Ketika ratusan relawan dari berbagai negara berkumpul di Turki untuk mengikuti Palestine Caravan 2026, banyak orang menganggap gerakan ini sebagai fenomena baru. Padahal, jika menelusuri sejarahnya, konvoi bantuan kemanusiaan menuju Jalur Gaza telah berlangsung selama bertahun-tahun. Salah satu tonggak pentingnya adalah Viva Palestina 5 (Lifeline 5) yang digelar pada tahun 2010.
Terpisah oleh rentang waktu sekitar enam belas tahun, kedua konvoi tersebut lahir dari semangat yang sama: menembus isolasi Gaza melalui jalur kemanusiaan, menghadirkan bantuan bagi warga sipil, serta menyampaikan pesan bahwa masyarakat dunia tidak melupakan penderitaan rakyat Palestina.
Lahir dari Situasi Kemanusiaan yang Mendesak
Viva Palestina 5 berlangsung dalam suasana yang masih dipenuhi duka setelah tragedi Mavi Marmara pada 31 Mei 2010. Saat itu, kapal bantuan internasional yang berusaha mencapai Gaza disergap pasukan Israel di perairan internasional. Insiden tersebut menewaskan sembilan aktivis, sementara satu korban lainnya kemudian meninggal akibat luka yang dideritanya.
Peristiwa itu memicu gelombang solidaritas global. Alih-alih menghentikan gerakan bantuan, berbagai organisasi kemanusiaan justru memperkuat koordinasi mereka. Hanya beberapa bulan kemudian, jaringan Viva Palestina meluncurkan Lifeline 5, sebuah konvoi darat yang menghubungkan masyarakat sipil dari berbagai negara menuju Gaza.
Enam belas tahun kemudian, situasinya memiliki kemiripan. Setelah perang Gaza yang dimulai pada Oktober 2023 menimbulkan krisis kemanusiaan berkepanjangan, lahirlah berbagai inisiatif masyarakat sipil, termasuk Palestine Caravan 2026, yang kembali mencoba menghadirkan bantuan melalui jalur darat.
Perjalanan Panjang Melintasi Benua
Viva Palestina 5 memulai perjalanan dari London pada pertengahan September 2010. Konvoi tersebut melintasi sejumlah negara Eropa sebelum memasuki Turki, kemudian bergerak menuju Suriah. Dari Pelabuhan Latakia, sebagian bantuan diangkut menggunakan kapal menuju Al-Arish di Mesir sebelum akhirnya diteruskan melalui Rafah menuju Gaza.
Dalam perjalanan itu, jumlah peserta terus bertambah. Ratusan relawan dari sekitar tiga puluh negara bergabung dengan membawa ambulans, kendaraan operasional, obat-obatan, perlengkapan sekolah, hingga berbagai kebutuhan dasar lainnya. Nilai bantuan yang dibawa diperkirakan mencapai jutaan dolar Amerika Serikat.
Palestine Caravan 2026 memang menempuh rute dan mekanisme yang berbeda karena dipengaruhi kondisi geopolitik kawasan yang telah berubah. Suriah tidak lagi menjadi jalur utama akibat konflik yang berlangsung sejak 2011. Namun semangat lintas negara tetap menjadi ciri utama. Para peserta berkumpul di Turki sebelum melanjutkan perjalanan menuju wilayah yang memungkinkan untuk menyalurkan bantuan bagi Gaza.
Turki Tetap Menjadi Jantung Solidaritas
Salah satu benang merah paling menarik antara Viva Palestina 5 dan Palestine Caravan 2026 adalah posisi Turki.
Pada 2010, masyarakat Turki menyambut rombongan Viva Palestina dengan antusias. Di berbagai kota, iring-iringan kendaraan dikawal warga yang mengibarkan bendera Palestina. Masjid, organisasi masyarakat sipil, hingga relawan lokal membuka pos-pos penyambutan bagi peserta konvoi. Sambutan tersebut tidak lepas dari kuatnya empati masyarakat Turki setelah tragedi Mavi Marmara.
Enam belas tahun kemudian, pemandangan serupa kembali terlihat. Kota-kota seperti Sakarya, Istanbul, Adana hingga Gaziantep menjadi titik berkumpul para relawan internasional sebelum melanjutkan perjalanan. Kehadiran ratusan peserta dari berbagai negara menunjukkan bahwa Turki masih memainkan peran penting sebagai simpul logistik sekaligus pusat konsolidasi gerakan solidaritas internasional.
Fenomena ini menunjukkan bahwa Turki bukan sekadar negara transit. Dalam sejarah konvoi bantuan menuju Gaza, negara tersebut telah menjadi ruang bertemunya organisasi kemanusiaan, aktivis, tokoh agama, dan masyarakat sipil dari berbagai penjuru dunia.
Tantangan Berubah, Semangat Tetap Sama
Meski memiliki tujuan yang sama, tantangan yang dihadapi kedua konvoi berbeda.
Pada Viva Palestina 5, hambatan terbesar datang dari proses diplomasi untuk memasuki Mesir. Rombongan harus menunggu sekitar delapan hari sebelum akhirnya memperoleh izin melanjutkan perjalanan menuju Rafah.
Sementara itu, Palestine Caravan 2026 menghadapi tantangan yang lebih kompleks. Perubahan dinamika politik kawasan, situasi keamanan, serta pembatasan akses ke Gaza membuat jalur distribusi bantuan semakin rumit. Namun, sebagaimana terjadi pada tahun 2010, para peserta tetap berupaya menjaga misi kemanusiaan berjalan melalui koordinasi dengan berbagai organisasi lokal maupun internasional.
Indonesia Sudah Menjadi Bagian Sejarah
Hal yang sering terlupakan adalah bahwa Indonesia bukanlah pendatang baru dalam gerakan konvoi menuju Gaza.
Pada Viva Palestina 5, terdapat delegasi Indonesia yang dipimpin oleh almarhumah Yoyoh Yusroh, anggota DPR RI yang dikenal aktif memperjuangkan isu-isu kemanusiaan Palestina. Bersama sejumlah relawan Indonesia lainnya, beliau ikut menempuh perjalanan panjang sebagai bentuk solidaritas terhadap rakyat Gaza.
Kehadiran delegasi Indonesia saat itu menunjukkan bahwa dukungan masyarakat Indonesia terhadap Palestina tidak hanya diwujudkan melalui penggalangan dana atau pernyataan politik, tetapi juga melalui partisipasi langsung dalam misi kemanusiaan internasional.
Bagi banyak aktivis Palestina di Indonesia, keikutsertaan Yoyoh Yusroh menjadi simbol bahwa perjuangan kemanusiaan dapat dilakukan melalui diplomasi, advokasi, sekaligus aksi nyata di lapangan.
Semangat tersebut tampak kembali pada Palestine Caravan 2026. Meski generasi relawannya telah berganti, Indonesia kembali mengirimkan wakil-wakil masyarakat sipil yang memilih hadir langsung dalam perjalanan panjang menuju kawasan konflik. Hal ini memperlihatkan adanya kesinambungan komitmen masyarakat Indonesia terhadap isu Palestina selama lebih dari satu dekade.
Dari Sejarah Menuju Masa Kini
Jika dibandingkan, terdapat sejumlah persamaan yang mencolok antara Viva Palestina 5 dan Palestine Caravan 2026.
Keduanya lahir sebagai respons terhadap krisis kemanusiaan di Gaza. Keduanya mempertemukan relawan dari berbagai bangsa, agama, dan latar belakang profesi. Keduanya menjadikan Turki sebagai titik penting perjalanan. Dan yang tidak kalah penting, keduanya membuktikan bahwa gerakan masyarakat sipil mampu membangun solidaritas lintas batas negara ketika diplomasi formal menghadapi jalan buntu.
Tentu saja, setiap periode memiliki konteks politik yang berbeda. Jalur perjalanan berubah, tantangan keamanan meningkat, dan mekanisme distribusi bantuan terus menyesuaikan keadaan di lapangan. Namun, esensi gerakannya tetap sama: memastikan bahwa suara kemanusiaan tidak berhenti meskipun konflik terus berlangsung.
Jejak yang Terus Berlanjut
Enam belas tahun memisahkan Viva Palestina 5 dengan Palestine Convoy 2026. Namun jika melihat semangat para relawan yang menempuh ribuan kilometer demi membawa harapan bagi warga Gaza, jarak waktu tersebut seakan menghilang.
Sejarah menunjukkan bahwa konvoi kemanusiaan bukan sekadar perjalanan kendaraan melintasi negara-negara. Ia adalah simbol keteguhan masyarakat sipil dunia dalam memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan, bahkan ketika tantangan politik dan keamanan terus berubah.
Bagi Indonesia, jejak itu telah dimulai sejak keikutsertaan tokoh-tokoh seperti Yoyoh Yusroh bersama delegasi nasional pada Viva Palestina 5, dan kini diteruskan oleh generasi relawan baru yang kembali bergabung dalam Palestine Convoy 2026. Rangkaian peristiwa tersebut menjadi pengingat bahwa solidaritas terhadap Palestina bukanlah gerakan sesaat, melainkan sebuah perjalanan panjang yang terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.