Mengapa Pulau Kalimantan Terbagi Menjadi Tiga Negara? Kisah panjang Kolonialisme yang Mengubah Peta Asia Tenggara

Bagi banyak orang Indonesia, Pulau Kalimantan identik dengan lima provinsi yang membentang dari barat hingga timur. Namun, tahukah Anda bahwa pulau terbesar ketiga di dunia ini ternyata tidak hanya dimiliki Indonesia? Di bagian utara terdapat dua negara lain, yakni Malaysia dan Brunei Darussalam. Lalu muncul pertanyaan yang sering mengusik rasa penasaran: mengapa satu pulau bisa terbagi menjadi tiga negara?

Jawabannya tidak terletak pada kondisi alam ataupun perbedaan suku bangsa, melainkan pada perjalanan sejarah yang berlangsung selama ratusan tahun.

Sebelum kedatangan bangsa Eropa, wilayah Kalimantan dihuni oleh berbagai kerajaan lokal seperti Kesultanan Banjar, Kesultanan Kutai, Kesultanan Sambas, Kesultanan Pontianak, Kesultanan Bulungan, serta Kesultanan Brunei yang pernah menjadi kekuatan besar di pesisir utara Kalimantan. Hubungan antarkerajaan berlangsung melalui perdagangan, pelayaran, hingga perkawinan politik. Tidak ada batas negara seperti yang kita kenal sekarang.

Baca Juga :

Perubahan besar mulai terjadi pada abad ke-17 ketika bangsa Eropa datang membawa kepentingan dagang. Belanda melalui VOC kemudian memperluas pengaruhnya di sebagian besar wilayah selatan dan tengah Kalimantan. Sementara itu, Inggris mulai membangun hubungan politik dan ekonomi dengan wilayah utara, terutama Sarawak, Sabah, dan Brunei.

REKOMENDASI BUKU DIGITAL
Buku Website Bukan Sekadar Pajangan karya Faizal Firmansyah

Website Bukan Sekadar Pajangan

Punya website atau blog? Pelajari cara memanfaatkan konten, SEO, dan internal link untuk menarik traffic serta membuka peluang penjualan dari aset digital Anda.

Pelajari Selengkapnya →

Panduan praktis bisnis online · Faizal Firmansyah

Suasana di negara Brunei Darussalam

Di Sarawak, seorang petualang Inggris bernama James Brooke memperoleh kekuasaan dari Sultan Brunei pada tahun 1841 setelah membantu meredam pemberontakan. Ia kemudian dikenal sebagai “Rajah Putih” dan mendirikan pemerintahan yang diwariskan kepada keluarganya selama beberapa generasi. Di sisi lain, wilayah Sabah dikelola oleh British North Borneo Company, sebuah perusahaan dagang yang memperoleh hak administrasi dari Kesultanan Sulu dan Brunei. Meskipun dikelola perusahaan, wilayah tersebut tetap berada dalam pengaruh Inggris.

Baca Juga :

Buku Pintar 30 Hari Berjualan Produk Digital
PAKET 2 E-BOOK DIGITAL

Buku Pintar 30 Hari Berjualan Produk Digital

Bingung memulai jualan produk digital? Dapatkan panduan utama beserta bonus Mesin Konten 30 Hari untuk membantumu merencanakan konten promosi secara lebih terstruktur.

  • 2 buku digital dalam 1 paket
  • Panduan dan materi praktik
  • File PDF yang bisa dibaca di HP
Rp64.000
Lihat Paket Buku Pelajari isinya dan mulai praktik sesuai kemampuanmu.

Sementara itu, Brunei mengalami penyusutan wilayah yang sangat besar. Kesultanan yang dahulu menguasai sebagian besar pesisir Kalimantan perlahan kehilangan daerah kekuasaannya akibat berbagai perjanjian dengan Inggris. Namun, berbeda dengan Sabah dan Sarawak, Brunei tetap mempertahankan statusnya sebagai kesultanan dan kemudian menjadi protektorat Inggris tanpa dilebur ke dalam koloni lain.

Ketika Perang Dunia II berakhir, proses dekolonisasi mulai berlangsung. Hindia Belanda memproklamasikan kemerdekaan sebagai Indonesia pada tahun 1945, sehingga seluruh wilayah Kalimantan yang sebelumnya berada di bawah Belanda menjadi bagian dari Republik Indonesia.

ADVERTORIAL

Advertorial Pilihan

Informasi dan cerita menarik dari berbagai pihak.

Lihat Semua Advertorial →

Sementara itu, Inggris mempersiapkan Sabah dan Sarawak untuk bergabung dengan Federasi Malaysia pada tahun 1963. Keputusan ini tidak diterima begitu saja oleh Indonesia. Presiden Soekarno menilai pembentukan Malaysia merupakan bentuk “neo-kolonialisme” Inggris di Asia Tenggara. Penolakan tersebut memicu Konfrontasi Indonesia-Malaysia yang berlangsung dari tahun 1963 hingga 1966. Meski sempat terjadi bentrokan bersenjata di perbatasan Kalimantan, konflik akhirnya berakhir setelah perubahan pemerintahan di Indonesia dan kedua negara sepakat menormalisasi hubungan.

Perbatasan Malaysia – Indonesia

Brunei sebenarnya juga sempat diajak bergabung dengan Malaysia. Namun Kesultanan Brunei memilih tetap berdiri sendiri. Beberapa faktor menjadi penyebabnya, mulai dari keinginan mempertahankan kedaulatan kesultanan, pembagian pendapatan minyak bumi, hingga pertimbangan politik dalam negeri. Akhirnya Brunei memperoleh kemerdekaan penuh dari Inggris pada tahun 1984.

Hasil dari perjalanan sejarah tersebut dapat kita lihat hingga hari ini. Sekitar 73 persen wilayah Pulau Kalimantan menjadi bagian Indonesia, sekitar 26 persen merupakan wilayah Malaysia yang terdiri atas Sabah dan Sarawak, sedangkan kurang lebih 1 persen menjadi wilayah Brunei Darussalam.

Dengan demikian, pembagian Kalimantan bukan disebabkan oleh perbedaan budaya, bahasa, maupun kondisi geografis. Sebaliknya, batas-batas yang ada saat ini merupakan warisan kolonial yang terbentuk melalui perjanjian politik, ekspansi kekuasaan, dan proses kemerdekaan yang berbeda-beda.

Sejarah Kalimantan menjadi bukti bahwa garis-garis pada peta dunia sering kali bukan dibentuk oleh alam, melainkan oleh keputusan manusia. Seandainya Belanda dan Inggris memiliki sejarah yang berbeda, bukan tidak mungkin wajah Pulau Kalimantan hari ini juga akan terlihat sangat berbeda.

NGIKLANPEDIA EDITORIAL

Punya kiprah?
Bangun jejak digitalnya.

Editorial • Profil Tokoh • Digital Presence

Lihat Layanan Editorial →
Editorial Ngiklanpedia

Tinggalkan komentar