Bagi para pendukung Timnas Prancis, kekalahan 0-2 dari Spanyol pada semifinal Piala Dunia 2026 terasa seperti mengulang luka lama. Dua tahun sebelumnya, tepatnya di semifinal Euro 2024, Les Bleus juga harus mengakui keunggulan La Roja dengan skor 2-1. Kini, sejarah seolah kembali berputar. Spanyol lagi-lagi menjadi tembok yang terlalu kokoh untuk ditembus Prancis.
Jika pada Euro 2024 Prancis sempat unggul lebih dulu melalui gol cepat Randal Kolo Muani sebelum dibalikkan oleh aksi gemilang Lamine Yamal dan Dani Olmo, maka di Piala Dunia 2026 ceritanya sedikit berbeda. Kali ini Spanyol tampil lebih dominan sejak menit awal dan berhasil mengunci kemenangan 2-0 tanpa memberi banyak ruang bagi lini serang Prancis untuk berkembang.
Kesamaan dari dua pertandingan tersebut bukan hanya soal hasil akhir. Ada pola yang kembali terlihat. Prancis selalu kesulitan menghadapi permainan kolektif Spanyol. Tim asuhan Didier Deschamps memang dihuni deretan pemain kelas dunia seperti Kylian Mbappé, Ousmane Dembélé hingga Michael Olise. Namun ketika menghadapi tekanan tinggi dan penguasaan bola khas Spanyol, kualitas individu mereka seakan menghilang.
Spanyol kembali menunjukkan bahwa sepak bola modern tidak hanya mengandalkan kecepatan atau kemampuan satu pemain. Mereka menang melalui organisasi permainan yang disiplin. Setiap pemain bergerak saling menutup ruang, melakukan pressing secara serempak, dan sabar membangun serangan dari lini belakang. Akibatnya, Prancis lebih sering mengejar bola dibanding menciptakan peluang.
Kylian Mbappé yang biasanya menjadi pembeda pun kembali dibuat frustrasi. Sama seperti di Euro 2024, ia kesulitan menemukan ruang untuk melakukan sprint. Bek-bek Spanyol tampil sangat disiplin, sementara lini tengah mereka sukses memutus aliran bola menuju sang kapten Prancis.
Yang membuat kekalahan ini terasa semakin menyakitkan adalah fakta bahwa Spanyol kini seperti telah menemukan “resep khusus” untuk mengalahkan Prancis. Dalam dua turnamen besar secara beruntun, La Roja selalu mampu menghentikan langkah Les Bleus di fase krusial. Ini tentu bukan lagi sebuah kebetulan, melainkan bukti keunggulan taktik dan konsistensi permainan.
Di sisi lain, kemenangan ini mempertegas status Spanyol sebagai kekuatan baru sepak bola dunia. Generasi muda seperti Lamine Yamal, Pedri, Nico Williams, hingga Pau Cubarsí tampil semakin matang dan menjadi tulang punggung tim. Dipadukan dengan pengalaman pemain senior, Spanyol kini memiliki keseimbangan yang sulit ditandingi.
Bagi Prancis, kekalahan ini menjadi pekerjaan rumah besar. Memiliki skuad bertabur bintang ternyata belum cukup untuk menaklukkan tim yang bermain sebagai satu kesatuan. Jika ingin kembali berjaya, Les Bleus harus menemukan cara baru menghadapi permainan Spanyol yang semakin berkembang.