Di tengah berkembangnya berbagai model pendidikan Islam di Indonesia, nama Budi Ashari dikenal melalui gagasannya tentang pendidikan anak yang menempatkan iman, Al-Qur’an, adab dan sejarah Islam sebagai bagian penting dalam proses pembentukan generasi. Gagasan tersebut kemudian menemukan bentuk kelembagaan melalui Kuttab Al-Fatih, sebuah model pendidikan yang berupaya menghidupkan kembali konsep kuttab dalam konteks Indonesia masa kini.
Budi Ashari dikenal sebagai ustaz, pengkaji sejarah Islam, pendidikan dan parenting. Ia pernah dikenal lebih luas melalui program televisi yang mengangkat sejarah Islam dengan pendekatan populer. Namun, salah satu kiprah yang membuat namanya banyak diperbincangkan dalam dunia pendidikan Islam adalah keterlibatannya dalam lahirnya Kuttab Al-Fatih.
Dari Kegelisahan Pendidikan hingga Lahirnya Kuttab Al-Fatih
Gagasan mengenai Kuttab Al-Fatih tidak lahir secara instan. Sejumlah kajian akademik mengenai Kuttab Al-Fatih mencatat adanya proses diskusi dan kajian yang telah berlangsung beberapa tahun sebelum lembaga tersebut berdiri.
Baca juga : Salim Maula Abu Hudzaifah: Mantan Budak yang Menjadi Guru Al-Qur’an Pilihan Rasulullah
Pembicaraan tersebut berangkat dari perhatian terhadap pendidikan anak, sejarah pendidikan Islam dan bagaimana generasi awal umat Islam membangun karakter anak-anak mereka.
Dari proses kajian tersebut muncul ketertarikan untuk menghidupkan kembali konsep kuttab, yaitu lembaga pendidikan dasar yang dikenal dalam sejarah peradaban Islam. Pada 2012, Kuttab Al-Fatih mulai berdiri di Depok, Jawa Barat. Dalam sejumlah penelitian, Budi Ashari disebut sebagai salah satu tokoh utama yang terlibat dalam pendiriannya bersama sejumlah tokoh lainnya.
Karena itu, Kuttab Al-Fatih lebih tepat dipahami sebagai hasil dari sebuah gagasan dan proses bersama, dengan Budi Ashari menjadi salah satu figur penting di balik konsep pendidikan yang dikembangkan.
Buku Pintar 30 Hari Berjualan Produk Digital
Bingung memulai jualan produk digital? Dapatkan panduan utama beserta bonus Mesin Konten 30 Hari untuk membantumu merencanakan konten promosi secara lebih terstruktur.
- 2 buku digital dalam 1 paket
- Panduan dan materi praktik
- File PDF yang bisa dibaca di HP
Apa Itu Kuttab?
Istilah kuttab merujuk pada bentuk pendidikan dasar yang telah dikenal dalam sejarah Islam. Pada perkembangannya, kuttab menjadi tempat anak-anak belajar membaca, menulis, Al-Qur’an dan dasar-dasar ilmu keislaman.
Konsep tersebut kemudian diadaptasi oleh Kuttab Al-Fatih untuk diterapkan dalam kehidupan masyarakat Indonesia modern. Namun, menghidupkan kembali kuttab bukan berarti sekadar mengganti nama sekolah. Ada gagasan pendidikan yang ingin dibangun di dalamnya. Pendidikan tidak hanya diarahkan untuk membuat anak memiliki kemampuan akademik, tetapi juga membentuk cara pandang, keimanan, adab dan kecintaan terhadap ilmu.
Advertorial Pilihan
Informasi dan cerita menarik dari berbagai pihak.
Pesantren Bina Insan Mulia Buka Seleksi 2.500 Calon Santri Baru Tahun Ajaran 2027–2028, Ini Jadwal dan Lokasinya
11 Okt 2026
Cara Mendapatkan Penjualan di Lynk.id: Bukan Sekadar Mengumpulkan Klik
06 Okt 2026
Workshop Nasional Ibu Nyai dan Ning Nusantara Batch 2 di Banten, Gratis untuk 500 Peserta
24 Sep 2026Baca juga : Khalid bin Walid: Panglima Tak Terkalahkan dalam Sejarah Islam
Di sinilah salah satu karakter utama Kuttab Al-Fatih terlihat.
Iman Sebelum Al-Qur’an, Adab Sebelum Ilmu
Salah satu gagasan yang banyak dikenal dari sistem pendidikan Kuttab Al-Fatih adalah konsep iman sebelum Al-Qur’an dan adab sebelum ilmu.
Gagasan tersebut menunjukkan bahwa pendidikan anak tidak dimulai hanya dari target akademik. Sebelum anak diarahkan untuk menguasai berbagai pengetahuan, ada fondasi yang ingin dibangun terlebih dahulu, yaitu iman dan adab.
Al-Qur’an menjadi sumber penting dalam proses tersebut. Anak tidak hanya diarahkan untuk membaca dan menghafal, tetapi juga diperkenalkan dengan pemaknaan dan bagaimana nilai-nilai Al-Qur’an berhubungan dengan kehidupan. Dalam sejumlah penelitian mengenai Kuttab Al-Fatih, kurikulum lembaga ini secara umum dibangun melalui dua komponen utama, yaitu kurikulum iman dan kurikulum Al-Qur’an.
Keduanya menjadi bagian dari upaya membangun pendidikan yang tidak memisahkan pembentukan karakter dari proses belajar. Konsep tersebut juga membuat pendidikan di Kuttab Al-Fatih memiliki pendekatan yang berbeda dari model pendidikan yang semata-mata menempatkan pencapaian akademik sebagai ukuran utama.
Generasi Gemilang di Usia Belia
Gagasan Budi Ashari mengenai pendidikan anak juga banyak berkaitan dengan sejarah generasi awal Islam. Salah satu pesan yang sering muncul adalah bahwa anak-anak dan generasi muda bukan sekadar calon pemimpin di masa depan. Mereka dapat diberikan kepercayaan, tanggung jawab dan pendidikan yang serius sejak usia belia.
Baca juga : Mush’ab bin Umair: Pemuda Bangsawan yang Meninggalkan Kemewahan Demi Islam
Dalam berbagai materi pendidikan yang berkaitan dengan Kuttab Al-Fatih, kisah tokoh-tokoh Islam yang memiliki peran besar ketika masih muda sering dijadikan inspirasi. Nama seperti Usamah bin Zaid, Abdullah bin Abbas dan sejumlah ulama besar menjadi contoh bagaimana usia muda tidak selalu menjadi penghalang untuk memiliki kontribusi besar.
Dari sini muncul gagasan mengenai generasi gemilang di usia belia. Pendidikan anak kemudian tidak hanya berbicara tentang bagaimana anak mendapatkan nilai bagus di sekolah, tetapi juga bagaimana ia memiliki visi hidup, mengenal sejarah, memahami tanggung jawab dan memiliki hubungan yang kuat dengan agamanya.
Kurikulum yang Berangkat dari Iman dan Al-Qur’an
Dalam praktiknya, Kuttab Al-Fatih memiliki jenjang pendidikan yang disusun untuk anak-anak usia belia. Sejumlah penelitian mengenai lembaga ini menggambarkan pembagian pendidikan ke dalam jenjang Kuttab Awal dan Kuttab Qonuni.
Pada tahap tersebut, pembelajaran tidak hanya berisi materi keagamaan secara teoritis. Anak juga diperkenalkan dengan sirah, tadabbur Al-Qur’an serta berbagai materi yang berhubungan dengan manusia dan alam. Pendekatan tersebut memperlihatkan upaya untuk membuat anak melihat ilmu sebagai sesuatu yang memiliki hubungan dengan kehidupan.
Alam dapat menjadi bahan untuk mengenal kebesaran Allah. Sejarah dapat menjadi sarana untuk memahami perjalanan umat manusia. Sementara Al-Qur’an menjadi sumber nilai yang membimbing cara melihat kehidupan. Dengan demikian, pendidikan tidak berhenti pada ruang kelas.
Dari Depok Menyebar ke Berbagai Daerah
Setelah berdiri di Depok pada 2012, Kuttab Al-Fatih kemudian berkembang ke berbagai daerah di Indonesia. Sejumlah penelitian akademik pada periode berikutnya mencatat keberadaan puluhan cabang Kuttab Al-Fatih di berbagai wilayah.
Baca juga : Perang Badar: Ketika Kegigihan Para Sahabat Diuji dan Allah Menurunkan Surah Al-Anfal
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa gagasan pendidikan yang dibawa Kuttab Al-Fatih mendapatkan perhatian dari sebagian masyarakat yang mencari alternatif pendidikan berbasis nilai-nilai Islam.
Namun, angka jumlah cabang terus berubah seiring perkembangan lembaga. Karena itu, jumlah cabang sebaiknya tidak dipandang sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan. Yang lebih menarik adalah bagaimana sebuah gagasan pendidikan dapat berkembang dari sebuah lembaga di Depok menjadi model yang dipelajari dan diterapkan di berbagai daerah.
Menjadi Objek Kajian Akademik
Kuttab Al-Fatih juga menarik perhatian kalangan akademisi.
Berbagai penelitian di perguruan tinggi telah mengkaji Kuttab Al-Fatih dari berbagai sudut pandang, mulai dari kurikulum, manajemen pendidikan, pembelajaran anak hingga gagasan pendidikan Islam. Penelitian mengenai Kuttab Al-Fatih antara lain dilakukan terhadap cabang di Depok, Semarang, Cileunyi, Yogyakarta, Malang dan Purwokerto.
Kehadiran berbagai penelitian tersebut menunjukkan bahwa Kuttab Al-Fatih tidak hanya menjadi fenomena di lingkungan komunitas pendidikan Islam, tetapi juga telah menjadi objek pembahasan akademik. Sejumlah penelitian bahkan melihat Kuttab Al-Fatih dalam konteks yang lebih luas, yaitu sebagai bagian dari upaya revitalisasi pendidikan Islam yang mengambil inspirasi dari tradisi pendidikan Islam klasik.
Perspektif akademik tersebut penting karena memberikan ruang untuk melihat Kuttab Al-Fatih tidak hanya dari sisi internal lembaga, tetapi juga dari perspektif sejarah, pendidikan dan perkembangan pemikiran Islam di Indonesia.
Budi Ashari dan Gagasan Pendidikan yang Lebih Luas
Kuttab Al-Fatih merupakan salah satu bagian dari kiprah Budi Ashari dalam dunia pendidikan. Gagasannya juga banyak bersinggungan dengan sejarah Islam, pendidikan keluarga dan parenting.
Sejumlah karya dan materi yang dikaitkan dengan Budi Ashari menunjukkan perhatian yang cukup besar terhadap hubungan antara keluarga, pendidikan anak dan pembentukan generasi. Dalam kerangka tersebut, sekolah bukan satu-satunya tempat pendidikan.
Rumah, orang tua, lingkungan dan masyarakat memiliki peran yang sama pentingnya dalam membentuk karakter anak. Pandangan semacam ini membuat pembicaraan mengenai Kuttab Al-Fatih tidak dapat dipisahkan sepenuhnya dari pembicaraan mengenai keluarga.
Anak yang mendapatkan pendidikan berbasis iman di lembaga pendidikan tetap membutuhkan lingkungan keluarga yang mendukung nilai-nilai tersebut.
Mengapa Gagasan Kuttab Kembali Menarik?
Kemunculan berbagai model pendidikan Islam alternatif menunjukkan bahwa sebagian masyarakat Indonesia terus mencari pendekatan pendidikan yang sesuai dengan nilai dan harapan mereka terhadap masa depan anak.
Dalam konteks tersebut, Kuttab Al-Fatih menawarkan satu pendekatan yang berangkat dari tradisi pendidikan Islam klasik, kemudian mencoba menerapkannya dalam kondisi masyarakat modern. Tentu saja, setiap model pendidikan memiliki karakteristik, pendekatan dan tantangannya masing-masing.
Namun, perjalanan Kuttab Al-Fatih memperlihatkan satu hal menarik: gagasan pendidikan yang berangkat dari sejarah ternyata masih dapat menemukan ruang dalam masyarakat modern ketika diterjemahkan ke dalam kebutuhan pendidikan masa kini.
Budi Ashari dan Perjalanan Sebuah Gagasan
Lebih dari sekadar nama di balik sebuah lembaga pendidikan, Budi Ashari menjadi salah satu figur yang membawa kembali pembicaraan mengenai bagaimana anak-anak Muslim seharusnya dipersiapkan sejak usia belia.
Kuttab Al-Fatih kemudian menjadi ruang untuk menguji dan menerapkan gagasan tersebut. Dari Depok, konsep itu berkembang ke berbagai daerah. Dari sebuah gagasan pendidikan, Kuttab Al-Fatih kemudian menjadi objek penelitian di berbagai perguruan tinggi.
Perjalanan tersebut memperlihatkan bahwa dunia pendidikan selalu terbuka terhadap gagasan baru maupun gagasan lama yang dihidupkan kembali dalam konteks berbeda. Bagi Budi Ashari dan Kuttab Al-Fatih, pendidikan anak tidak berhenti pada persoalan seberapa banyak pengetahuan yang dapat dikuasai.
Ada pertanyaan yang lebih mendasar: manusia seperti apa yang ingin dibentuk melalui pendidikan?
Pertanyaan itulah yang kemudian menjadi salah satu titik penting dalam gagasan pendidikan Kuttab Al-Fatih—membangun generasi yang sejak usia belia diperkenalkan kepada iman, Al-Qur’an, adab, ilmu dan sejarah, dengan harapan kelak mampu mengambil peran dalam kehidupan dengan fondasi nilai yang kuat.