Nama KH Hilmi Aminuddin lebih dikenal sebagai salah satu tokoh dakwah dan pendiri Partai Keadilan (yang kemudian berkembang menjadi PKS). Namun, tidak banyak yang mengetahui bahwa jauh sebelum dikenal sebagai pendakwah nasional, Hilmi telah menghabiskan masa kecilnya sebagai santri di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur. Fakta ini menarik karena Tebuireng merupakan salah satu pesantren paling berpengaruh di Indonesia yang didirikan oleh Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama (NU).
Menuntut Ilmu Sejak Usia Dini
Dalam sebuah kunjungan silaturahim ke Tebuireng pada 8 April 2010, KH Hilmi Aminuddin mengungkapkan bahwa dirinya pernah mondok di pesantren tersebut sejak 1953 hingga 1957. Saat itu usianya masih sangat muda. Kunjungan tersebut bukan agenda politik, melainkan momen nostalgia untuk mengenang masa-masa ketika ia belajar ilmu agama di lingkungan pesantren yang telah melahirkan banyak ulama besar Indonesia.
Baca Juga :
- Alumni Tebuireng, Ketua Majelis Syuro DPP PKS Kunjungi Gus Solah
- Gagasan Dakwah Hilmi Aminuddin yang Masih Relevan hingga Kini
- Ahmad Dahlan: Ulama Visioner yang Mendirikan Muhammadiyah dan Membawa Semangat Pembaruan Islam
Tinggal di Asrama E-7
Salah satu kenangan yang disampaikan KH Hilmi adalah tempat tinggalnya selama menjadi santri. Ia menceritakan bahwa dahulu dirinya tinggal di Asrama E-7, salah satu kompleks asrama santri di Tebuireng. Detail sederhana ini memberikan gambaran bahwa hubungan Hilmi dengan Tebuireng bukan sekadar cerita yang beredar, tetapi merupakan bagian nyata dari perjalanan hidupnya sebagai santri.
Belajar kepada KH Abdul Khaliq Hasyim
Dalam kesempatan yang sama, KH Hilmi mengenang bahwa ketika ia belajar di Tebuireng, pesantren diasuh oleh KH Abdul Khaliq Hasyim, salah satu putra Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari. Masa belajar tersebut berlangsung pada periode ketika Tebuireng masih dikenal sebagai pusat pendidikan Islam yang melahirkan banyak ulama, cendekiawan, dan tokoh bangsa.
“Ilmu Agama Saya Belajar di Tebuireng”
Pernyataan paling menarik dari kunjungan tersebut adalah pengakuan langsung KH Hilmi mengenai tempat ia memperoleh dasar-dasar pendidikan agama.
“Jadi untuk masalah ilmu agama saya belajar di Tebuireng.”
Pernyataan ini menunjukkan bahwa Tebuireng memiliki peran penting dalam pembentukan fondasi keilmuan Islam yang kemudian menjadi bekal dakwahnya pada masa-masa berikutnya. Namun, sumber-sumber publik tidak menjelaskan secara rinci materi pelajaran, guru-guru yang membimbingnya, maupun aktivitas kesehariannya sebagai santri. Karena itu, informasi yang tersedia perlu dipahami sebatas apa yang telah dipublikasikan.
Nostalgia Bersama Gus Solah
Saat berkunjung ke Tebuireng, KH Hilmi diterima oleh KH Salahuddin Wahid (Gus Solah). Keduanya berbincang mengenai kenangan di pesantren serta mengenang sosok KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Dalam suasana penuh keakraban, Hilmi menyampaikan bahwa selain menghadiri peringatan 100 hari wafatnya Gus Dur, ia juga ingin bernostalgia dengan almamater tempat dirinya pernah menimba ilmu.
Artikel selanjutnya :
- Biografi KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah): Perjalanan Ulama, Cendekiawan, dan Pengasuh Tebuireng
- Mengapa Palestina Begitu Dekat di Hati Masyarakat Spanyol?
- Menakar Jejak Pemikiran Hilmi Aminuddin: Antara Tebuireng dan Yusuf al-Qaradawi
Fakta yang Jarang Diangkat
Meski nama KH Hilmi Aminuddin sering dikaitkan dengan dunia dakwah dan politik, kisah masa kecilnya di Tebuireng justru jarang dibahas dalam berbagai biografi. Padahal, fakta bahwa ia pernah menjadi santri di salah satu pesantren terbesar di Indonesia merupakan bagian penting dari perjalanan hidupnya.
Hal ini juga menunjukkan bahwa perjalanan intelektual seorang tokoh sering kali dibentuk oleh berbagai lingkungan pendidikan yang pernah ditempatinya. Dalam kasus KH Hilmi Aminuddin, Tebuireng menjadi salah satu mata rantai penting dalam fase awal pembentukan keilmuan Islamnya sebelum melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya.
Penutup
Jejak KH Hilmi Aminuddin di Pondok Pesantren Tebuireng merupakan bagian dari sejarah yang belum banyak diketahui masyarakat. Melalui kisah nostalgia yang disampaikannya sendiri pada tahun 2010, publik memperoleh gambaran bahwa sejak kecil ia telah mengenyam pendidikan agama di pesantren yang didirikan Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari. Walaupun informasi yang tersedia masih terbatas, fakta-fakta tersebut menjadi pengingat bahwa perjalanan seorang tokoh besar sering kali berawal dari ruang-ruang sederhana di lingkungan pesantren yang membentuk karakter, disiplin, dan kecintaannya terhadap ilmu agama.