajajaran?
Bukti Terkuat Berasal dari Prasasti Batutulis
Salah satu alasan utama para sejarawan mengaitkan Bogor dengan Pakuan Pajajaran adalah keberadaan Prasasti Batutulis. Prasasti yang ditemukan di kawasan Batutulis, Kota Bogor, ini dibuat sekitar tahun 1533 M oleh Prabu Surawisesa, putra Sri Baduga Maharaja.
Isi prasasti tersebut merupakan penghormatan kepada Sri Baduga Maharaja atas jasa-jasanya membangun kerajaan, memperkuat benteng, membuat jalan, serta menjaga kemakmuran rakyat. Bagi para ahli sejarah, prasasti ini menjadi bukti penting bahwa kawasan Bogor memiliki hubungan erat dengan pusat pemerintahan Kerajaan Sunda.
Catatan Tomé Pires tentang “Dayo”
Selain prasasti, bukti lain datang dari catatan penjelajah Portugis Tomé Pires dalam karyanya Suma Oriental pada awal abad ke-16. Dalam catatannya, ia menyebut ibu kota Kerajaan Sunda dengan nama Dayo, yang oleh banyak ahli ditafsirkan sebagai Dayeuh Pakuan.
Lokasi Dayeuh Pakuan kemudian dihubungkan dengan wilayah Bogor berdasarkan kecocokan deskripsi geografis, jalur perdagangan, serta temuan arkeologi yang tersebar di kawasan tersebut. Meski Tomé Pires tidak menyebut nama “Bogor” secara langsung, catatannya menjadi salah satu referensi penting dalam merekonstruksi letak ibu kota Kerajaan Sunda.
Temuan Arkeologi yang Mendukung
Di sekitar Bogor juga ditemukan sejumlah peninggalan bersejarah yang memperkuat dugaan tersebut. Selain Prasasti Batutulis, terdapat Prasasti Kebon Kopi, Prasasti Pasir Muara, dan beberapa situs purbakala lain yang menunjukkan kawasan ini telah menjadi pusat aktivitas politik sejak berabad-abad lalu.
Keberadaan berbagai peninggalan tersebut membuat para arkeolog menilai bahwa Bogor bukan sekadar wilayah biasa, melainkan kawasan yang memiliki posisi strategis dalam pemerintahan Kerajaan Sunda.
Mengapa Bukan Wilayah Lain?
Pertanyaan menarik yang sering muncul adalah mengapa banyak ahli memilih Bogor dibanding daerah lain di Jawa Barat.
Secara geografis, kawasan Bogor memiliki sejumlah keunggulan. Wilayah ini berada di dataran yang subur, memiliki banyak sumber air, dilindungi oleh pegunungan, serta berada di jalur yang menghubungkan pedalaman dengan pelabuhan-pelabuhan di pesisir utara maupun barat Pulau Jawa. Kondisi tersebut sangat ideal sebagai pusat pemerintahan sebuah kerajaan besar.
Faktor-faktor geografis inilah yang semakin memperkuat dugaan bahwa Pakuan Pajajaran berkembang di kawasan yang kini menjadi Kota Bogor.
Apakah Lokasi Istana Pajajaran Sudah Ditemukan?
Meski banyak bukti mengarah ke Bogor, para sejarawan tetap bersikap hati-hati. Hingga kini, lokasi pasti kompleks Istana Pakuan Pajajaran belum ditemukan secara utuh. Penelitian arkeologi masih terus dilakukan untuk mengungkap tata letak ibu kota kerajaan tersebut.
Karena itu, para ahli lebih memilih menggunakan istilah “diyakini” atau “diduga kuat” daripada menyatakan secara mutlak bahwa seluruh kawasan Bogor merupakan bekas ibu kota Pajajaran.
Kesimpulan
Berbagai bukti dari Prasasti Batutulis, catatan Tomé Pires, temuan arkeologi, serta penelitian para sejarawan seperti Edi S. Ekadjati, Saleh Danasasmita, dan Atja menjadi alasan mengapa Bogor banyak diyakini sebagai lokasi Pakuan Pajajaran, ibu kota Kerajaan Sunda pada masa kejayaannya.
Walaupun masih ada sejumlah pertanyaan yang belum terjawab, terutama mengenai letak pasti kompleks istana kerajaan, rangkaian bukti sejarah yang tersedia menunjukkan bahwa Bogor memiliki posisi yang sangat penting dalam sejarah Tatar Sunda. Bagi para pencinta sejarah Nusantara, misteri Pakuan Pajajaran masih menjadi salah satu topik yang menarik untuk terus ditelusuri, seiring berkembangnya penelitian arkeologi dan kajian terhadap naskah-naskah kuno.