Makkah dan Madinah sejak berabad-abad menjadi pusat pembelajaran Islam dunia. Tidak sedikit ulama Nusantara yang menghabiskan waktu bertahun-tahun di Tanah Suci untuk memperdalam ilmu agama sebelum kembali mengabdi di Indonesia. Menariknya, meskipun belajar di kota yang sama, setiap tokoh memiliki jalan pengabdian yang berbeda sesuai tantangan zamannya.
Empat di antaranya adalah KH Hasyim Asy’ari, KH Ahmad Dahlan, Kyai Maimun Zubair, dan Kyai Hilmi Aminuddin. Keempatnya memiliki benang merah yang sama, yakni pernah menimba ilmu di Makkah dan Madinah, tetapi kemudian memberikan kontribusi yang berbeda bagi perkembangan Islam di Indonesia.
KH Hasyim Asy’ari dikenal sebagai ulama besar yang memperkuat tradisi pesantren di Nusantara. Setelah kembali dari Makkah, beliau mendirikan Pondok Pesantren Tebuireng di Jombang yang kemudian berkembang menjadi salah satu pusat pendidikan Islam terbesar. Pada tahun 1926, beliau bersama para ulama mendirikan Nahdlatul Ulama (NU) sebagai wadah menjaga tradisi Ahlussunnah wal Jamaah sekaligus merespons dinamika sosial dan keagamaan saat itu.
Sementara itu, KH Ahmad Dahlan juga memperoleh pengalaman intelektual yang mendalam selama belajar di Makkah. Sepulang ke Tanah Air, beliau membawa semangat pembaruan dalam pendidikan dan pelayanan sosial. Gagasan tersebut kemudian melahirkan Muhammadiyah pada tahun 1912, organisasi yang dikenal luas melalui amal usaha di bidang pendidikan, kesehatan, dan kegiatan sosial.
Jejak keilmuan di Makkah juga tampak pada sosok Kyai Maimun Zubair. Ulama kharismatik asal Sarang, Rembang, ini memperdalam ilmu kepada sejumlah ulama terkemuka di Tanah Suci. Sekembalinya ke Indonesia, beliau mengembangkan pendidikan pesantren, aktif berdakwah, membina santri dari berbagai daerah, serta turut memberikan pandangan dalam kehidupan kebangsaan. Kiprahnya menjadikan beliau salah satu ulama yang dihormati lintas kalangan.
Nama lain yang juga memiliki hubungan erat dengan Makkah dan Madinah adalah Kyai Hilmi Aminuddin. Masa belajarnya di Tanah Suci membentuk wawasan keislaman dan jaringan keilmuan yang kemudian berpengaruh dalam aktivitas dakwahnya di Indonesia. Setelah kembali ke Tanah Air, Kyai Hilmi aktif melakukan pembinaan kader dan pengembangan gerakan tarbiyah. Peran tersebut kemudian menjadi salah satu unsur penting dalam perkembangan gerakan dakwah yang pada perjalanan berikutnya memiliki keterkaitan historis dengan lahir dan berkembangnya Partai Keadilan yang kemudian menjadi Partai Keadilan Sejahtera (PKS).
Meskipun menempuh pendidikan di kota yang sama, keempat tokoh tersebut menunjukkan bahwa ilmu dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk pengabdian. Ada yang menguatkan tradisi pesantren, ada yang mendorong pembaruan pendidikan, ada yang membina ribuan santri, dan ada pula yang membangun gerakan dakwah serta pembinaan kader.
Perjalanan mereka membuktikan bahwa Makkah bukan hanya menjadi tempat menuntut ilmu, tetapi juga menjadi titik awal lahirnya gagasan-gagasan besar yang kemudian memberi warna bagi perkembangan Islam di Indonesia. Dari ruang-ruang belajar di Tanah Suci, lahirlah kontribusi yang hingga kini masih dirasakan melalui pesantren, organisasi kemasyarakatan, lembaga pendidikan, hingga gerakan dakwah yang terus berkembang di berbagai daerah.