Dalam teori politik, kondisi ekonomi sering dianggap sebagai salah satu faktor utama yang menentukan tingkat kepuasan masyarakat terhadap pemerintah. Ketika inflasi melonjak, daya beli turun, dan mata uang melemah, dukungan kepada pemimpin biasanya ikut menurun. Namun fenomena tersebut tidak sepenuhnya berlaku di Turki.
Meski negara itu pernah mengalami inflasi tahunan di atas 80 persen pada 2022 menurut Turkish Statistical Institute (TurkStat), Presiden Recep Tayyip Erdoğan tetap memenangkan Pemilu Presiden 2023. Kondisi ini memunculkan pertanyaan: mengapa Erdoğan masih mampu mempertahankan dukungan masyarakat di tengah tekanan ekonomi?
Transformasi Ekonomi yang Masih Diingat
Untuk memahami fenomena ini, perlu melihat perjalanan Turki sejak awal Erdoğan berkuasa.
Ketika Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) memenangkan pemilu pada 2002, kondisi ekonomi Turki sedang mengalami krisis. Inflasi tinggi, sektor perbankan bermasalah, dan tingkat kepercayaan investor rendah.
Selama satu dekade pertama pemerintahannya, Erdoğan berhasil mendorong pertumbuhan ekonomi yang cukup pesat. Infrastruktur dibangun secara besar-besaran, mulai dari jalan tol, bandara, rumah sakit modern, hingga jaringan kereta cepat. Pendapatan per kapita meningkat dan jutaan warga Turki masuk ke kelompok kelas menengah.
Keberhasilan tersebut membentuk citra Erdoğan sebagai pemimpin yang mampu membawa stabilitas setelah krisis ekonomi awal 2000-an. Bagi sebagian pemilih, rekam jejak itu masih memiliki pengaruh besar hingga sekarang.
Politik Tidak Selalu Ditentukan oleh Ekonomi
Banyak penelitian ilmu politik menunjukkan bahwa pemilih tidak selalu menentukan pilihan hanya berdasarkan kondisi ekonomi.
Di Turki, identitas politik, agama, nasionalisme, serta persepsi terhadap kepemimpinan juga memainkan peran penting.
Bagi sebagian pendukung AKP, Erdoğan dipandang bukan hanya sebagai presiden, tetapi juga sebagai simbol kebangkitan Turki sebagai negara yang lebih mandiri dalam politik internasional. Sikapnya yang vokal terhadap isu Palestina, kritik terhadap standar ganda negara-negara Barat, serta kebijakan luar negeri yang lebih independen memperkuat citra tersebut.
Karena itu, sebagian pemilih tetap memberikan dukungan meskipun menghadapi tekanan ekonomi.
Infrastruktur yang Terlihat Langsung
Salah satu faktor yang sering disebut para analis adalah pembangunan infrastruktur.
Selama dua dekade terakhir, pemerintah Turki membangun berbagai proyek besar seperti Bandara Istanbul yang menjadi salah satu bandara terbesar di dunia, Jembatan Yavuz Sultan Selim, Terowongan Eurasia, hingga berbagai proyek transportasi dan kesehatan.
Bagi masyarakat, proyek-proyek tersebut merupakan bukti nyata kinerja pemerintah yang dapat dirasakan dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam politik elektoral, pembangunan yang terlihat secara langsung sering kali memiliki dampak yang lebih kuat dibandingkan indikator ekonomi makro yang sulit dipahami oleh masyarakat umum.
Basis Pendukung yang Solid
AKP juga dikenal memiliki organisasi politik yang kuat hingga tingkat daerah.
Jaringan kader, relawan, organisasi masyarakat, dan komunitas lokal membuat komunikasi antara partai dan masyarakat tetap berjalan secara intensif. Basis pendukung ini telah terbentuk selama lebih dari dua puluh tahun sehingga menciptakan loyalitas politik yang relatif tinggi.
Kondisi tersebut membuat fluktuasi ekonomi tidak otomatis mengubah pilihan seluruh pemilih.
Persepsi terhadap Oposisi
Popularitas seorang pemimpin tidak hanya dipengaruhi oleh kekuatannya sendiri, tetapi juga oleh kemampuan lawan politik menawarkan alternatif.
Dalam Pemilu 2023, koalisi oposisi memang mampu memberikan perlawanan yang cukup kuat. Namun sejumlah pengamat menilai mereka belum sepenuhnya berhasil meyakinkan seluruh pemilih bahwa pemerintahan baru akan mampu mengelola ekonomi dan menjaga stabilitas politik lebih baik dibandingkan Erdoğan.
Akibatnya, sebagian pemilih memilih mempertahankan pemerintahan yang sudah mereka kenal meskipun menghadapi berbagai tantangan ekonomi.
Apakah Ekonomi Tidak Berpengaruh?
Tentu saja berpengaruh.
Tekanan inflasi menyebabkan biaya hidup meningkat, daya beli masyarakat menurun, dan nilai tukar Lira Turki melemah. Situasi tersebut ikut memengaruhi hasil pemilu legislatif maupun pemilu lokal, di mana AKP kehilangan sejumlah kota besar, termasuk Istanbul dan Ankara.
Artinya, dukungan kepada Erdoğan memang mengalami tekanan. Namun tekanan tersebut belum cukup besar untuk menghilangkan basis politik yang telah dibangun selama lebih dari dua dekade.
Kesimpulan
Popularitas Recep Tayyip Erdoğan tidak dapat dijelaskan hanya melalui kondisi ekonomi. Rekam jejak pembangunan, identitas politik, kepemimpinan yang kuat, jaringan partai yang luas, serta persepsi terhadap oposisi menjadi faktor-faktor yang ikut membentuk pilihan masyarakat Turki.
Fenomena ini menunjukkan bahwa dalam politik modern, keberhasilan atau kegagalan ekonomi hanyalah salah satu variabel. Sejarah kepemimpinan, kepercayaan publik, serta kemampuan membangun narasi politik sering kali sama pentingnya dalam menentukan hasil pemilu.
Karena itu, meskipun Turki pernah mengalami inflasi tinggi dan tekanan ekonomi yang berat, Erdoğan tetap mampu mempertahankan dukungan yang cukup besar untuk kembali memenangkan pemilihan presiden.