Nama Irfan Asy’ari Sudirman Wahid atau yang lebih dikenal sebagai Ipang Wahid kembali menjadi perhatian setelah masuk dalam jajaran Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2026–2031. Ia dipercaya sebagai Wakil Ketua Umum PBNU yang membidangi Digital Native, Teknologi, Budaya, dan Komunikasi.
Penempatan tersebut menarik karena perjalanan Ipang Wahid selama puluhan tahun memang tidak jauh dari dunia komunikasi, kreativitas, media, teknologi, branding, hingga komunikasi politik.
Lahir di Jakarta pada 25 Februari 1969, Ipang merupakan putra sulung KH Salahuddin Wahid atau Gus Sholah. Ia juga merupakan keponakan KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Dari garis ibunya, Ipang merupakan cucu KH Saifuddin Zuhri, tokoh NU yang pernah menjabat Menteri Agama RI. Dengan demikian, ia tumbuh dalam lingkungan keluarga yang memiliki hubungan kuat dengan tradisi pesantren, NU, sekaligus pemerintahan.
Namun, perjalanan profesional Ipang justru lebih dahulu berkembang di luar struktur organisasi keagamaan. Ia memilih dunia kreatif dan periklanan sebagai jalan kariernya.
Dari Dunia Kreatif dan Periklanan
Ipang menempuh pendidikan Desain Komunikasi Visual di Institut Kesenian Jakarta (IKJ), kemudian melanjutkan studi Music & Video Business di The Art Institute of Seattle, Amerika Serikat. Ia juga memperoleh gelar Magister Manajemen dari Universitas Gajayana Malang.
Sejak awal 1990-an, Ipang telah aktif di industri kreatif. Ia dikenal sebagai creativepreneur sekaligus praktisi komunikasi yang kemudian mengembangkan pengalaman di bidang periklanan dan produksi iklan.
Namanya antara lain dikaitkan dengan sejumlah karya komunikasi yang populer di televisi Indonesia, termasuk slogan “RCTI Oke” dan “Satu Untuk Semua” milik SCTV. Dunia kreatif inilah yang kemudian menjadi fondasi bagi perjalanan Ipang menuju dunia komunikasi strategis.
Buku Pintar 30 Hari Berjualan Produk Digital
Bingung memulai jualan produk digital? Dapatkan panduan utama beserta bonus Mesin Konten 30 Hari untuk membantumu merencanakan konten promosi secara lebih terstruktur.
- 2 buku digital dalam 1 paket
- Panduan dan materi praktik
- File PDF yang bisa dibaca di HP
Dari periklanan, Ipang kemudian memperluas kiprahnya ke komunikasi politik, government relations, corporate communication, dan strategi membangun persepsi publik.
Ia bahkan memperkenalkan pendekatan yang disebutnya sebagai perception engineering, sebuah pendekatan yang menempatkan komunikasi bukan sekadar sebagai kegiatan menyampaikan pesan, tetapi juga bagaimana pesan dirancang agar dapat diterima oleh publik.
Advertorial Pilihan
Informasi dan cerita menarik dari berbagai pihak.
Pesantren Bina Insan Mulia Buka Seleksi 2.500 Calon Santri Baru Tahun Ajaran 2027–2028, Ini Jadwal dan Lokasinya
11 Okt 2026
Cara Mendapatkan Penjualan di Lynk.id: Bukan Sekadar Mengumpulkan Klik
06 Okt 2026
Workshop Nasional Ibu Nyai dan Ning Nusantara Batch 2 di Banten, Gratis untuk 500 Peserta
24 Sep 2026Melalui Ipang Wahid Stratejik, ia kemudian menangani komunikasi untuk berbagai tokoh politik, korporasi, partai politik, dan lembaga negara. Profil profesionalnya menyebut Ipang telah aktif di industri kreatif sejak awal 1990-an dan terlibat dalam berbagai proyek komunikasi politik maupun korporasi.
Masuk ke Lingkaran Kebijakan dan Korporasi
Pengalaman tersebut membawa Ipang tidak hanya berada di belakang layar industri kreatif, tetapi juga ke ruang kebijakan dan korporasi.
Ia pernah menjadi anggota Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN), serta dipercaya memimpin Quick Win Team untuk lima Destinasi Pariwisata Super Prioritas pada 2019. Ia juga pernah menjadi Komisaris PT Angkasa Pura I dan memiliki pengalaman sebagai staf ahli di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian.
Pada Mei 2025, Ipang resmi ditetapkan sebagai Komisaris Telkomsel. Penunjukan tersebut menambah panjang pengalaman profesionalnya di sektor yang berkaitan dengan komunikasi, teknologi dan bisnis digital.
Pengalaman di dunia politik juga menjadi bagian penting dari perjalanan Ipang. Ia dikenal sebagai konsultan komunikasi politik dan terlibat dalam sejumlah kontestasi politik nasional. Dalam berbagai kesempatan, namanya dikaitkan dengan strategi komunikasi sejumlah pasangan calon presiden dan tokoh politik.
Namun Ipang sendiri tidak dikenal sebagai politisi yang masuk ke arena perebutan jabatan elektoral. Posisi utamanya tetap berada di belakang layar sebagai praktisi komunikasi dan strategi.
Babak Baru di PBNU
Kini perjalanan tersebut memasuki babak baru.
Dalam kepengurusan PBNU periode 2026–2031, Ipang dipercaya sebagai Wakil Ketua Umum Bidang Digital Native, Teknologi, Budaya, dan Komunikasi. Posisi ini membuat pengalaman panjangnya di dunia kreatif dan komunikasi memperoleh ruang baru dalam organisasi keagamaan terbesar di Indonesia.
Tidak lama setelah struktur kepengurusan diumumkan, Ipang menyampaikan gagasan mengenai pentingnya melakukan rebranding media NU serta memperkuat pendekatan budaya populer untuk menjangkau generasi Z dan Alpha.
Menurutnya, dakwah dan komunikasi NU harus mampu hadir di ruang yang menjadi tempat generasi muda berinteraksi sehari-hari. Karena itu, media digital dan budaya pop tidak semata-mata dipandang sebagai hiburan, tetapi juga sebagai ruang komunikasi yang strategis.
Gagasan tersebut kemudian berkembang pada konsep Technosantri, yakni bagaimana santri tidak hanya kuat dalam ilmu agama, turats, dan adab, tetapi juga memiliki kemampuan teknologi yang relevan dengan perkembangan zaman.
Di titik inilah perjalanan Ipang Wahid menjadi menarik.
Ia berangkat dari dunia desain dan periklanan, kemudian masuk ke komunikasi strategis, komunikasi politik, pemerintahan dan korporasi. Kini pengalaman tersebut dibawa ke lingkungan PBNU untuk menggarap bidang digital, teknologi, budaya dan komunikasi.
Bagi NU yang memasuki abad keduanya, tantangannya bukan lagi sekadar bagaimana menyampaikan pesan ke masyarakat, tetapi bagaimana pesan tersebut mampu hadir di tengah perubahan perilaku publik.
Generasi muda tidak lagi hanya mendapatkan informasi dari mimbar, koran atau televisi. Mereka berada di Instagram, TikTok, YouTube, podcast, platform digital dan berbagai ruang budaya populer.
Karena itu, penempatan Ipang Wahid di bidang digital dan komunikasi dapat dibaca sebagai bagian dari upaya PBNU menghadapi perubahan ekosistem komunikasi tersebut.
Perjalanan Ipang menunjukkan satu hal: dunia kreatif, teknologi dan komunikasi pada akhirnya tidak berdiri sendiri. Ketiganya dapat menjadi instrumen untuk membangun jembatan antara gagasan, institusi dan masyarakat.
Dan kini, setelah puluhan tahun bekerja di balik layar komunikasi publik, Ipang Wahid mendapat panggung baru untuk membawa pengalaman tersebut ke dalam perjalanan NU memasuki abad keduanya.