Munculnya buku berjudul Islam Ala Prabowo memunculkan perbincangan di tengah masyarakat. Judul tersebut bukan hanya mengundang rasa ingin tahu mengenai bagaimana Presiden Prabowo Subianto menjalankan kehidupan keagamaannya, tetapi juga memunculkan pertanyaan yang lebih mendasar tentang hubungan antara Islam, figur manusia, dan kekuasaan.
Bagi KH Athian Ali M. Da’i, Lc., M.A., persoalan tersebut tidak berhenti pada isi sebuah buku. Ada sesuatu yang lebih mendasar yang perlu direnungkan oleh masyarakat Indonesia: apakah agama Islam layak dinisbatkan kepada nama seorang manusia?
Dalam responsnya terhadap buku Islam Ala Prabowo, Athian Ali mengajak masyarakat melihat persoalan tersebut dari sudut pandang yang lebih luas. Menurutnya, Islam adalah agama yang sempurna, sementara manusia tetap memiliki keterbatasan dan kemungkinan melakukan kesalahan.
Mengapa Islam Harus Dinisbatkan kepada Seseorang?
Salah satu hal yang menjadi sorotan Athian Ali adalah penggunaan nama seseorang dalam penyebutan Islam. Ia mempertanyakan logika di balik istilah Islam Ala Prabowo.
Pertanyaan tersebut menjadi menarik karena dalam sejarah Islam, bahkan para sahabat Nabi Muhammad SAW yang memiliki kedudukan sangat tinggi tidak dikenal dengan istilah yang menyandarkan Islam kepada pribadi mereka.
Baca juga :
- Gus Kautsar dan Polemik Pencatutan Nama dalam Buku Islam Ala Prabowo
- Cholil Nafis di Maulid PKS: Ketika Ulama NU Bicara Persatuan dan Akhlak Politik
Ada Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib. Mereka adalah tokoh-tokoh besar dalam sejarah Islam. Namun, tidak dikenal istilah “Islam Abu Bakar”, “Islam Umar”, atau “Islam Ali” sebagai sebuah bentuk penyandaran agama kepada pribadi mereka.
Buku Pintar 30 Hari Berjualan Produk Digital
Bingung memulai jualan produk digital? Dapatkan panduan utama beserta bonus Mesin Konten 30 Hari untuk membantumu merencanakan konten promosi secara lebih terstruktur.
- 2 buku digital dalam 1 paket
- Panduan dan materi praktik
- File PDF yang bisa dibaca di HP
Bagi Athian Ali, hal tersebut menunjukkan adanya persoalan ketika Islam ditempatkan sebagai identitas yang melekat pada seorang tokoh tertentu.
Sebab, ketika nama seorang manusia ditempelkan pada Islam, ada risiko munculnya kesan bahwa apa yang dilakukan atau dipikirkan oleh manusia tersebut merupakan representasi dari Islam itu sendiri.
Advertorial Pilihan
Informasi dan cerita menarik dari berbagai pihak.
Pesantren Bina Insan Mulia Buka Seleksi 2.500 Calon Santri Baru Tahun Ajaran 2027–2028, Ini Jadwal dan Lokasinya
11 Okt 2026
Cara Mendapatkan Penjualan di Lynk.id: Bukan Sekadar Mengumpulkan Klik
06 Okt 2026
Workshop Nasional Ibu Nyai dan Ning Nusantara Batch 2 di Banten, Gratis untuk 500 Peserta
24 Sep 2026Padahal, seorang manusia dapat benar dan dapat pula salah.
Islam tidak berubah karena perilaku seorang manusia. Sebaliknya, perilaku manusia justru harus diukur berdasarkan nilai-nilai Islam.
Jika Islam Dinisbatkan, Bagaimana Kualitas Orangnya?
Athian Ali juga menyampaikan gagasan yang lebih jauh. Jika pun Islam hendak dinisbatkan kepada seseorang, maka pertanyaannya adalah siapa orang yang pantas mendapatkan penyandaran tersebut?
Menurut sudut pandang yang disampaikannya, seseorang yang dikaitkan begitu erat dengan Islam semestinya memiliki kualitas keislaman yang baik.
Di sinilah persoalannya menjadi semakin penting.
Jangan sampai nama “Islam” justru digunakan untuk memberikan legitimasi keagamaan kepada figur manusia yang perilakunya masih jauh dari kesempurnaan. Sebab, ketika agama ditempelkan pada seorang tokoh, masyarakat bisa saja tanpa sadar menganggap apa pun yang dilakukan tokoh tersebut sebagai sesuatu yang sesuai dengan agama.
Padahal Islam memiliki ukuran dan prinsipnya sendiri.
Manusia harus mengikuti nilai Islam, bukan Islam yang mengikuti citra manusia.
Persoalan Biografi Tokoh yang Masih Hidup
Athian Ali juga mempertanyakan fenomena penulisan biografi tokoh ketika tokoh tersebut masih hidup.
Secara umum, biografi memang dapat ditulis tentang seseorang yang masih hidup. Namun, dalam konteks buku Islam Ala Prabowo, Athian Ali melihat persoalan tersebut dari perspektif yang berbeda.
Ia mempertanyakan apa kepentingan di balik penulisan dan pemberian atribut tertentu kepada seorang penguasa.
Di sinilah kritiknya bersinggungan dengan budaya politik.
Menurut Athian Ali, penulisan buku tentang seorang penguasa berpotensi tidak lagi sekadar menjadi karya dokumentasi atau kajian objektif apabila di dalamnya terdapat kecenderungan untuk mengagungkan atau mencari kedekatan dengan kekuasaan.
Ia bahkan mengingatkan adanya kemungkinan budaya “menjilat penguasa” dalam fenomena tersebut.
Persoalannya bukan sekadar siapa yang menulis buku atau siapa yang menjadi objek buku, tetapi bagaimana masyarakat memperlakukan seorang pemimpin.
Apakah pemimpin ditempatkan sebagai manusia yang tetap dapat dikritik, atau justru perlahan dibangun menjadi figur yang mendapatkan legitimasi hampir di semua bidang, termasuk agama?
“Islam Ala Prabowo” dan Cermin Masyarakat Indonesia
Pada akhirnya, kritik Athian Ali tidak berhenti pada Prabowo ataupun buku Islam Ala Prabowo.
Justru di bagian inilah pesan yang disampaikannya menjadi lebih luas.
Menurut Athian Ali, keberadaan buku tersebut seharusnya membuat masyarakat Indonesia melakukan introspeksi. Sebab, sebuah buku tidak akan lahir dan mendapatkan ruang apabila tidak ada lingkungan sosial yang memungkinkan gagasan tersebut diterima.
Dengan demikian, persoalannya bukan hanya mengapa ada buku berjudul Islam Ala Prabowo, tetapi mengapa masyarakat dapat menganggap judul dan gagasan seperti itu sebagai sesuatu yang biasa.
Di titik ini, buku tersebut dapat dilihat sebagai cermin.
Ia mencerminkan bagaimana sebagian masyarakat Indonesia memandang hubungan antara agama dan kekuasaan. Ia juga memperlihatkan bagaimana seorang pemimpin dapat ditempatkan bukan hanya sebagai pejabat negara, tetapi juga sebagai figur yang ingin diberikan legitimasi melalui simbol-simbol keagamaan.
Athian Ali seakan mengajak masyarakat bertanya kembali: apakah agama harus mengikuti popularitas seorang tokoh, atau justru tokohlah yang harus diukur berdasarkan nilai agama?
Pertanyaan tersebut menjadi semakin penting dalam kehidupan politik Indonesia, ketika agama dan politik sering kali bertemu dalam ruang publik.
Bukan Persoalan Prabowo Semata
Karena itu, membaca pernyataan Athian Ali hanya sebagai kritik terhadap Prabowo akan membuat pesan tersebut menjadi terlalu sederhana.
Persoalan yang dia angkat sebenarnya lebih luas.
Ia sedang mempertanyakan kecenderungan manusia dalam menghubungkan agama dengan figur tertentu, terutama figur yang memiliki kekuasaan. Ia juga mengingatkan bahwa Islam memiliki kedudukan yang jauh lebih tinggi daripada sekadar atribut politik seorang tokoh.
Seorang presiden dapat berganti. Seorang pemimpin dapat mengalami perubahan. Kekuasaan juga memiliki batas waktu.
Namun, Islam tidak bergantung kepada siapa yang sedang berkuasa.
Dari sinilah Islam Ala Prabowo menjadi lebih dari sekadar sebuah judul buku. Ia menjadi pintu masuk untuk membicarakan bagaimana masyarakat Indonesia memahami agama, kepemimpinan, ketokohan, dan kekuasaan.
Pesan Athian Ali pada akhirnya dapat dibaca sebagai ajakan kepada masyarakat untuk tidak menerima begitu saja setiap upaya menghubungkan agama dengan seorang tokoh.
Bukan karena seorang tokoh tidak boleh berbicara tentang Islam, melainkan karena Islam terlalu besar untuk direduksi menjadi “ala” seseorang.
Dan jika sebuah buku dengan judul Islam Ala Prabowo dapat muncul serta dianggap sebagai sesuatu yang biasa, mungkin pertanyaan terpentingnya bukan hanya tentang bukunya.
Pertanyaan yang lebih besar adalah: apa yang sebenarnya buku tersebut cerminkan tentang bangsa Indonesia hari ini
Sedih sekali melihat peluncuran bukunya, dikelilingi oleh orang2 berilmu agama. Orang2 ini persis ahli2 kitab yg lebih mementingkan duniawi daripada agamanya. Seharusnya orang2 inilah yg bertindak pertama kali mengkritisi dan memberi masukan2 judul bukunya. Kesimpulan saya orang2 ini adalah orang2 bodoh yg ndompleng keseharian di lingkungan santri politis atau merrka adalah para penjilat yg berharap selalu duniawi mereka basah terus ?