Ketika berbicara tentang dukungan terhadap Palestina di Eropa, nama Spanyol hampir selalu menjadi salah satu negara yang paling sering disebut. Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai kota di Spanyol dipenuhi aksi solidaritas, penggalangan bantuan kemanusiaan, hingga dukungan pemerintah terhadap upaya perdamaian di Timur Tengah. Pertanyaannya, mengapa isu Palestina begitu dekat di hati banyak masyarakat Spanyol?
Jawabannya tidak sesederhana persoalan politik. Ada faktor sejarah, budaya, hingga nilai kemanusiaan yang membentuk cara pandang masyarakat Spanyol terhadap konflik yang telah berlangsung selama puluhan tahun.
- 26 Juli 2026: Palestine Caravan Memulai Konvoi Darat Menuju Palestina, Ini Tujuan dan Rutenya
- Tragedi Euro 2024 Terulang Kembali! Prancis Kembali Takluk dari Spanyol di Panggung Besar
- Pidato Anwar Ibrahim di Parlemen Malaysia tentang Israel, Tegaskan Dukungan terhadap Palestina
Salah satu faktor yang sering dikaitkan adalah warisan sejarah Al-Andalus. Selama hampir delapan abad, sebagian wilayah Spanyol berada di bawah pemerintahan Islam. Masa itu meninggalkan jejak yang masih terlihat hingga kini, mulai dari Istana Alhambra di Granada, Masjid Agung Córdoba, hingga berbagai peninggalan ilmu pengetahuan dan arsitektur. Warisan tersebut membuat sejarah dunia Islam bukanlah sesuatu yang asing bagi masyarakat Spanyol.
Meski masyarakat Spanyol modern sangat beragam, memori sejarah Al-Andalus ikut membentuk ketertarikan terhadap perkembangan dunia Arab dan Timur Tengah. Banyak kalangan akademisi, sejarawan, dan budayawan di Spanyol yang mempelajari hubungan antara Eropa dan peradaban Islam, termasuk sejarah Yerusalem atau Al-Quds yang memiliki arti penting bagi tiga agama besar.
Selain faktor sejarah, dukungan terhadap Palestina juga lahir dari kepedulian terhadap isu kemanusiaan. Berbagai organisasi masyarakat sipil di Spanyol aktif menggalang bantuan bagi warga sipil yang terdampak konflik. Demonstrasi damai yang berlangsung di Madrid, Barcelona, Sevilla, dan sejumlah kota lainnya umumnya menyoroti perlindungan terhadap warga sipil, penghormatan terhadap hak asasi manusia, serta pentingnya penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi.
Sikap tersebut juga tercermin dalam kebijakan pemerintah Spanyol. Pada tahun 2024, Spanyol secara resmi mengakui Negara Palestina sebagai bagian dari dukungan terhadap solusi dua negara. Pemerintah menilai bahwa pengakuan tersebut merupakan langkah untuk mendorong terciptanya perdamaian yang adil dan berkelanjutan, bukan sebagai bentuk penolakan terhadap keberadaan negara lain.
Namun demikian, penting dipahami bahwa pandangan masyarakat Spanyol tidak sepenuhnya seragam. Seperti negara demokrasi lainnya, terdapat beragam pendapat mengenai cara terbaik menyelesaikan konflik Palestina–Israel. Ada yang menekankan diplomasi, ada pula yang lebih fokus pada bantuan kemanusiaan atau penghormatan terhadap hukum internasional. Perbedaan pandangan tersebut menjadi bagian dari dinamika politik yang wajar.
Pada akhirnya, kedekatan sebagian masyarakat Spanyol terhadap isu Palestina lahir dari perpaduan antara sejarah, kepedulian kemanusiaan, dan keyakinan bahwa perdamaian hanya dapat dicapai melalui dialog serta penghormatan terhadap hak-hak semua pihak. Warisan Al-Andalus memang menjadi bagian dari identitas sejarah Spanyol, tetapi yang paling menonjol saat ini adalah semangat untuk mendorong penyelesaian konflik secara damai dan bermartabat.
Bagi pembaca, memahami hubungan Spanyol dan Palestina tidak hanya membuka wawasan tentang sejarah, tetapi juga mengingatkan bahwa pengalaman masa lalu sering kali memengaruhi cara sebuah bangsa memandang persoalan dunia di masa kini.