Memasuki hari keenam perjalanan Palestine Convoy, perhatian publik tidak hanya tertuju pada rute konvoi yang kini berada di Turki, tetapi juga pada sosok yang berulang kali muncul dalam berbagai gerakan solidaritas internasional untuk Palestina, yaitu Dr. Hüseyin Durmaz. Di tengah minimnya sorotan media terhadap para penggerak di balik layar, nama Durmaz justru menjadi salah satu figur yang menarik untuk dicermati.
Dalam struktur resmi Palestine Convoy, Dr. Hüseyin Durmaz menjabat sebagai Spokesperson (juru bicara). Namun perannya jauh melampaui sekadar menyampaikan pernyataan kepada media. Situs resmi Palestine Convoy menggambarkannya sebagai seorang dokter, filsuf, aktivis hak sipil, sekaligus organisator berbagai gerakan internasional yang mendukung Palestina.
Jejak aktivismenya menunjukkan bahwa Palestine Convoy bukanlah gerakan pertama yang ia bangun. Sebelum menjadi wajah utama Palestine Convoy, Hüseyin Durmaz telah terlibat dalam Big White Tent Action di Jenewa, sebuah aksi damai yang mengangkat isu kemanusiaan Gaza di depan markas Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Setelah itu, ia dipercaya menjadi bagian dari Global March to Gaza, kemudian berperan sebagai Koordinator Delegasi Turki sekaligus anggota dewan dalam Global Sumud Flotilla, sebuah gerakan internasional yang berupaya membuka akses kemanusiaan ke Gaza melalui jalur laut.
Menariknya, keterlibatan Durmaz memperlihatkan kesinambungan sebuah gerakan. Jika Global Sumud Flotilla lebih menitikberatkan pada mobilisasi sipil melalui jalur laut, maka Palestine Convoy menghadirkan pendekatan baru melalui jalur darat. Dalam berbagai kesempatan, Durmaz menegaskan bahwa perjuangan tersebut merupakan bagian dari gerakan masyarakat sipil internasional yang mengedepankan cara-cara damai, non-kekerasan, dan kolaborasi lintas negara.
Di luar aktivitasnya sebagai aktivis, Hüseyin Durmaz juga merupakan pendiri International Health Initiative, sebuah inisiatif yang bergerak dalam pelayanan kesehatan dan misi kemanusiaan di wilayah-wilayah yang mengalami keterbatasan akses medis. Ia tetap aktif menjalankan profesinya sebagai dokter, sembari terlibat dalam berbagai program kemanusiaan internasional. Selain itu, ia menulis buku “Gaza: The Crossroads of Humanity”, yang berisi analisis mengenai keadilan global, hak asasi manusia, serta krisis kemanusiaan di Gaza.
Keberadaan Hüseyin Durmaz juga memperlihatkan bahwa Palestine Convoy bukanlah gerakan yang berdiri sendiri. Gerakan ini dibangun di atas jaringan solidaritas yang telah berkembang dalam beberapa tahun terakhir, mulai dari aksi-aksi kemanusiaan di Jenewa, Global March to Gaza, hingga Global Sumud Flotilla. Karena itu, kehadiran Palestine Convoy dapat dipahami sebagai kelanjutan dari upaya masyarakat sipil internasional untuk mempertahankan perhatian dunia terhadap situasi kemanusiaan di Palestina.
Artikel Sebelumnya :
Di tengah perjalanan Palestine Convoy yang kini memasuki wilayah Anatolia, sosok Dr. Hüseyin Durmaz menjadi salah satu figur sentral yang layak diperhatikan. Ia bukan hanya juru bicara konvoi, tetapi juga salah satu perancang strategi gerakan sipil yang selama beberapa tahun terakhir konsisten menghubungkan berbagai inisiatif solidaritas internasional bagi Palestina. Dengan rekam jejak tersebut, tidak berlebihan jika banyak pihak mulai melihatnya sebagai salah satu tokoh penting di balik lahir dan berkembangnya Palestine Convoy.
Update : Ratusan peserta dari 20 negara berbeda berkumpul pada hari kedua program Palestine Caravan di Sakarya. Sidang atau rapat konsolidasi menyatukan misi, membahas tujuan, protokol keamanan, proses operasional, dan rincian Visa. Semua persiapan sedang berlangsung dengan tekad yang kuat untuk mempersiapkan etape perjalanan bantuan kemanusiaan selanjutnya menuju Tepi barat.