Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, bukan sekadar tempat menimba ilmu agama. Selama lebih dari satu abad, pesantren ini telah menjadi salah satu pusat pendidikan Islam yang melahirkan banyak ulama dan tokoh yang kemudian berkiprah di berbagai bidang. Dari lingkungan pesantren inilah lahir generasi demi generasi kiai dengan latar perjalanan dan medan pengabdian yang berbeda.
Dua nama yang berada dalam lintasan sejarah panjang tersebut adalah KH Anwar Iskandar dan KH Imam Jazuli. Keduanya sama-sama pernah menimba ilmu di Lirboyo, tetapi berasal dari generasi yang berbeda dan kemudian menempuh jalan pengabdian masing-masing.
KH Anwar Iskandar merupakan salah satu ulama senior yang memiliki perjalanan panjang dalam dunia pesantren, pendidikan, organisasi keagamaan, dan kehidupan kebangsaan. Sementara KH Imam Jazuli dikenal sebagai pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon, yang mengembangkan pendidikan pesantren dengan pendekatan yang memadukan tradisi keilmuan Islam dan wawasan global.
KH Anwar Iskandar dan Masa Belajarnya di Lirboyo
KH Anwar Iskandar lahir di Berasan, Muncar, Banyuwangi, pada 24 April 1950. Ia merupakan putra KH Iskandar, pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Mambaul Ulum Banyuwangi.
Setelah menyelesaikan pendidikan di lingkungan pesantren keluarganya, Anwar Iskandar melanjutkan perjalanan keilmuan ke Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, pada 1967. Di sana ia belajar di bawah asuhan KH Mahrus Ali selama sekitar empat tahun. Selain Lirboyo, ia juga pernah menimba ilmu di sejumlah pesantren lain, antara lain Ploso, Sarang, dan Minggen.
Di samping pendidikan pesantren, KH Anwar Iskandar juga menempuh pendidikan formal. Ia memperoleh gelar sarjana muda dari Perguruan Tinggi Tribakti Kediri sebelum melanjutkan pendidikan ke IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada 1970 dengan mengambil bidang Sastra Arab.
Perjalanan panjang tersebut kemudian mengantarkannya ke berbagai ruang pengabdian. Ia aktif dalam dakwah, pendidikan, organisasi Nahdlatul Ulama, dan berbagai aktivitas sosial-keagamaan.
Buku Pintar 30 Hari Berjualan Produk Digital
Bingung memulai jualan produk digital? Dapatkan panduan utama beserta bonus Mesin Konten 30 Hari untuk membantumu merencanakan konten promosi secara lebih terstruktur.
- 2 buku digital dalam 1 paket
- Panduan dan materi praktik
- File PDF yang bisa dibaca di HP
Pada 2025, KH Anwar Iskandar terpilih sebagai Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia periode 2025–2030. Pengukuhan kepengurusan tersebut berlangsung pada Februari 2026. Dengan posisi tersebut, kiprahnya kemudian berada pada ruang yang lebih luas dalam kehidupan keumatan dan kebangsaan.
KH Imam Jazuli, Generasi Berikutnya
Puluhan tahun setelah KH Anwar Iskandar menimba ilmu di Lirboyo, datang generasi berikutnya yang juga menjadikan pesantren tersebut sebagai salah satu bagian penting dalam perjalanan pendidikannya.
Advertorial Pilihan
Informasi dan cerita menarik dari berbagai pihak.
Pesantren Bina Insan Mulia Buka Seleksi 2.500 Calon Santri Baru Tahun Ajaran 2027–2028, Ini Jadwal dan Lokasinya
11 Okt 2026
Cara Mendapatkan Penjualan di Lynk.id: Bukan Sekadar Mengumpulkan Klik
06 Okt 2026
Workshop Nasional Ibu Nyai dan Ning Nusantara Batch 2 di Banten, Gratis untuk 500 Peserta
24 Sep 2026KH Imam Jazuli lahir di Cirebon pada 17 November 1976. Sebelum berangkat ke Kediri, ia lebih dahulu belajar di sejumlah pesantren di wilayah Cirebon, antara lain Pesantren Al-Islah Bobos dan Majlis Tarbiyatul Mubtadiin Kempek.
Profil Pesantren Bina Insan Mulia mencatat bahwa KH Imam Jazuli kemudian melanjutkan pendidikan ke Pesantren Lirboyo, Kediri, pada 1995. Setelah itu perjalanan intelektualnya berlanjut ke Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir, pada Fakultas Ushuluddin Jurusan Akidah dan Filsafat. Pendidikan magisternya kemudian ditempuh di Universitas Kebangsaan Malaysia.
Dengan demikian, terdapat rentang generasi yang cukup panjang antara masa belajar KH Anwar Iskandar dan KH Imam Jazuli di Lirboyo. Keduanya berada dalam tradisi pendidikan pesantren yang sama, tetapi menjalani pengalaman pada zaman dan konteks yang berbeda.
Jika KH Anwar Iskandar tumbuh dalam suasana pendidikan pesantren pada era 1960-an, KH Imam Jazuli memasuki Lirboyo pada pertengahan 1990-an. Perbedaan zaman tersebut tentu menghadirkan pengalaman sosial dan tantangan pendidikan yang tidak sepenuhnya sama.
Artikel sebelumnya :
- Gus Kautsar dan Polemik Pencatutan Nama dalam Buku Islam Ala Prabowo
- Cholil Nafis di Maulid PKS: Ketika Ulama NU Bicara Persatuan dan Akhlak Politik
Namun, ada satu titik temu yang menarik: Lirboyo menjadi bagian dari perjalanan intelektual keduanya.
Dari Lirboyo Menuju Pengabdian yang Berbeda
Perjalanan setelah keluar dari pesantren menunjukkan bagaimana satu tradisi pendidikan dapat melahirkan kiprah yang beragam.
KH Anwar Iskandar kemudian banyak berkiprah dalam dunia dakwah, pendidikan dan organisasi keagamaan. Ia mendirikan dan mengembangkan lembaga pendidikan, termasuk Yayasan Assa’idiyah dan Al-Amin di Kediri. Ia juga dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam lingkungan NU dan kemudian dipercaya memimpin MUI.
Sementara KH Imam Jazuli memilih mengembangkan dunia pendidikan pesantren di Cirebon. Sebagai pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, ia mengembangkan lembaga pendidikan yang tidak hanya memberikan pembelajaran keagamaan, tetapi juga membuka ruang bagi santri untuk mengenal pendidikan tinggi dan wawasan internasional.
Jejak pendidikannya di Lirboyo kemudian bertemu dengan pengalaman akademiknya di Al-Azhar, Mesir, serta pendidikan pascasarjana di Malaysia. Kombinasi pengalaman tersebut menjadi bagian dari corak pendidikan yang dikembangkan di Bina Insan Mulia.
Dua Generasi, Satu Mata Rantai Keilmuan
Menarik melihat KH Anwar Iskandar dan KH Imam Jazuli sebagai dua generasi yang pernah melewati salah satu fase penting pendidikan mereka di Lirboyo.
KH Anwar Iskandar berada pada generasi yang kemudian menjadi salah satu tokoh senior dalam dunia pesantren dan organisasi keagamaan Indonesia. Sementara KH Imam Jazuli berada pada generasi yang menghadapi tantangan baru: bagaimana pendidikan pesantren tetap berakar pada tradisi keilmuan Islam sekaligus mampu menjawab perkembangan dunia yang semakin terbuka.
Karena itu, hubungan keduanya dalam konteks Lirboyo dapat dilihat bukan hanya dari sisi pernah belajar di pesantren yang sama, tetapi juga sebagai gambaran kesinambungan tradisi keilmuan lintas generasi.
Lirboyo menjadi salah satu titik yang mempertemukan perjalanan dua tokoh tersebut. KH Anwar Iskandar menempuh pendidikan di sana pada era 1960-an, sedangkan KH Imam Jazuli datang sebagai santri pada 1995. Jarak waktu tersebut menunjukkan bahwa tradisi pesantren tidak berhenti pada satu generasi.
Dari satu generasi ke generasi berikutnya, ilmu berpindah, pengalaman berkembang, dan bentuk pengabdian berubah mengikuti zaman.
Kini, KH Anwar Iskandar berada di puncak salah satu posisi penting dalam kelembagaan umat Islam Indonesia sebagai Ketua Umum MUI periode 2025–2030. Di sisi lain, KH Imam Jazuli terus mengembangkan pendidikan pesantren melalui Bina Insan Mulia di Cirebon.
Dua perjalanan tersebut memperlihatkan satu hal sederhana: alumni sebuah pesantren tidak selalu menempuh jalan pengabdian yang sama. Namun, tradisi keilmuan yang mereka dapatkan dapat menjadi bekal untuk menjawab persoalan pada zamannya masing-masing.
Lirboyo, dalam konteks perjalanan KH Anwar Iskandar dan KH Imam Jazuli, menjadi salah satu mata rantai yang menghubungkan dua generasi tersebut—generasi ulama senior dengan pengalaman panjang dalam kehidupan keumatan dan generasi berikutnya yang membawa tradisi pesantren ke tengah tantangan pendidikan dan masyarakat yang terus berubah.