Workshop Nasional Bu Nyai Nusantara di Cirebon Soroti Pentingnya Keharmonisan Keluarga

Sekitar 700 peserta dari berbagai wilayah di Jawa Barat mengikuti Workshop Nasional Bu Nyai Nusantara yang mengangkat tema “Edukasi Seks, Kesehatan Mental, dan Keharmonisan Rumah Tangga”. Kegiatan tersebut berlangsung di Joglo Agung Pesantren VIP Bina Insan Mulia 2, Cirebon, Jawa Barat, Minggu (13/9/2026).

Workshop yang berlangsung sejak pukul 07.30 hingga 12.00 WIB tersebut secara khusus membahas persoalan yang berkaitan dengan kehidupan rumah tangga para pengasuh pesantren. Komunikasi antara pasangan, kesehatan mental, serta pemahaman mengenai edukasi seksual menjadi sejumlah tema utama yang dibicarakan.

Penyelenggara melihat persoalan rumah tangga yang tidak terselesaikan dapat memberikan dampak lebih luas. Bagi para pengasuh pesantren, kehidupan keluarga berjalan bersamaan dengan aktivitas mendidik santri, mengembangkan lembaga, berdakwah, dan memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Artikel selanjutnya :

Karena itu, keharmonisan keluarga dinilai bukan semata-mata persoalan privat, tetapi juga berkaitan dengan kemampuan para pengasuh menjalankan berbagai tanggung jawab sosialnya.

REKOMENDASI BUKU DIGITAL
Buku Website Bukan Sekadar Pajangan karya Faizal Firmansyah

Website Bukan Sekadar Pajangan

Punya website atau blog? Pelajari cara memanfaatkan konten, SEO, dan internal link untuk menarik traffic serta membuka peluang penjualan dari aset digital Anda.

Pelajari Selengkapnya →

Panduan praktis bisnis online · Faizal Firmansyah

Berawal dari Keluhan Rumah Tangga Pengasuh Pesantren

Ketua Panitia Workshop Nasional Bu Nyai Nusantara, Ubaydillah Anwar, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya memberikan ruang edukasi dan pembahasan mengenai persoalan keluarga yang selama ini sering dianggap tabu.

Menurutnya, penyelenggaraan workshop serupa ke depan ditargetkan dapat menjangkau sekitar 5.000 peserta dari berbagai daerah di Indonesia. Kegiatan direncanakan berlangsung di sejumlah kota yang memiliki jaringan Hotel Aston.

Buku Pintar 30 Hari Berjualan Produk Digital
PAKET 2 E-BOOK DIGITAL

Buku Pintar 30 Hari Berjualan Produk Digital

Bingung memulai jualan produk digital? Dapatkan panduan utama beserta bonus Mesin Konten 30 Hari untuk membantumu merencanakan konten promosi secara lebih terstruktur.

  • 2 buku digital dalam 1 paket
  • Panduan dan materi praktik
  • File PDF yang bisa dibaca di HP
Rp64.000
Lihat Paket Buku Pelajari isinya dan mulai praktik sesuai kemampuanmu.

Seluruh pembiayaan kegiatan, termasuk agenda lanjutan tersebut, berasal dari kegiatan amal Imam Jazuli Foundation.

Gagasan awal workshop berasal dari pengalaman KH Imam Jazuli, Pengasuh Pesantren Bina Insan Mulia, ketika membuka kegiatan open house setiap Jumat.

ADVERTORIAL

Advertorial Pilihan

Informasi dan cerita menarik dari berbagai pihak.

Lihat Semua Advertorial →

Dalam forum tersebut, Imam mengaku sering mendengar berbagai keluhan dari pasangan suami istri yang menjadi pengasuh pesantren. Persoalan yang mereka sampaikan tidak hanya menyangkut hubungan pribadi, tetapi dalam sejumlah kasus ikut berdampak terhadap aktivitas pesantren.

“Dalam beberapa kesempatan, saya menerima keluhan dan pengaduan terkait keharmonisan hubungan mereka yang kemudian berdampak pada kelangsungan pesantren,” ujar Imam.

Ia mengatakan, sebagian persoalan rumah tangga bahkan berkembang menjadi konflik pasangan, pisah ranjang, hingga perceraian.

Imam juga mengaitkan pentingnya pembahasan mengenai relasi rumah tangga dengan sejumlah kasus pelecehan seksual yang pernah melibatkan oknum pengasuh pesantren, panti asuhan, maupun majelis taklim dan menjadi perhatian publik.

Menurutnya, persoalan tersebut perlu dilihat secara lebih luas. Kondisi keluarga dan hubungan antara pasangan menjadi salah satu aspek yang perlu diperhatikan ketika membicarakan persoalan yang terjadi di lingkungan sosial dan lembaga pendidikan keagamaan.

“Setelah saya telaah, sumber masalahnya adalah hubungan rumah tangga yang tidak harmonis. Ketidakharmonisan memicu berbagai persoalan,” kata Imam.

NGIKLANPEDIA EDITORIAL

Punya kiprah?
Bangun jejak digitalnya.

Editorial • Profil Tokoh • Digital Presence

Lihat Layanan Editorial →
Editorial Ngiklanpedia

Ia menjelaskan, para pengasuh pesantren memiliki tanggung jawab sosial yang cukup besar. Kehidupan pribadi mereka juga berjalan beriringan dengan aktivitas pelayanan kepada masyarakat.

Oleh karena itu, Imam menilai persoalan rumah tangga, termasuk aspek kehidupan seksual suami istri, perlu mendapatkan perhatian dan edukasi yang memadai agar tidak berkembang menjadi persoalan yang lebih besar.

Namun, ia menegaskan bahwa workshop tersebut tidak dimaksudkan sebagai forum yang hanya membicarakan teknik hubungan seksual.

“Workshop ini bukan soal teknis hubungan seksual. Itu terlalu sempit. Hal yang lebih penting adalah memberikan pemahaman yang lebih utuh mengenai berbagai faktor yang menentukan kualitas hubungan suami istri, terutama komunikasi, kesehatan mental, dan edukasi seks,” ujarnya.

Edukasi Seksual Tidak Sekadar Membahas Biologi

Workshop tersebut menghadirkan dr Boyke Dian Nugraha sebagai pakar seksologi serta Hena Rustiana yang dikenal sebagai pakar kesehatan mental.

Dr Boyke menjelaskan bahwa edukasi seksual bagi pasangan suami istri diperlukan agar pemahaman mengenai tubuh dan hubungan tidak dibangun berdasarkan mitos ataupun informasi yang keliru.

Menurutnya, pengetahuan tersebut mencakup berbagai aspek, mulai dari fungsi seksual, perubahan hormonal, kesuburan, hingga variasi respons seksual manusia.

Akan tetapi, edukasi seksual dalam kehidupan perkawinan tidak berhenti pada aspek biologis.

Pasangan juga perlu memiliki kemampuan untuk membicarakan kebutuhan, kenyamanan, preferensi, kekhawatiran, serta batasan masing-masing secara terbuka.

Komunikasi semacam itu diperlukan untuk membangun hubungan seksual yang sehat, aman, saling menghargai, dan mendukung kualitas kehidupan rumah tangga.

“Bagi para suami dan istri, hal itu menjadi semakin penting karena kehidupan keluarga berjalan beriringan dengan tanggung jawab mereka mendidik santri, membangun lembaga, berdakwah, dan melayani masyarakat,” ujar Boyke.

Pendekatan tersebut diharapkan dapat membantu membuka ruang pembicaraan terhadap persoalan keluarga yang selama ini dianggap sensitif. Dengan adanya pemahaman yang lebih baik, persoalan diharapkan dapat dibicarakan secara bertanggung jawab sebelum berkembang menjadi konflik yang lebih besar.

Kesehatan Mental dan Kualitas Hubungan Suami Istri

Selain edukasi seksual, aspek kesehatan mental menjadi pembahasan penting dalam workshop tersebut.

Hena Rustiana menjelaskan bahwa kualitas hubungan suami istri tidak hanya ditentukan oleh kondisi fisik. Kondisi psikologis, kemampuan mengelola emosi, serta rasa aman dalam hubungan juga memiliki kaitan dengan kualitas kehidupan pasangan.

Dengan demikian, persoalan yang terlihat sebagai masalah seksual belum tentu hanya disebabkan faktor biologis atau persoalan teknis.

Stres, konflik berkepanjangan, kecemasan, kelelahan emosional, rendahnya rasa aman, serta komunikasi yang buruk dapat memengaruhi kualitas hubungan antara suami dan istri.

“Komunikasi yang baik dapat memperkuat keintiman emosional sekaligus membuat pasangan merasa dihargai, diterima, dan terhubung,” ujar Hena.

Menurutnya, pasangan perlu memiliki ruang untuk menyampaikan kebutuhan, kekhawatiran, kenyamanan, maupun batasan tanpa merasa takut dihakimi.

Sebaliknya, konflik yang terus berlangsung dan hubungan yang dipenuhi permusuhan dapat meningkatkan tekanan psikologis. Kondisi tersebut pada akhirnya dapat ikut memengaruhi gairah maupun kualitas relasi seksual pasangan.

Menjaga Keluarga, Menopang Pengabdian di Pesantren

Melalui Workshop Nasional Bu Nyai Nusantara, penyelenggara berupaya melihat persoalan rumah tangga secara lebih menyeluruh.

Kehidupan suami istri tidak hanya dilihat dari aspek fisik atau seksual, tetapi juga dari keterkaitannya dengan kesehatan mental, emosi, komunikasi, rasa aman, dan kualitas hubungan secara keseluruhan.

Pendekatan tersebut dianggap penting bagi keluarga para pengasuh pondok pesantren yang memiliki peran ganda dalam kehidupan keluarga sekaligus kehidupan sosial.

Ketika persoalan rumah tangga dapat dikelola dengan baik, para pengasuh diharapkan dapat memiliki ruang dan energi yang lebih besar untuk menjalankan tugas mereka dalam mendidik santri, mengembangkan pesantren, berdakwah, serta memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Workshop di Cirebon tersebut menjadi salah satu langkah awal dari agenda yang direncanakan untuk menjangkau lebih banyak keluarga pengasuh pesantren di berbagai daerah di Indonesia.

Tinggalkan komentar