Bagi sebagian masyarakat Indonesia, nama Sakarya mungkin belum sepopuler Istanbul atau Ankara. Namun, kota yang terletak sekitar 150 kilometer di sebelah timur Istanbul ini memiliki arti tersendiri bagi ratusan mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh pendidikan tinggi di Turki.
Belakangan, nama Sakarya kembali menjadi perhatian setelah menjadi salah satu titik persinggahan Palestine Caravan, rombongan kemanusiaan internasional yang melakukan perjalanan menuju perbatasan Suriah sebagai bagian dari solidaritas untuk Palestina. Namun di balik perannya sebagai kota transit, Sakarya telah lama dikenal sebagai salah satu pusat komunitas mahasiswa Indonesia terbesar di Turki.
Kota Pendidikan yang Terus Berkembang
Sakarya merupakan ibu kota Provinsi Sakarya yang berada di kawasan Marmara. Kota ini dikenal sebagai salah satu pusat pendidikan dan industri di Turki dengan perkembangan ekonomi yang cukup pesat. Letaknya yang strategis membuat Sakarya mudah dijangkau dari Istanbul menggunakan kereta cepat maupun jalan tol, sehingga menjadi pilihan menarik bagi mahasiswa lokal maupun internasional.
Jantung dunia akademik di kota ini adalah Sakarya University (SAÜ), salah satu perguruan tinggi negeri terkemuka di Turki yang memiliki puluhan ribu mahasiswa dari berbagai negara. Selain menawarkan program studi teknik, sains, sosial, hingga ilmu keislaman, universitas ini juga aktif menjalin kerja sama internasional sehingga menarik minat pelajar asing, termasuk dari Indonesia.
Mengapa Banyak Mahasiswa Indonesia Memilih Sakarya?
Ada beberapa alasan mengapa Sakarya menjadi tujuan favorit mahasiswa Indonesia.
Pertama, biaya hidup di Sakarya relatif lebih terjangkau dibandingkan Istanbul. Harga sewa tempat tinggal, transportasi, hingga kebutuhan sehari-hari umumnya lebih ramah bagi mahasiswa.
Kedua, lingkungan kota yang tenang membuat proses belajar terasa lebih nyaman. Sakarya tidak sepadat kota metropolitan, tetapi tetap memiliki fasilitas pendidikan, transportasi, dan layanan publik yang memadai.
Ketiga, banyak mahasiswa Indonesia memperoleh beasiswa dari Pemerintah Turki, seperti Türkiye Bursları, yang membuka kesempatan belajar di berbagai universitas, termasuk Sakarya University.
Komunitas Indonesia yang Solid
Keberadaan mahasiswa Indonesia di Sakarya tidak hanya sebatas menempuh pendidikan. Mereka juga membangun komunitas yang aktif melalui Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) setempat.
Berbagai kegiatan rutin diselenggarakan, mulai dari diskusi akademik, kajian keislaman, peringatan hari besar nasional, olahraga bersama, hingga penyambutan mahasiswa baru. Kehadiran komunitas ini membantu mahasiswa Indonesia beradaptasi dengan kehidupan di Turki sekaligus menjaga hubungan dengan budaya tanah air.
Tak jarang pula mahasiswa Indonesia ikut memperkenalkan budaya Nusantara melalui festival internasional yang digelar kampus maupun pemerintah daerah. Tari tradisional, kuliner Indonesia, hingga pertunjukan musik menjadi bagian dari diplomasi budaya yang mempererat hubungan masyarakat kedua negara.
Lebih dari Sekadar Kota Persinggahan
Ketika rombongan Palestine Caravan singgah di Sakarya, banyak orang mungkin melihat kota ini hanya sebagai titik pemberhentian sebelum melanjutkan perjalanan ke wilayah Turki selatan. Padahal, bagi mahasiswa Indonesia yang telah bertahun-tahun tinggal di sana, Sakarya merupakan rumah kedua yang penuh kenangan.
Di kota inilah mereka belajar, membangun persahabatan lintas negara, mengenal budaya Turki lebih dekat, sekaligus membawa nama baik Indonesia di lingkungan internasional. Dari ruang kuliah, asrama mahasiswa, hingga berbagai kegiatan sosial, Sakarya menjadi tempat tumbuhnya generasi muda Indonesia yang kelak diharapkan dapat menjadi jembatan kerja sama antara Indonesia dan Turki.
Karena itulah, ketika nama Sakarya kembali muncul dalam pemberitaan internasional terkait Palestine Caravan, masyarakat Indonesia juga diingatkan bahwa kota ini memiliki hubungan yang lebih dalam dengan bangsa Indonesia. Bukan sekadar kota transit, melainkan rumah kedua bagi banyak mahasiswa Indonesia yang sedang menuntut ilmu di Negeri Dua Benua.