Ada tempat-tempat yang bagi seseorang bukan sekadar nama di peta. Ia menjadi bagian dari perjalanan hidup, tempat seseorang pernah belajar, bertemu banyak orang, mengenal tradisi, bahkan membawa kenangannya sampai bertahun-tahun kemudian.
Bagi saya, Tegalrejo adalah salah satunya.
Saya pernah berada di lingkungan pesantren Tegalrejo, walau tidak resmi belajar disana. Saya mondok di salah satu pondok yang dikelola oleh alumni API Tegalrejo, dan saya rutin ke Tegalrejo saat ada haflah atau Khataman. Hingga sekarang, setiap tahun selalu ada alasan untuk kembali ke sana. Bukan hanya untuk bernostalgia, tetapi karena ada ikatan batin dengan sebuah pesantren yang pernah menjadi bagian dari perjalanan sebagai seorang santri.
Karena itu, ketika nama KH Muhammad Yusuf Chudlori atau Gus Yusuf semakin sering muncul menjelang Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama, perhatian saya tidak hanya tertuju pada sosok yang kini masuk dalam bursa calon Ketua Umum PBNU. Ada sisi lain yang menarik: bagaimana seorang anak dari keluarga besar Tegalrejo tumbuh menjadi kiai, pengasuh pesantren, budayawan, organisator, sekaligus figur yang kini diperhitungkan dalam percaturan kepemimpinan NU.
Gus Yusuf lahir di Magelang pada 9 Juli 1973. Ia adalah putra KH Chudlori, pendiri Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam (API) Tegalrejo yang berdiri pada 1944. Lingkungan tempat ia tumbuh tentu bukan lingkungan biasa. Tegalrejo sejak lama menjadi salah satu pesantren penting dalam tradisi pendidikan Islam pesantren di Jawa.
Setelah menyelesaikan pendidikan dasar pada 1985, Gus Yusuf melanjutkan pendidikan ke Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, hingga 1994. Ia kemudian memperdalam ilmu agama di Pesantren Salafiyah Kedung Banteng, Purwokerto, dan Pesantren Salafiyah Bulus, Kebumen. Jalur pendidikannya menunjukkan satu hal penting: karakter keilmuannya dibentuk oleh tradisi pesantren salaf yang kuat.
Namun perjalanan Gus Yusuf tidak berhenti pada ruang pengajian dan kitab kuning.
Ia kemudian semakin aktif dalam kehidupan pesantren, organisasi, kebudayaan dan politik. Setelah wafatnya sang kakak, KH Abdurrahman Chudlori atau Mbah Dur, pada 2011, peran Gus Yusuf di Pesantren API Tegalrejo semakin besar. Ia menjadi salah satu figur utama yang meneruskan tradisi pesantren sekaligus berhadapan dengan tantangan zaman yang terus berubah.
Di luar pesantren, Gus Yusuf juga dikenal memiliki perhatian terhadap kebudayaan. Ia tidak melihat pesantren sebagai institusi yang harus berdiri jauh dari masyarakat dan kebudayaan lokal. Justru ruang kebudayaan menjadi salah satu cara untuk membangun hubungan antara nilai keislaman dan kehidupan masyarakat.
Jejak politiknya juga cukup panjang. Gus Yusuf pernah memimpin DPC PKB Kabupaten Magelang dan kemudian terlibat dalam kepemimpinan PKB Jawa Tengah. Dengan demikian, perjalanan hidupnya berada di beberapa ruang sekaligus: pesantren, kebudayaan, organisasi dan politik.
Kini, semua pengalaman tersebut kembali menjadi perhatian ketika Muktamar Ke-35 NU semakin dekat.
Muktamar akan berlangsung pada 27–31 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang. Selain membahas berbagai agenda besar NU, forum lima tahunan tersebut tentu akan menjadi arena penting untuk menentukan arah kepemimpinan organisasi pada periode berikutnya.
Nama Gus Yusuf menjadi salah satu yang cukup menonjol.
Pada 18 Juli 2026, sebanyak 23 PCNU di Jawa Tengah menyampaikan dukungan kepada Gus Yusuf agar maju sebagai calon Ketua Umum PBNU. Pernyataan tersebut disampaikan dalam acara “Lamaran Agung Maklumat Dukungan PCNU Jawa Tengah” yang berlangsung di Aula Pesantren API Tegalrejo.
Ada sesuatu yang menarik dari momentum tersebut.
Dukungan itu justru datang ke Tegalrejo, tempat Gus Yusuf tumbuh dan mengabdikan dirinya. Pesantren yang dahulu menjadi ruang pendidikan dan pembentukan karakter kini menjadi salah satu tempat penting dalam dinamika menuju Muktamar NU.
Gus Yusuf sendiri merespons dukungan tersebut dengan menempatkan pencalonannya bukan semata-mata sebagai perebutan jabatan. Ia menyebut amanah organisasi sebagai bentuk pengabdian atau khidmah.
Tentu, perjalanan menuju Muktamar belum selesai. Munculnya nama Gus Yusuf bukan berarti pertarungan telah ditentukan. Sejumlah nama lain juga masuk dalam bursa dan dinamika dukungan masih sangat mungkin berubah. NU sendiri menyebut munculnya banyak nama menjelang Muktamar sebagai bagian dari dinamika organisasi.
Bagi saya sebagai alumnus yang pernah merasakan kehidupan pesantren, menarik untuk melihat bagaimana perjalanan seorang Gus Yusuf berkembang dari lingkungan yang sangat dekat dengan tradisi pesantren menuju ruang organisasi yang jauh lebih luas.
Tegalrejo mengajarkan banyak santri tentang ilmu, kesederhanaan dan pengabdian. Tetapi perjalanan Gus Yusuf menunjukkan bahwa lulusan pesantren juga dapat memasuki berbagai ruang kehidupan: kebudayaan, ekonomi, organisasi hingga politik, tanpa harus kehilangan akar tradisinya.
Apakah perjalanan panjang itu akan membawanya menjadi Ketua Umum PBNU?
Jawabannya akan ditentukan di Tambakberas.
Tetapi bahkan sebelum palu Muktamar diketuk, satu hal sudah terlihat: Tegalrejo kembali menjadi bagian dari cerita besar perjalanan NU. Dan bagi mereka yang pernah menjadi santri di sana, termasuk saya, melihat nama Gus Yusuf berada di tengah eskalasi Muktamar tentu menghadirkan perasaan yang berbeda.
Sebab kadang-kadang, sebuah tempat yang pernah kita tinggalkan sebagai santri ternyata tetap menjadi bagian dari cerita hidup kita—bahkan ketika tempat itu kemudian muncul di panggung sejarah yang lebih besar.