Jejak Ahmad Zaki Ali, Relawan Kemanusiaan yang Mengabdikan Hidupnya hingga Akhir Hayat

Ada orang yang mengabdikan hidupnya melalui profesi. Ada pula yang memilih menjadikan kepedulian kepada sesama sebagai jalan hidup. Ahmad Zaki Ali termasuk yang kedua. Selama bertahun-tahun, ia dikenal sebagai relawan kemanusiaan sekaligus pendiri Yayasan Gerak Bareng, sebuah gerakan sosial yang bergerak membantu masyarakat yang membutuhkan, baik di dalam maupun luar negeri.

Perjalanan itu berakhir di Nusa Tenggara Timur. Pada Jumat, 21 Agustus 2026, Ahmad Zaki meninggal dunia ketika sedang menjalankan misi kemanusiaan untuk membantu korban gempa di Flores. Ia berada di NTT selama sekitar enam hari setelah gempa besar mengguncang wilayah tersebut pada 15 Agustus.

Namun, kisah Ahmad Zaki sesungguhnya tidak dimulai di Flores.

Dari satu bencana ke bencana lain

Di lingkungan Gerak Bareng, Ahmad Zaki dikenal dengan panggilan Bang Jek. Ia membangun aktivitas kemanusiaan yang menjangkau berbagai daerah. Kesaksian yang dimuat DMI TV menyebut aktivitasnya membentang dari Aceh hingga Papua, bahkan sampai ke Turki. Bantuan yang dibawa tidak hanya berupa sembako, tetapi juga kebutuhan lain, termasuk dukungan kesehatan.

Baca juga :

Salah satu ciri penting dari kiprahnya adalah keberanian untuk datang langsung ke lokasi. Ia tidak berhenti pada pengumpulan dan pengiriman bantuan, tetapi terlibat dalam proses penyaluran dan pendampingan masyarakat.

Jejak itu terlihat pula dalam berbagai program sosial Gerak Bareng. Salah satunya adalah pembangunan pipanisasi darurat sepanjang sekitar 3,5 kilometer untuk membantu kebutuhan air bersih warga Desa Sukajadi, Kecamatan Cimanggu, Sukabumi. Program tersebut melibatkan lebih dari 100 relawan, aparat desa dan masyarakat.

Bagi Ahmad Zaki, persoalan kemanusiaan rupanya tidak selalu harus menunggu bencana besar. Kebutuhan air bersih, pendidikan, kesehatan dan kehidupan masyarakat kecil juga menjadi bagian dari ruang pengabdiannya.

Dari Indonesia Timur hingga Agats

Salah satu jejak yang menarik adalah kiprahnya di Indonesia Timur.

Pada Ramadan 2025, Ahmad Zaki bersama Gerak Bareng menyalurkan zakat dan infak kepada masyarakat di wilayah Indonesia Timur. Program tersebut menyasar para dai, mualaf dan masyarakat di kawasan pedalaman.

Salah satu wilayah yang didatangi adalah Agats, Kabupaten Asmat, Papua Selatan.

Agats bukanlah wilayah yang mudah dijangkau. Karena itu, perjalanan membawa zakat dan infak ke kawasan tersebut menunjukkan bahwa orientasi bantuan yang dijalankan Zaki tidak hanya terpusat di kota-kota besar atau wilayah yang mudah mendapatkan perhatian publik.

Ia juga menyentuh kelompok masyarakat yang secara geografis berada jauh dari pusat-pusat ekonomi dan pemerintahan.

Palestina: ketika kepedulian melampaui batas negara

Kiprah Ahmad Zaki juga membawa dirinya ke isu Palestina.

Pada Januari 2025, ia menjadi salah satu relawan yang terlibat dalam misi kemanusiaan menuju Yordania. Misi tersebut merupakan kolaborasi 17 lembaga kemanusiaan Indonesia. Zaki disebut akan memimpin keberangkatan tim yang terdiri dari empat relawan untuk misi selama 12 hari.

Tujuan utamanya adalah membantu warga Palestina yang terdampak perang, termasuk mereka yang berada di kamp-kamp pengungsian di Yordania serta mendukung penyaluran bantuan menuju Gaza.

Skala program tersebut cukup besar. Sepanjang 2024, jaringan 17 lembaga tersebut melaporkan penyaluran ribuan paket makanan, paket pangan, pakaian hangat, selimut, dukungan psikososial dan sekitar 70 ribu liter air bersih. Nilai bantuan yang dilaporkan mencapai hampir Rp2,9 miliar dengan puluhan ribu penerima manfaat.

Dalam konferensi pers sebelum keberangkatan, Zaki berbicara mengenai kondisi warga Gaza dan kebutuhan tempat tinggal bagi masyarakat yang kehilangan rumah. Ia juga meminta doa agar tim dapat menjalankan amanah dan kembali dengan selamat.

Setahun lebih kemudian, doa itu memiliki makna yang berbeda.

Misi terakhir di Flores

Pada 16 Agustus 2026, Ahmad Zaki berangkat menjalankan misi bantuan gempa di NTT. Selama beberapa hari ia bersama tim mendistribusikan bantuan kepada masyarakat terdampak.

Dalam video terakhirnya, yang diunggah hanya beberapa jam sebelum meninggal, Zaki menyampaikan bahwa sebagian besar amanah dari para donatur telah disalurkan. Ia menyebut sekitar 317 keluarga di wilayah Reok dan Lamba Leda telah menerima bantuan. Dapur umum juga telah dibangun di beberapa titik.

Tetapi Zaki tidak menganggap pekerjaan itu selesai.

Ia masih mengkhawatirkan kondisi para penyintas. Gempa susulan terus terjadi, rumah-rumah semakin rusak, jalan mengalami retakan dan ancaman longsor membuat akses menuju wilayah lain menjadi sulit.

Dalam video tersebut, ia justru meminta masyarakat terus memberikan dukungan kepada para penyintas dan relawan.

“Allah masih memberi kita kesempatan untuk terus berbuat baik,” demikian pesan yang disampaikannya dalam video terakhir.

Beberapa jam kemudian, kesempatan itu berakhir.

Saat hendak menuju Desa Satar Padut untuk mendistribusikan bantuan berikutnya, kondisi Zaki tiba-tiba menurun. Menurut kesaksian rekannya, ia sebelumnya terlihat sehat dan bersemangat serta tidak mengeluhkan sakit. Setelah kendaraan berbalik arah, Zaki sempat mengucapkan istigfar sebelum tidak sadarkan diri. Tim kemudian membawanya ke posko medis, tetapi nyawanya tidak tertolong. Ia dinyatakan meninggal sekitar pukul 16.40 WITA.

Jenazahnya kemudian dievakuasi menggunakan helikopter Basarnas menuju Labuan Bajo sebelum diterbangkan ke Jakarta.

Hidup yang diukur dari manfaat

Jika seluruh perjalanan tersebut disusun dalam satu garis, terlihat sebuah pola yang kuat: Ahmad Zaki bergerak ke tempat-tempat ketika kebutuhan kemanusiaan hadir.

Dari Aceh, Papua, Sukabumi dan berbagai wilayah Indonesia, hingga Turki dan Palestina. Dari bantuan bencana, air bersih dan pangan, hingga zakat, infak, kesehatan dan pendampingan sosial.

Republika juga mencatat sisi lain dari kiprahnya. Zaki dikenal tidak hanya membantu orang dalam kondisi darurat, tetapi melakukan pendampingan. Ia terlibat dalam program yang menyentuh komunitas anak punk dan pembinaan orang-orang yang ingin berhijrah, termasuk program penghapusan tato.

Karena itu, warisan Ahmad Zaki Ali tidak semata-mata berupa jumlah paket bantuan yang pernah disalurkan.

Warisan terbesarnya mungkin justru sebuah cara pandang: bahwa membantu manusia berarti bersedia datang, melihat langsung persoalan, kemudian melakukan sesuatu yang nyata.

Ironis sekaligus mengharukan, perjalanan panjang tersebut berakhir ketika ia sedang melakukan hal yang selama bertahun-tahun menjadi bagian dari hidupnya: membawa bantuan kepada orang lain.

Ia datang ke Flores bukan untuk mencari perhatian. Ia datang membawa amanah para donatur kepada korban gempa. Dan ketika ajal menjemput pada hari keenam misinya, ia masih berada di tengah perjalanan kemanusiaan itu.

Ahmad Zaki Ali telah pergi. Namun jejaknya tertinggal di banyak tempat—pada keluarga yang menerima bantuan, masyarakat pedalaman yang mendapatkan zakat, pengungsi Palestina yang memperoleh makanan dan perlengkapan hidup, warga yang mendapatkan akses air bersih, serta para relawan muda yang pernah bekerja bersamanya.

Pada akhirnya, mungkin ukuran sebuah kehidupan bukan seberapa lama seseorang hidup, melainkan seberapa banyak kehidupan lain yang disentuhnya selama ia hidup.

Ahmad Zaki memilih menghabiskan waktunya untuk itu. Dan hingga akhir hayatnya, ia tetap berada di jalan yang sama: berusaha hadir ketika orang lain membutuhkan pertolongan.

Tinggalkan komentar