Banyak orang mengira tubuh akan memberikan tanda ketika kadar kolesterol mulai meningkat. Padahal, kolesterol tinggi sering kali tidak menimbulkan gejala yang bisa dirasakan secara langsung. Seseorang dapat merasa sehat, tetap beraktivitas seperti biasa, bahkan tidak mengalami keluhan apa pun, tetapi kadar kolesterolnya sudah berada di atas batas yang dianjurkan.
Inilah salah satu alasan mengapa kolesterol tinggi sering disebut sebagai kondisi yang sulit dikenali tanpa pemeriksaan.
Mengapa kolesterol tinggi sering tidak terasa?
Kolesterol sebenarnya merupakan zat yang dibutuhkan tubuh. Tubuh menggunakannya untuk membentuk membran sel, hormon, dan berbagai fungsi penting lainnya. Masalah muncul ketika kadar kolesterol tertentu, terutama LDL (low-density lipoprotein), terlalu tinggi dalam jangka waktu lama.
LDL sering disebut sebagai “kolesterol jahat” karena kadar yang tinggi dapat berkontribusi terhadap terbentuknya plak pada dinding pembuluh darah.
Proses tersebut biasanya berlangsung perlahan. Tidak seperti demam atau infeksi yang dapat menimbulkan gejala dalam waktu singkat, perubahan pada pembuluh darah akibat kolesterol dapat berkembang selama bertahun-tahun tanpa menimbulkan sensasi khusus.
Akibatnya, seseorang mungkin baru mengetahui kadar kolesterolnya setelah melakukan pemeriksaan darah secara rutin atau ketika dokter melakukan pemeriksaan karena adanya faktor risiko tertentu.
Bukan berarti tubuh sama sekali tidak bisa memberikan tanda
Pada sebagian orang, kadar kolesterol yang sangat tinggi atau kondisi tertentu yang berkaitan dengan kolesterol dapat menimbulkan tanda fisik tertentu. Namun, tanda tersebut bukan cara yang dapat diandalkan untuk mengetahui kadar kolesterol seseorang.
Karena itu, jangan menunggu munculnya keluhan untuk memeriksa kolesterol.
Pemeriksaan darah dapat memberikan gambaran mengenai profil lipid, termasuk LDL, HDL, trigliserida, dan kolesterol total. Dari hasil tersebut, tenaga kesehatan dapat membantu menilai apakah seseorang memiliki risiko yang perlu mendapatkan perhatian lebih lanjut.
Apa perbedaan LDL dan HDL?
Tidak semua kolesterol memiliki fungsi yang sama dalam tubuh.
LDL membawa kolesterol dari hati menuju berbagai jaringan tubuh. Jika kadarnya terlalu tinggi, LDL dapat berkontribusi terhadap penumpukan plak di pembuluh darah.
Sementara itu, HDL (high-density lipoprotein) membantu membawa sebagian kolesterol kembali ke hati untuk diproses lebih lanjut. Karena perannya tersebut, HDL sering disebut sebagai “kolesterol baik”.
Namun, menilai kesehatan seseorang hanya berdasarkan satu angka juga tidak cukup. Dokter biasanya melihat keseluruhan profil lipid sekaligus mempertimbangkan usia, tekanan darah, kebiasaan merokok, diabetes, riwayat keluarga, serta faktor risiko lainnya.
Siapa yang perlu lebih memperhatikan kolesterol?
Risiko kolesterol tinggi dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor. Pola makan yang tinggi lemak jenuh dan trans, kurang aktivitas fisik, berat badan berlebih, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol berlebihan, faktor genetik, serta kondisi kesehatan tertentu dapat berperan.
Faktor usia dan riwayat keluarga juga penting. Ada orang yang memiliki kadar kolesterol tinggi bukan semata-mata karena pola hidup, tetapi karena faktor keturunan.
Itulah sebabnya seseorang yang merasa sudah menjalani gaya hidup cukup sehat tetap dapat memiliki kadar kolesterol yang perlu diperiksa.
Bagaimana cara mengetahuinya?
Cara paling jelas adalah melakukan pemeriksaan profil lipid melalui tes darah.
Jangan menjadikan gejala seperti pusing, pegal, atau mudah lelah sebagai patokan tunggal bahwa kolesterol sedang tinggi. Keluhan tersebut memiliki banyak kemungkinan penyebab dan tidak secara spesifik menunjukkan kadar kolesterol seseorang.
Sebaliknya, orang yang tidak merasakan keluhan apa pun juga belum tentu memiliki kadar kolesterol yang ideal.
Pemeriksaan berkala dapat membantu seseorang mengetahui kondisi sebenarnya dan mendiskusikannya dengan tenaga kesehatan.
Menjaga kolesterol tidak harus menunggu hasil pemeriksaan buruk
Pola hidup sehat tetap menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan jantung dan pembuluh darah. Pilihan yang dapat dilakukan antara lain memperbanyak aktivitas fisik, mengonsumsi makanan bergizi seimbang, memperbanyak sayur dan buah, memilih sumber lemak yang lebih sehat, menjaga berat badan, tidak merokok, serta membatasi konsumsi alkohol.
Bagi orang yang memiliki kadar kolesterol tinggi, perubahan gaya hidup terkadang belum cukup. Dokter dapat mempertimbangkan obat penurun kolesterol berdasarkan tingkat risiko dan kondisi masing-masing orang.
Yang perlu diingat, kolesterol tinggi bukan kondisi yang bisa dipastikan hanya dari apa yang dirasakan tubuh.
Seseorang bisa merasa benar-benar sehat sekaligus memiliki kadar LDL yang tinggi. Karena itu, pemeriksaan menjadi penting, terutama bagi orang yang memiliki faktor risiko.
Pada akhirnya, mengenali kolesterol tinggi bukan tentang menunggu tubuh memberikan tanda. Justru karena sering tidak menimbulkan gejala, pemeriksaan dan pencegahan menjadi jauh lebih penting.
Jika sudah lama tidak memeriksa kadar kolesterol, pemeriksaan profil lipid dapat menjadi salah satu langkah sederhana untuk mengetahui kondisi kesehatan secara lebih objektif. Hasilnya kemudian dapat dibicarakan dengan tenaga kesehatan untuk menentukan langkah yang sesuai.