Nama Khozin Abu Faqih mungkin tidak setenar sejumlah elite Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang sering muncul di televisi. Namun, bagi mereka yang mengikuti perkembangan dakwah tarbiyah dan perjalanan kaderisasi PKS, nama ini memiliki posisi yang cukup penting.
Khozin Abu Faqih, Lc., lahir di Gresik pada 8 September 1969. Ia menempuh pendidikan di LIPIA Jakarta, lembaga pendidikan Islam yang merupakan cabang Universitas Islam Imam Muhammad bin Saud, Riyadh. Ia menyelesaikan pendidikan Fakultas Syariah pada 1996.
Karier Khozin sejak awal lebih dekat dengan dunia pendidikan dan dakwah. Ia pernah menjadi pengajar di Ma’had Shalahuddin Bogor pada 1994–1996 dan kemudian mengajar di Ma’had Al-Imarat Bandung pada 2000–2009. Aktivitasnya juga berkembang ke dunia kajian Islam, kepenulisan, penerjemahan, serta pembinaan pendidikan keislaman.
Baca juga :
Jejak tersebut menjadi penting karena Khozin tidak hanya menerjemahkan buku-buku keislaman umum. Namanya juga tercatat dalam sejumlah karya yang berkaitan dengan pemikiran gerakan Islam, tarbiyah dan tradisi pemikiran Hasan Al-Banna.
Salah satu contohnya adalah keterlibatannya sebagai penerjemah buku tentang perangkat tarbiyah Ikhwanul Muslimin. Namanya juga tercatat dalam penerjemahan karya yang membahas konsep pemikiran gerakan Ikhwan. Selain itu, terdapat karya mengenai pilar-pilar kebangkitan umat yang mengulas gagasan pembaruan Hasan Al-Banna.
Fakta tersebut menunjukkan bahwa Khozin memiliki kedekatan intelektual dengan literatur tarbiyah yang menjadi salah satu sumber penting perkembangan gerakan dakwah modern di Indonesia.
Namun, satu hal perlu ditegaskan: keterlibatan seseorang dalam menerjemahkan atau mempelajari literatur Ikhwanul Muslimin tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa orang tersebut memiliki kedekatan dengan organisasi tersebut. Untuk sampai pada kesimpulan seperti itu diperlukan bukti organisatoris yang lebih kuat. Khozin juga dalam beberapa ceramahnya membahas kecenderungannya untuk mengamalkan wirid-wirid dan fiqh khas ulama NU (Nahdlatul Ulama) yang menunjukan bahwa sumber keilmuannya berasal dari berbagai literasi madzhab.
Yang menarik adalah bagaimana latar belakang intelektual tersebut kemudian bertemu dengan dunia politik.
Dalam dokumen KPU mengenai struktur DPW PKS Jawa Barat periode 2010–2015, Khozin Abu Faqih tercatat sebagai Ketua Bidang Kaderisasi. Posisi ini bukan jabatan yang bersifat sekadar simbolis. Dalam partai yang dikenal mengembangkan sistem pembinaan kader secara terstruktur, bidang kaderisasi memiliki fungsi strategis.
Peran tersebut juga selaras dengan latar belakang Khozin sebagai pendidik dan aktivis dakwah. Dunia yang selama bertahun-tahun digelutinya memang berkaitan dengan pembinaan, pendidikan, dan pembentukan karakter kader.
Menariknya lagi, pada 2009 Khozin menerbitkan buku berjudul Haruskah Dakwah Merambah Kekuasaan?. Judul tersebut menggambarkan salah satu persoalan penting dalam perkembangan gerakan dakwah: apakah dakwah cukup bergerak di wilayah masyarakat dan pendidikan, atau perlu masuk ke dalam ruang kekuasaan politik.
Pertanyaan itu menjadi semakin relevan ketika melihat perjalanan Khozin sendiri. Ia bukan hanya seorang pendakwah dan penerjemah, tetapi kemudian terlibat dalam struktur kaderisasi partai politik.
Perjalanan tersebut bahkan tidak berhenti di tingkat Jawa Barat. Pada 2022, kanal resmi PKS menyebut Khozin Abu Faqih sebagai Wakil Ketua Bidang Kaderisasi DPP PKS. Dengan demikian, perannya dalam bidang kaderisasi berkembang dari level wilayah menuju struktur nasional.
Di luar politik, Khozin juga tetap bergerak di dunia pendidikan. Namanya tercatat sebagai pembina Labschool PULPEN dan Pesantren Qur’an Atarbiyah. Profil lembaga tersebut menggambarkan dirinya sebagai dai, penerjemah dan penulis yang aktif dalam pendidikan Islam.
Jejaknya juga masuk ke sektor ekonomi syariah. Khozin tercatat pernah disebut dalam sejumlah dokumen perusahaan sebagai anggota Dewan Pengawas Syariah. Posisi tersebut memperlihatkan bahwa aktivitasnya tidak hanya berada di lingkungan dakwah dan politik, tetapi juga bersinggungan dengan kelembagaan ekonomi berbasis syariah.
Jika seluruh perjalanan tersebut disusun dalam satu garis besar, terlihat sebuah pola yang menarik.
LIPIA menjadi salah satu fondasi pendidikan Islamnya. Dunia penerjemahan mempertemukannya dengan berbagai literatur pemikiran Islam dan tarbiyah. Aktivitas pendidikan dan dakwah kemudian menjadi ruang pengabdian. Dari sana muncul keterlibatan dalam kaderisasi PKS, sementara aktivitas pendidikan dan ekonomi syariah tetap berjalan.
Karena itu, Khozin Abu Faqih lebih menarik jika dilihat bukan semata-mata sebagai “ustadz PKS”. Ia merupakan bagian dari ekosistem yang mempertemukan pendidikan Islam, dakwah, tarbiyah, kaderisasi dan politik.
Posisi kaderisasi menjadi salah satu kunci untuk memahami perannya. Berbeda dengan elite politik yang tugas utamanya berkomunikasi dengan publik dan memenangkan pemilu, orang yang bergerak di bidang kaderisasi bekerja lebih banyak di balik layar: membangun sistem pembinaan, menyiapkan kader dan mentransmisikan nilai organisasi kepada generasi berikutnya.
Di titik inilah perjalanan Khozin menjadi menarik. Ia memperlihatkan bagaimana seorang intelektual dan pendidik dapat bergerak dari ruang literatur dan pendidikan menuju struktur politik, tanpa sepenuhnya meninggalkan dunia dakwah dan pembinaan.
Meski demikian, masih terdapat sejumlah pertanyaan yang belum terjawab secara memadai melalui sumber terbuka. Misalnya, kapan tepatnya Khozin mulai terlibat dalam gerakan tarbiyah, siapa saja guru atau mentor yang paling berpengaruh terhadap perjalanan pemikirannya, serta bagaimana hubungan awalnya dengan gerakan dakwah yang kemudian berkembang menjadi salah satu basis kelahiran PKS.
Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting karena dapat membantu menjelaskan satu bagian yang lebih besar dari sejarah politik Islam Indonesia: bagaimana tradisi tarbiyah yang berkembang sejak dekade 1980-an dan 1990-an kemudian bertransformasi menjadi kekuatan politik yang terorganisasi.
Dalam konteks itu, Khozin Abu Faqih merupakan salah satu nama yang layak diperhatikan. Bukan karena ia selalu berada di panggung utama, tetapi justru karena sebagian perjalanan kariernya berada di wilayah yang menentukan bagaimana sebuah gerakan mempertahankan ide, mendidik kader dan meneruskan organisasinya.
Dari ruang kelas, buku-buku terjemahan, majelis dakwah hingga struktur kaderisasi partai, perjalanan Khozin memperlihatkan bahwa politik tidak selalu dimulai dari panggung kampanye. Dalam banyak kasus, politik justru dibangun jauh sebelumnya di ruang pendidikan, forum kajian, jaringan pembinaan dan proses panjang pembentukan kader.