Ada kota yang berubah begitu cepat ketika waktu berjalan. Bangunannya bertambah, jalannya semakin ramai, pusat perbelanjaan bermunculan, dan wajah kotanya perlahan berbeda dari apa yang pernah kita kenal.
Tetapi ada pula kota yang meskipun berubah secara fisik, tetap menyimpan sesuatu yang sama.
Gaziantep, atau yang oleh masyarakat setempat lebih akrab disebut Antep, adalah salah satunya.
Saya pernah datang ke kota ini. Dan ketika kembali mengingat Gaziantep dalam perjalanan yang lebih baru, ada satu kesan yang terus muncul: banyak hal mungkin berubah, tetapi sisi kemanusiaan masyarakatnya terasa tetap hidup.
Bagi saya, Gaziantep bukan hanya sebuah kota di tenggara Turki. Ia adalah salah satu wilayah yang sejak lama berada di persimpangan berbagai peradaban, perdagangan, kebudayaan, dan perjalanan manusia dari berbagai tempat.
Karena letaknya yang dekat dengan perbatasan Suriah, Gaziantep juga memiliki hubungan yang sangat dekat dengan persoalan kemanusiaan yang terjadi di kawasan tersebut.
Antep dan Wajah Kemanusiaan
Ketika berbicara tentang Gaziantep hari ini, kita tidak bisa mengabaikan keberadaan masyarakat Suriah yang datang ke Turki setelah perang berkepanjangan di negeri mereka.
Kota ini menjadi salah satu tempat yang menerima banyak pengungsi Suriah. Mereka datang bukan karena ingin meninggalkan rumah, tetapi karena keadaan memaksa mereka mencari tempat yang lebih aman bagi keluarga dan anak-anak mereka.
Di tengah dinamika itu, Gaziantep memperlihatkan sisi lain dari sebuah kota perbatasan.
Ada persoalan sosial, ekonomi dan berbagai tantangan yang tentu tidak sederhana. Tetapi di balik semua itu terdapat masyarakat, organisasi, lembaga sosial, dan individu yang terus berusaha membantu mereka yang membutuhkan.
Dan di situlah saya melihat sesuatu yang terasa familiar.
Kepedulian terhadap manusia lain seperti tidak pernah benar-benar hilang dari kota ini.
Dulu mungkin saya melihat Antep hanya sebagai sebuah kota yang memiliki sejarah panjang.
Sekarang, setelah melihat berbagai perkembangan yang terjadi di kawasan ini, saya melihatnya dengan cara berbeda.
Saya melihat manusia di balik sebuah kota.
Dari Suriah hingga Palestina
Ada satu hal lain yang membuat pengalaman saya melihat kembali Gaziantep terasa berbeda.
Kepedulian terhadap persoalan kemanusiaan di kawasan ini tidak berhenti pada masyarakat Suriah.
Ketika tragedi kemanusiaan Palestina terus berlangsung, suara solidaritas terhadap warga Palestina juga terasa kuat di berbagai wilayah Turki, termasuk di kawasan yang secara geografis maupun historis memiliki hubungan dekat dengan dunia Arab.
Bagi sebagian orang, Palestina mungkin hanya sebuah berita yang muncul di layar televisi atau media sosial.
Tetapi bagi masyarakat yang hidup dekat dengan kawasan tersebut, persoalan Palestina sering kali terasa lebih dekat.
Ada hubungan sejarah, agama, keluarga, pengalaman migrasi, dan tentu saja rasa kemanusiaan yang membuat penderitaan warga Palestina tidak mudah dianggap sebagai persoalan yang jauh.
Di sinilah saya kembali melihat Gaziantep dari perspektif yang berbeda.
Kota boleh berkembang.
Jalan-jalannya boleh berubah.
Gedung-gedung baru boleh bermunculan.
Tetapi ketika seseorang datang membawa luka dan membutuhkan pertolongan, nilai kemanusiaan tetap menjadi sesuatu yang penting.
Napak Tilas yang Membuat Saya Berpikir
Perjalanan kembali mengingat Gaziantep bagi saya bukan sekadar perjalanan ke sebuah kota.
Ia seperti membuka kembali sebuah halaman lama.
Saya membandingkan apa yang pernah saya lihat dengan apa yang terjadi sekarang.
Dan kesimpulan pribadi saya sederhana:
Antep mungkin tidak lagi sama secara fisik, tetapi semangat kemanusiaannya terasa masih sama.
Itulah yang membuat sebuah kota sebenarnya menjadi hidup.
Bukan hanya karena bangunannya.
Bukan hanya karena sejarahnya.
Bukan pula hanya karena kulinernya yang terkenal.
Tetapi karena bagaimana masyarakatnya memperlakukan manusia lain ketika mereka berada dalam keadaan sulit.
Gaziantep mengajarkan saya bahwa sebuah kota bisa memiliki banyak identitas sekaligus: kota perdagangan, kota sejarah, kota industri, kota kuliner, kota perbatasan.
Tetapi di atas semua identitas itu, ada satu identitas yang menurut saya jauh lebih penting:
kota yang masih memiliki rasa kemanusiaan.
Dan mungkin itulah sebabnya ketika saya mengingat Antep masa lalu dan melihatnya dalam konteks hari ini, saya merasa ada sesuatu yang tetap sama.
Wajah kotanya mungkin berubah. Generasinya berganti. Tetapi kepedulian terhadap sesama manusia tidak harus ikut berubah.
Bagi saya, itulah napak tilas Gaziantep yang paling berkesan.
Bukan tentang apa yang berubah dari kota itu.
Tetapi tentang apa yang tetap dipertahankan oleh manusia-manusianya.