Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang akan digelar di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, pada 27–31 Agustus 2026, memasuki fase paling menentukan. Hanya beberapa hari menjelang pelaksanaan, dinamika internal NU semakin menghangat. Bukan hanya soal siapa yang akan menjadi Ketua Umum PBNU berikutnya, tetapi juga mengenai arah organisasi NU setelah memasuki abad keduanya.
Peta persaingan saat ini menunjukkan sejumlah nama mulai mendapatkan dukungan dari struktur NU di berbagai daerah. Di antara nama yang paling banyak dibicarakan adalah Ketua Umum PBNU petahana Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya, KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin, KH Abdussalam Shohib atau Gus Salam, KH Muhammad Yusuf Chudlori atau Gus Yusuf, serta KH Zulfa Mustofa. Nama Menteri Agama Nasaruddin Umar juga sempat masuk dalam bursa.
Baca juga :
- Sejarah Pemilihan Ketua Umum PBNU: Apa Bedanya Muktamar 2015, 2021, dan 2026?
- Gus Yusuf Chudlori, Tegalrejo, dan Jalan Panjang Menuju Muktamar NU 2026
Namun, Muktamar NU tidak bisa dibaca seperti pemilihan umum biasa. Popularitas seorang tokoh belum tentu berbanding lurus dengan jumlah suara yang dapat diperoleh. Dukungan harus dikonversikan menjadi dukungan dari struktur yang memiliki hak dalam Muktamar.
Gus Kikin dan Kekuatan Jawa Timur
Salah satu perkembangan paling menarik datang dari Jawa Timur. PWNU Jawa Timur secara resmi menugaskan KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin untuk maju sebagai calon Ketua Umum PBNU. Dukungan yang disebut paling konkret adalah dari 45 PCNU di Jawa Timur.
Angka tersebut sangat signifikan. Jawa Timur merupakan salah satu basis historis dan kultural terpenting NU. Jaringan pesantren di wilayah ini sangat luas dan memiliki pengaruh besar terhadap kehidupan organisasi.
Gus Kikin juga mulai memperoleh perhatian dari luar Jawa Timur. Pada Agustus 2026, sejumlah PCNU Jawa Barat bertemu dengannya dan menyampaikan aspirasi mengenai perubahan arah organisasi, penguatan kembali khitah serta pentingnya menjaga NU tetap teduh.
Narasi yang dibawa Gus Kikin karena itu tidak sekadar soal pergantian ketua umum. Ada pesan mengenai penguatan kembali identitas jam’iyah, tata kelola organisasi, persatuan warga NU dan rujukan kepada Qanun Asasi KH Hasyim Asy’ari.
Jika dukungan 45 PCNU Jawa Timur benar-benar solid sampai Muktamar, Gus Kikin memiliki modal awal yang sangat kuat.
Gus Yahya dan Keuntungan Sebagai Petahana
Di sisi lain, Gus Yahya memiliki keunggulan yang tidak dimiliki kandidat lain: status sebagai petahana.
Selama satu periode memimpin PBNU, Gus Yahya telah membangun jaringan dan menjalankan berbagai agenda organisasi. Ia juga telah berpengalaman menghadapi dinamika internal NU yang tidak sederhana.
Gus Yahya menyatakan kembali maju untuk melanjutkan agenda yang telah dimulai. Dalam berbagai kesempatan, ia menegaskan bahwa Muktamar merupakan hak dan kedaulatan PWNU serta PCNU.
Namun, posisi petahana juga menghadirkan risiko. Seluruh dinamika dan persoalan PBNU selama lima tahun terakhir secara otomatis menjadi bagian dari evaluasi terhadap kepemimpinannya.
Karena itu, pertarungan Gus Yahya dengan kandidat perubahan seperti Gus Kikin berpotensi menjadi pertarungan antara dua narasi besar: kontinuitas atau perubahan.
Gus Salam dan Strategi Silaturahmi Lintas Wilayah
Nama lain yang menarik adalah Gus Salam. Berbeda dengan kandidat yang mempunyai basis regional sangat kuat, Gus Salam mencoba membangun jaringan melalui silaturahmi lintas wilayah.
Ia menyebut telah mengunjungi 22 PWNU dan menargetkan menjangkau sebagian besar PWNU sebelum Muktamar.
Strategi tersebut memperlihatkan upaya membangun dukungan secara nasional. Gus Salam juga membawa isu rekonsiliasi organisasi.
Pesan ini cukup penting karena NU dalam beberapa tahun terakhir mengalami berbagai ketegangan internal. Kandidat yang mampu menawarkan jalan tengah dan menyatukan kelompok-kelompok yang berbeda bisa menjadi alternatif apabila pertarungan antara kubu petahana dan kubu perubahan semakin tajam.
Gus Yusuf dan Basis Jawa Tengah
Di Jawa Tengah, Gus Yusuf juga memperoleh dukungan konkret. Sebanyak 23 PCNU Jawa Tengah disebut memberikan dukungan kepadanya.
Gus Yusuf membawa isu tata kelola organisasi serta penguatan pesantren. Basis Jawa Tengah juga tidak bisa diremehkan karena wilayah tersebut merupakan salah satu kantong utama warga NU.
Namun, seperti kandidat lainnya, tantangannya adalah mengubah dukungan regional tersebut menjadi jaringan yang lebih luas. Jika kandidat terlalu terkonsentrasi pada satu wilayah, peluang untuk menguasai Muktamar secara keseluruhan akan lebih sulit.
Gus Zulfa dan Kandidat Kompromi
KH Zulfa Mustofa juga patut diperhitungkan. Sebagai Wakil Ketua Umum PBNU, ia mempunyai pengalaman langsung di dalam struktur organisasi pusat.
Gus Zulfa menyatakan siap maju apabila mendapatkan amanah dari PWNU dan PCNU. Posisi tersebut membuatnya menarik dalam skenario apabila sebagian peserta menginginkan perubahan tetapi tidak menghendaki pertarungan yang terlalu keras.
Ia berpotensi menjadi figur kompromi apabila peta dukungan kandidat utama terfragmentasi.
Angka 99 Menjadi Kunci
Salah satu angka yang paling penting dalam membaca Muktamar kali ini adalah 99.
Aturan pencalonan mensyaratkan seorang calon Ketua Umum PBNU memperoleh sedikitnya 99 dukungan suara peserta untuk dapat maju. Sementara daftar peserta sementara yang dirilis PBNU mencapai 501 struktur, terdiri dari 31 PWNU, 456 PCNU dan 14 PCINU.
Artinya, para kandidat tidak cukup hanya memiliki dukungan moral atau deklarasi dari sejumlah tokoh. Mereka harus memastikan dukungan tersebut berasal dari struktur yang benar-benar memiliki hak suara.
Inilah sebabnya dukungan 45 PCNU Jatim kepada Gus Kikin dan 23 PCNU Jateng kepada Gus Yusuf menjadi penting. Tetapi angka tersebut tetap belum menjamin kemenangan.
Kiai Sepuh dan AHWA Bisa Mengubah Peta
Di atas seluruh kalkulasi tersebut terdapat satu faktor yang jauh lebih sulit dihitung: sikap para kiai sepuh.
Menjelang Muktamar, sejumlah kiai sepuh NU mengeluarkan seruan moral agar proses Muktamar berlangsung jujur, adil dan bermartabat. Mereka juga menyoroti bahaya mobilisasi dukungan, tekanan politik dan transaksi dalam proses pemilihan.
AHWA atau Ahlul Halli wal Aqdi menjadi salah satu mekanisme penting dalam kepemimpinan Syuriyah. Karena itu, Muktamar tidak hanya menentukan siapa yang mengendalikan struktur Tanfidziyah, tetapi juga siapa yang dipercaya menjaga arah keulamaan NU.
Jika pesan para kiai sepuh benar-benar menjadi rujukan para peserta, kalkulasi politik berdasarkan jumlah dukungan bisa berubah.
Tiga Skenario Muktamar
Setidaknya ada tiga skenario yang mungkin terjadi.
Pertama, pertarungan mengerucut menjadi Gus Yahya melawan Gus Kikin. Ini merupakan skenario paling sederhana: petahana menghadapi kandidat dengan momentum perubahan dan basis kuat Jawa Timur.
Kedua, banyak kandidat berhasil melewati ambang 99 suara. Jika Gus Salam, Gus Yusuf dan Gus Zulfa ikut lolos, suara akan terfragmentasi. Dalam situasi seperti ini, kandidat kompromi justru bisa memperoleh keuntungan.
Ketiga, terjadi konsolidasi sebelum pemungutan suara. Para kandidat dan kiai dapat mencari titik temu agar pertarungan tidak semakin memperlebar perbedaan di tubuh NU.
Pada akhirnya, Muktamar ke-35 NU bukan sekadar pertarungan memperebutkan kursi Ketua Umum PBNU. Di balik nama-nama kandidat tersebut terdapat pertanyaan yang lebih besar: NU akan bergerak ke arah mana setelah memasuki abad keduanya?
Apakah melanjutkan garis kepemimpinan yang berjalan, melakukan perubahan, memperkuat kembali khitah dan pesantren, atau mencari jalan rekonsiliasi?
Jawaban atas pertanyaan tersebut akan ditentukan di Tambakberas, Jombang, mulai 27 Agustus 2026. Dan dengan peta dukungan yang masih cair, satu hal tampaknya jelas: Muktamar NU 2026 belum selesai sebelum suara benar-benar dihitung.