Palestine Caravan terus melanjutkan perjalanan darat menuju Palestina. Memasuki hari ke-13, rombongan aktivis internasional berhasil melintasi Şanlıurfa, dan esok hari menuju Diyarbakır, Turki. Sebagai bagian dari etape terakhir sebelum bergerak menuju wilayah perbatasan dengan Irak.
Perjalanan ini menjadi salah satu fase penting dalam rute konvoi yang dimulai dari Srebrenica, Bosnia dan Herzegovina, pada akhir Juli 2026. Setelah menempuh ribuan kilometer melintasi sejumlah negara di kawasan Balkan dan Eropa Tenggara, rombongan kini telah memasuki kawasan Anatolia bagian timur, yang menjadi gerbang menuju Timur Tengah.
Sebelum mencapai Diyarbakır, Palestine Caravan terlebih dahulu singgah di Gaziantep, kota yang menjadi pusat penyambutan besar-besaran oleh berbagai organisasi masyarakat sipil Turki. Dari sana, rombongan melanjutkan perjalanan menuju Şanlıurfa, kota bersejarah yang dikenal sebagai salah satu pusat peradaban tertua di dunia sekaligus memiliki kedekatan budaya dengan kawasan Mesopotamia.
Baca Juga :
Perjalanan dari Şanlıurfa menuju Diyarbakır rencananya akan dilakukan esok hari melalui jalur utama di wilayah Anatolia Tenggara. Sepanjang perjalanan, peserta konvoi terus mengibarkan bendera Palestina dan berbagai spanduk solidaritas sebagai simbol dukungan terhadap rakyat Palestina yang hingga kini masih menghadapi krisis kemanusiaan di Gaza dan Tepi Barat.
Setibanya di Diyarbakır, rombongan akan disambut oleh berbagai organisasi masyarakat sipil Islam, tokoh masyarakat, serta relawan lokal yang sejak beberapa hari sebelumnya telah mempersiapkan penyambutan. Berbagai agenda telah disiapkan, mulai dari iring-iringan kendaraan, penyambutan resmi di pintu masuk kota, hingga kegiatan publik dan doa bersama di Kompleks Masjid Hazreti Süleyman setelah salat Magrib dan Isya.
Bagi penyelenggara, Diyarbakır dipilih bukan tanpa alasan. Kota terbesar di kawasan Anatolia Tenggara ini selama bertahun-tahun dikenal aktif menyuarakan solidaritas terhadap Palestina. Kehadiran Palestine Caravan di kota tersebut diharapkan semakin memperkuat dukungan masyarakat internasional terhadap upaya mengakhiri blokade dan penderitaan warga Gaza.
Selain menjadi perjalanan kemanusiaan, Palestine Caravan juga terus menarik perhatian publik dunia melalui berbagai kisah yang muncul selama perjalanan. Salah satunya adalah momen ketika seorang aktivis asal Prancis, Sébastien Michelot, memutuskan memeluk Islam di Turki dan memilih nama Yusuf, sebuah peristiwa yang banyak dibagikan di media sosial oleh para peserta konvoi.
Usai bermalam di Diyarbakır, rombongan dijadwalkan melanjutkan perjalanan menuju Mardin, sebelum bergerak ke Habur Border Gate, pintu perbatasan Turki–Irak. Tahapan ini dipandang sebagai salah satu bagian paling krusial dalam keseluruhan misi karena akan menjadi awal perjalanan Palestine Caravan memasuki wilayah Irak.
Jika seluruh proses perlintasan berjalan sesuai rencana, konvoi akan melanjutkan perjalanan menuju Duhok, Erbil, Baghdad, kemudian menyeberang ke Yordania sebelum berupaya mencapai Ramallah di Tepi Barat. Rute tersebut dirancang untuk menunjukkan solidaritas internasional sekaligus menarik perhatian dunia terhadap situasi kemanusiaan yang terus berlangsung di Palestina.
Artikel sebelumnya :
Memasuki hari ke-13, Palestine Caravan menunjukkan bahwa misi ini bukan sekadar perjalanan lintas negara. Setiap kota yang dilalui menjadi ruang untuk memperkuat jejaring solidaritas, mempertemukan masyarakat dari berbagai bangsa, dan mengingatkan dunia bahwa isu Palestina masih menjadi perhatian jutaan orang di berbagai belahan dunia. Kini, perhatian publik tertuju pada perjalanan berikutnya menuju perbatasan Irak, yang akan menjadi babak baru dalam misi panjang Palestine Caravan 2026.