Sedikit bangunan di dunia memiliki perjalanan sejarah sepanjang dan sekompleks Hagia Sophia. Berdiri megah di jantung Istanbul, bangunan ini telah menjadi gereja, masjid, museum, lalu kembali menjadi masjid. Namun, perubahan fungsi tersebut bukan sekadar persoalan tempat ibadah. Selama hampir 1.500 tahun, Hagia Sophia menjadi simbol pergantian kekuasaan, identitas bangsa, hingga arah politik Turki.
Karena itu, memahami sejarah Hagia Sophia sama artinya dengan memahami perjalanan politik Turki dari era Kekaisaran Bizantium, Kesultanan Utsmaniyah (Ottoman), Republik Turki, hingga pemerintahan Presiden Recep Tayyip Erdoğan.
Dari Gereja Terbesar Dunia
Hagia Sophia dibangun pada tahun 537 M atas perintah Kaisar Justinian I dari Kekaisaran Bizantium. Selama hampir seribu tahun, bangunan ini menjadi katedral utama Gereja Ortodoks Timur dan dikenal sebagai salah satu pencapaian terbesar arsitektur dunia.
Pada masa itu, Hagia Sophia bukan hanya pusat ibadah, tetapi juga lambang kejayaan Kekaisaran Bizantium yang menguasai wilayah Eropa Timur dan sebagian Timur Tengah.
Penaklukan Konstantinopel Mengubah Sejarah
Perubahan besar terjadi pada 1453 ketika Sultan Mehmed II dari Kesultanan Utsmaniyah berhasil menaklukkan Konstantinopel.
Setelah kemenangan tersebut, Hagia Sophia diubah menjadi masjid. Salib dan lonceng gereja digantikan dengan mihrab, mimbar, serta kemudian ditambah empat menara. Namun banyak mozaik dan unsur arsitektur Bizantium tetap dipertahankan sebagai bagian dari warisan sejarah.
Perubahan fungsi itu memiliki makna politik yang sangat besar. Bagi Kesultanan Utsmaniyah, Hagia Sophia menjadi simbol berakhirnya Kekaisaran Bizantium sekaligus lahirnya Istanbul sebagai pusat pemerintahan Islam yang baru.
Atatürk Mengubah Hagia Sophia Menjadi Museum
Setelah Kesultanan Utsmaniyah runtuh, Mustafa Kemal Atatürk mendirikan Republik Turki pada 1923 dengan membawa semangat modernisasi dan sekularisme.
Pada 1934, pemerintah memutuskan mengubah Hagia Sophia menjadi museum. Kebijakan tersebut dipandang sebagai simbol bahwa republik baru ingin menjaga jarak antara negara dan agama sekaligus membangun citra Turki sebagai negara modern yang terbuka bagi semua peradaban.
Selama puluhan tahun, Hagia Sophia menjadi salah satu destinasi wisata paling terkenal di dunia dan masuk dalam daftar Warisan Dunia UNESCO.
Erdoğan dan Kembalinya Hagia Sophia sebagai Masjid
Perdebatan mengenai status Hagia Sophia kembali mengemuka pada era Presiden Recep Tayyip Erdoğan.
Pada Juli 2020, Dewan Negara Turki membatalkan keputusan kabinet tahun 1934 yang menjadikan Hagia Sophia sebagai museum. Tak lama kemudian, pemerintah menetapkan kembali bangunan tersebut sebagai masjid.
Keputusan ini mendapat sambutan positif dari banyak kalangan di Turki yang melihatnya sebagai pemulihan warisan Kesultanan Utsmaniyah. Namun di sisi lain, UNESCO, Yunani, Gereja Ortodoks, dan sejumlah negara menyampaikan keprihatinan karena khawatir perubahan tersebut memengaruhi nilai universal situs bersejarah itu.
Peristiwa ini menunjukkan bahwa Hagia Sophia masih memiliki makna politik yang sangat kuat, bahkan hampir enam abad setelah penaklukan Konstantinopel.
Simbol Dua Visi tentang Turki
Banyak ilmuwan politik menilai Hagia Sophia mencerminkan dua visi besar yang membentuk Turki modern.
Bagi Mustafa Kemal Atatürk, Hagia Sophia sebagai museum melambangkan republik yang sekuler, modern, dan berorientasi pada Barat.
Sementara bagi Recep Tayyip Erdoğan, pengembalian statusnya sebagai masjid dipandang sebagai simbol penghormatan terhadap sejarah Kesultanan Utsmaniyah, identitas Islam, dan kedaulatan Turki dalam menentukan kebijakan dalam negerinya.
Perbedaan tersebut menjadikan Hagia Sophia bukan sekadar bangunan bersejarah, tetapi juga simbol perdebatan mengenai identitas nasional Turki.
Mengapa Hagia Sophia Masih Relevan?
Hingga kini, Hagia Sophia tetap menjadi salah satu ikon paling terkenal di dunia. Setiap tahun jutaan wisatawan dan peziarah datang untuk menyaksikan perpaduan arsitektur Bizantium dan Ottoman yang berdiri dalam satu bangunan.
Namun daya tarik utamanya bukan hanya terletak pada kubah raksasa atau mozaik kunonya. Hagia Sophia adalah saksi hidup bagaimana agama, sejarah, budaya, dan politik saling bertemu dalam satu tempat.
Tidak banyak bangunan yang mampu merekam perjalanan tiga peradaban besar sekaligus: Bizantium, Ottoman, dan Republik Turki.
Kesimpulan
Selama hampir 1.500 tahun, Hagia Sophia telah mengalami berbagai perubahan yang mencerminkan pergantian zaman dan kekuasaan. Dari gereja menjadi masjid, kemudian museum, lalu kembali menjadi masjid, setiap perubahan selalu membawa pesan politik yang berbeda.
Karena itu, Hagia Sophia bukan hanya warisan arsitektur dunia, tetapi juga simbol bagaimana identitas sebuah bangsa terus dibentuk oleh sejarah, agama, dan dinamika politik. Memahami Hagia Sophia berarti memahami salah satu kunci penting dalam membaca perjalanan panjang Turki hingga hari ini.