NGIKLANPEDIA.COM – Nama KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau yang akrab disapa Gus Baha menjadi perhatian setelah masuk dalam jajaran Wakil Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) masa khidmah 2026–2031. Ulama asal Rembang, Jawa Tengah, ini dikenal luas karena kedalaman kajian Al-Qur’an dan gaya pengajian yang mudah dipahami masyarakat.
Penetapan Gus Baha sebagai salah satu Wakil Rais Aam diumumkan pada 30 September 2026. Ia akan mendampingi Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar bersama sejumlah ulama lainnya dalam struktur kepemimpinan organisasi tersebut.
Kehadiran Gus Baha dalam jajaran pimpinan PBNU menarik untuk dicermati, terutama karena perjalanan keilmuannya tumbuh dari tradisi pesantren yang kuat. Sosoknya dikenal bukan hanya melalui pengajian langsung, tetapi juga melalui rekaman ceramah yang tersebar luas di berbagai platform digital.
Berasal dari Keluarga Ulama Ahli Al-Qur’an
Gus Baha lahir di Desa Narukan, Kecamatan Kragan, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, pada 29 September 1970. Ia merupakan putra KH Nursalim al-Hafizh, seorang ulama yang dikenal memiliki perhatian mendalam terhadap Al-Qur’an.
Lingkungan keluarga menjadi bagian penting dalam pembentukan keilmuan Gus Baha. Sejak kecil, ia mendapatkan pendidikan Al-Qur’an langsung dari ayahnya. Proses tersebut menjadi fondasi bagi perjalanan panjangnya dalam mendalami ilmu agama, khususnya tafsir Al-Qur’an.
Tradisi keluarga yang dekat dengan pengkajian Al-Qur’an turut membentuk karakter keilmuan Gus Baha. Baginya, memahami ajaran Islam tidak cukup hanya dengan membaca teks, tetapi juga membutuhkan penguasaan disiplin ilmu yang mendukung pemahaman terhadap kandungan ayat.
Latar belakang inilah yang kemudian menjadi salah satu ciri utama dalam pengajian-pengajiannya.
Buku Pintar 30 Hari Berjualan Produk Digital
Bingung memulai jualan produk digital? Dapatkan panduan utama beserta bonus Mesin Konten 30 Hari untuk membantumu merencanakan konten promosi secara lebih terstruktur.
- 2 buku digital dalam 1 paket
- Panduan dan materi praktik
- File PDF yang bisa dibaca di HP
Berguru kepada KH Maimoen Zubair
Ketika memasuki usia remaja, Gus Baha melanjutkan pendidikan pesantren di Pondok Pesantren Al-Anwar, Sarang, Rembang. Di sana, ia menimba ilmu kepada KH Maimoen Zubair atau yang akrab dikenal sebagai Mbah Moen.
Pesantren Al-Anwar dikenal sebagai salah satu lingkungan pendidikan Islam yang menekankan penguasaan kitab-kitab klasik. Melalui tradisi belajar tersebut, Gus Baha memperdalam berbagai disiplin ilmu keislaman, termasuk fikih, hadis, dan tafsir.
Advertorial Pilihan
Informasi dan cerita menarik dari berbagai pihak.
Pesantren Bina Insan Mulia Buka Seleksi 2.500 Calon Santri Baru Tahun Ajaran 2027–2028, Ini Jadwal dan Lokasinya
11 Okt 2026
Cara Mendapatkan Penjualan di Lynk.id: Bukan Sekadar Mengumpulkan Klik
06 Okt 2026
Workshop Nasional Ibu Nyai dan Ning Nusantara Batch 2 di Banten, Gratis untuk 500 Peserta
24 Sep 2026Hubungan keilmuan dengan Mbah Moen menjadi bagian penting dalam perjalanan Gus Baha. Tradisi pesantren tidak hanya mengajarkan penguasaan materi, tetapi juga menekankan adab kepada guru, ketekunan belajar, dan tanggung jawab dalam menyampaikan ilmu.
Setelah menyelesaikan perjalanan pendidikannya, Gus Baha dikenal aktif mengisi pengajian dan mengembangkan kajian keislaman. Ia kemudian semakin dikenal masyarakat melalui penjelasannya yang menggabungkan pembahasan kitab dengan contoh-contoh yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Gaya Pengajian yang Dekat dengan Masyarakat
Salah satu karakter yang membuat Gus Baha dikenal luas adalah cara penyampaiannya yang santai, disertai humor, tetapi tetap berangkat dari pembahasan keilmuan.
Dalam pengajian, ia kerap menjelaskan persoalan agama melalui penafsiran ayat Al-Qur’an dan rujukan kitab-kitab klasik. Pembahasan yang mendalam disampaikan dengan bahasa yang relatif mudah diikuti oleh jamaah dari berbagai latar belakang.
Pendekatan tersebut membuat pengajiannya menjangkau masyarakat di luar lingkungan pesantren. Banyak orang mengenal Gus Baha melalui potongan ceramah dan rekaman pengajian yang beredar di internet.
Fenomena ini memperlihatkan perubahan cara masyarakat mengakses pengetahuan agama. Media digital memungkinkan materi pengajian menjangkau audiens lebih luas, meskipun pemahaman terhadap suatu ceramah tetap perlu memperhatikan konteks pembahasan secara utuh.
Bagi Gus Baha, tradisi keilmuan pesantren menjadi landasan dalam menyampaikan penjelasan agama. Popularitas digital merupakan salah satu saluran penyebaran pengajian, bukan pengganti proses belajar dan pendalaman ilmu.
Menjadi Wakil Rais Aam PBNU 2026–2031
Dalam susunan PBNU masa khidmah 2026–2031, Gus Baha dipercaya menjadi salah satu Wakil Rais Aam. Struktur tersebut diumumkan pada 30 September 2026 di Kantor PBNU, Jakarta.
Selain Gus Baha, jajaran Wakil Rais Aam diisi KH Nurul Huda Jazuli, KH Anwar Iskandar, KH Afifuddin Muhajir, dan KH Muhammad Musthofa Aqiel Siroj. Mereka mendampingi KH Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam.
Dalam struktur organisasi NU, Rais Aam dan jajaran Syuriyah memiliki peran penting dalam kepemimpinan keulamaan serta pengarahan organisasi sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Penunjukan Gus Baha menempatkannya dalam tanggung jawab yang lebih luas. Jika selama ini masyarakat banyak mengenalnya melalui kajian tafsir dan pengajian, jabatan baru tersebut juga menghubungkannya dengan dinamika organisasi, pelayanan keagamaan, dan kehidupan warga Nahdliyin.
Kontribusinya dalam kepengurusan tentu akan terlihat melalui pelaksanaan tugas dan amanah bersama jajaran pimpinan lainnya sepanjang masa khidmah.
Tantangan Pengabdian di Lingkungan Nahdlatul Ulama
Nahdlatul Ulama memiliki jaringan pesantren, lembaga pendidikan, kegiatan sosial, dan pelayanan keagamaan yang tersebar di berbagai daerah. Kepemimpinan PBNU karena itu tidak hanya berkaitan dengan persoalan internal, tetapi juga menyangkut kebutuhan masyarakat yang terus berkembang.
Dalam konteks tersebut, tradisi keilmuan menjadi salah satu unsur penting dalam menjaga kesinambungan organisasi. Sementara itu, berbagai tantangan sosial menuntut kerja bersama, komunikasi yang baik, dan pelaksanaan program yang memberikan manfaat nyata.
Gus Baha kini menjadi bagian dari kepemimpinan tersebut. Latar belakangnya sebagai ulama yang dikenal melalui kajian Al-Qur’an memberikan konteks tersendiri bagi masyarakat untuk mengikuti kiprahnya dalam struktur PBNU.
Perjalanan kepengurusan 2026–2031 akan menjadi ruang untuk melihat bagaimana seluruh jajaran pimpinan menjalankan amanah organisasi.
Menjaga Tradisi Keilmuan di Era Digital
Perjalanan Gus Baha memperlihatkan hubungan antara tradisi pesantren dan perkembangan media digital. Kajian yang berakar pada kitab-kitab klasik kini dapat diakses oleh masyarakat yang lebih luas melalui rekaman pengajian.
Namun, penyebaran ilmu tetap membutuhkan ketelitian dalam memahami isi, sumber, dan konteks penjelasan. Popularitas seseorang di ruang digital tidak menghilangkan pentingnya proses belajar yang mendalam.
Dengan jabatan barunya sebagai Wakil Rais Aam PBNU, Gus Baha memasuki babak pengabdian yang berbeda dalam perjalanan keilmuannya. Masyarakat kini dapat mengikuti kiprahnya bukan hanya sebagai pengajar dan ulama tafsir, tetapi juga sebagai bagian dari jajaran pimpinan Nahdlatul Ulama.
Perjalanan tersebut akan menjadi bagian dari dinamika NU selama lima tahun ke depan, ketika tradisi keilmuan, kebutuhan warga, dan tantangan zaman terus berinteraksi dalam kehidupan organisasi.
Sumber referensi: NU Online, detikHikmah, dan pengumuman resmi susunan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama masa khidmah 2026–2031.