Istilah “Islam ala Prabowo” kembali ramai diperbincangkan di media sosial. Banyak warganet yang baru mengetahui bahwa ternyata terdapat sebuah buku dengan judul Islam ala Prabowo: Cara Prabowo Subianto Mengamalkan Ajaran Islam.
Menariknya, buku tersebut bukanlah buku yang baru diterbitkan. Buku ini telah diterbitkan pada 2025 dan diluncurkan secara resmi dalam rangkaian Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) BAZNAS di Jakarta pada 26 Agustus 2025. Namun, pembahasannya kembali muncul dan menjadi perhatian publik pada September 2026.
Artikel selanjutnya :
- Athian Ali tentang “Islam Ala Prabowo”: Bukan Sekadar Soal Judul Buku, tetapi Cermin Bangsa Indonesia
- Gus Kautsar dan Polemik Pencatutan Nama dalam Buku Islam Ala Prabowo
Lantas, apa sebenarnya yang dimaksud dengan “Islam ala Prabowo”?
Bukan Buku yang Ditulis Prabowo
Hal pertama yang perlu diluruskan adalah buku tersebut bukan ditulis langsung oleh Presiden Prabowo Subianto.
Berdasarkan informasi penerbit dan sejumlah pemberitaan, buku Islam ala Prabowo ditulis oleh Abdur Rahim Hasan, Rikal Dikri, dan Mush’ab Muqoddas. Buku tersebut diterbitkan oleh Atmosphere Publishing House.
Judul lengkapnya adalah Islam ala Prabowo: Cara Prabowo Subianto Mengamalkan Ajaran Islam. Buku ini mencoba melihat sosok Prabowo bukan hanya dari sisi politik dan pemerintahan, tetapi juga dari dimensi keagamaan dan kehidupan pribadinya.
Buku Pintar 30 Hari Berjualan Produk Digital
Bingung memulai jualan produk digital? Dapatkan panduan utama beserta bonus Mesin Konten 30 Hari untuk membantumu merencanakan konten promosi secara lebih terstruktur.
- 2 buku digital dalam 1 paket
- Panduan dan materi praktik
- File PDF yang bisa dibaca di HP
Dengan demikian, istilah “Islam ala Prabowo” dalam konteks buku tersebut lebih tepat dipahami sebagai upaya menggambarkan bagaimana nilai-nilai Islam dipandang tercermin dalam perjalanan hidup dan kepemimpinan Prabowo, bukan sebagai agama atau mazhab baru.
Siapa yang Menginisiasi?
Buku ini menjadi perhatian karena proses kelahirannya melibatkan sejumlah tokoh penting.
Advertorial Pilihan
Informasi dan cerita menarik dari berbagai pihak.
Pesantren Bina Insan Mulia Buka Seleksi 2.500 Calon Santri Baru Tahun Ajaran 2027–2028, Ini Jadwal dan Lokasinya
11 Okt 2026
Cara Mendapatkan Penjualan di Lynk.id: Bukan Sekadar Mengumpulkan Klik
06 Okt 2026
Workshop Nasional Ibu Nyai dan Ning Nusantara Batch 2 di Banten, Gratis untuk 500 Peserta
24 Sep 2026Peluncurannya diinisiasi oleh Ketua MPR RI Ahmad Muzani bersama Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Anwar Iskandar. Buku tersebut kemudian diluncurkan dalam agenda Rakornas BAZNAS 2025.
Sejumlah tokoh nasional dan akademisi juga tercatat terlibat sebagai kontributor. Di antaranya terdapat nama Yusril Ihza Mahendra, AM Hendropriyono, As’ad Said Ali, Muhadjir Effendy, Said Aqil Siradj, Abdul Mu’ti, hingga sejumlah tokoh lainnya.
Keterlibatan tokoh-tokoh dari berbagai latar belakang inilah yang membuat buku tersebut menarik perhatian. Pembahasannya tidak hanya diarahkan kepada kehidupan politik Prabowo, tetapi juga menyentuh hubungan antara Islam, kebangsaan, kepemimpinan, diplomasi dan kesejahteraan masyarakat.
Tiga Bagian Utama
Menurut sejumlah pembahasan mengenai buku tersebut, isinya terbagi dalam tiga bagian besar.
Pertama, Islam, perdamaian dan keadilan.
Bagian ini mencoba menempatkan nilai-nilai keislaman dalam konteks kehidupan berbangsa dan hubungan antarmanusia.
Kedua, spiritualitas Prabowo Subianto.
Bagian ini membahas sisi religius dan perjalanan spiritual Prabowo sebagaimana dilihat oleh para penulis dan kontributor buku.
Ketiga, perjuangan untuk kesejahteraan rakyat.
Pada bagian ini, nilai keislaman dikaitkan dengan persoalan kepemimpinan, keberpihakan kepada masyarakat serta upaya mewujudkan kesejahteraan.
Dari struktur tersebut terlihat bahwa buku ini tidak semata-mata ingin membahas ritual keagamaan Prabowo. Perspektif yang digunakan lebih luas, yakni bagaimana agama, kepemimpinan dan kepentingan masyarakat dipertemukan dalam perjalanan seorang pemimpin politik.
Mengapa Istilahnya Menjadi Kontroversial?
Di sinilah persoalan mulai menarik.
Bagi sebagian orang, istilah “Islam ala Prabowo” dianggap sebagai cara untuk menggambarkan praktik keislaman seorang tokoh. Namun bagi pihak lain, penggunaan nama seorang politisi setelah kata “Islam” justru menimbulkan pertanyaan.
Apakah Islam memang perlu disebut berdasarkan nama seorang tokoh?
Pertanyaan tersebut kemudian berkembang menjadi perdebatan mengenai hubungan antara agama dan politik.
Kritik terhadap istilah tersebut bahkan datang dari perspektif keagamaan yang mempertanyakan apakah Islam boleh dikaitkan dengan “versi” seseorang. Salah satu tulisan yang kembali beredar pada 4 September 2026 bahkan secara eksplisit mempertentangkan istilah “Islam ala Prabowo” dengan konsep Islam yang bersumber dari Rasulullah.
Namun, kritik tersebut merupakan pandangan dari pihak yang menulisnya, bukan keterangan resmi bahwa buku tersebut bermaksud membuat “versi Islam baru”.
Justru dari keterangan mengenai isi buku, pembahasannya lebih diarahkan pada cara melihat kehidupan dan kepemimpinan Prabowo dari perspektif nilai-nilai Islam.
Mengapa Sekarang Kembali Viral?
Ada satu hal yang cukup menarik.
Buku tersebut sudah beredar sejak 2025. Bahkan Gramedia masih mencantumkannya sebagai buku yang ditulis Abdur Rahim Hasan, Rikal Dikri dan Mush’ab Muqoddas.
Namun pada 4 September 2026, sejumlah pemberitaan kembali mengangkat buku tersebut karena banyak pengguna media sosial baru mengetahui keberadaannya. Salah satu pemberitaan menyebut bahwa media sosial kembali ramai setelah sebuah unggahan TikTok membahas buku tersebut.
Fenomena seperti ini sebenarnya cukup lazim di era media sosial. Sebuah konten lama dapat kembali mendapatkan perhatian ketika ada pengguna yang menemukan, mengunggah ulang atau membahasnya dari perspektif berbeda.
Akibatnya, sesuatu yang sebenarnya sudah terjadi satu tahun sebelumnya dapat terasa seperti peristiwa baru.
Islam, Politik dan Citra Kepemimpinan
Terlepas dari kontroversi judulnya, buku ini memperlihatkan satu fenomena menarik dalam politik Indonesia: agama dan kepemimpinan nasional masih menjadi bagian penting dari cara publik membaca seorang pemimpin.
Prabowo sendiri bukan dikenal sebagai tokoh yang tumbuh dari lingkungan pesantren tradisional. Namun perjalanan politiknya kemudian memperlihatkan hubungan yang semakin intens dengan berbagai kelompok dan organisasi keagamaan.
Karena itu, buku tersebut mencoba menawarkan perspektif lain: bukan melihat Prabowo hanya sebagai mantan perwira militer, ketua umum partai atau presiden, tetapi juga sebagai seorang Muslim yang menjalani perjalanan hidup dan politiknya.
Di sisi lain, masyarakat tentu tetap memiliki hak untuk memberikan penilaian kritis terhadap isi buku maupun penggunaan istilah “Islam ala Prabowo”.
Pada akhirnya, judul buku tidak otomatis menjadi definisi tentang Islam itu sendiri.
Islam tetap merupakan agama dengan sumber ajaran yang memiliki sejarah, tradisi keilmuan dan interpretasi yang sangat panjang. Sementara “Islam ala Prabowo” dalam konteks buku tersebut merupakan sebuah cara penulis menggambarkan hubungan antara seorang tokoh politik dengan nilai-nilai keislaman.
Justru di situlah menariknya perdebatan ini.
Pertanyaannya bukan sekadar apakah seseorang setuju atau tidak dengan istilah “Islam ala Prabowo”, tetapi bagaimana agama, identitas seorang pemimpin dan politik kebangsaan ditempatkan dalam ruang publik Indonesia.
Dan mungkin itulah alasan mengapa sebuah buku yang sebenarnya sudah diluncurkan setahun lalu tiba-tiba kembali menjadi bahan perbincangan hari ini.