Nama Gus Kikin atau KH Abdul Hakim Mahfudz semakin dikenal luas setelah dipercaya meneruskan kepengasuhan Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang. Namun, perjalanan Gus Kikin menjadi pengasuh pesantren yang didirikan KH Hasyim Asy’ari tersebut ternyata tidak terjadi secara tiba-tiba.
Proses regenerasi kepemimpinan Tebuireng telah dipersiapkan beberapa tahun sebelum wafatnya KH Salahuddin Wahid atau Gus Sholah pada 2 Februari 2020. Salah satu titik penting dalam proses tersebut terjadi pada Januari 2016, ketika Gus Sholah meminta Gus Kikin untuk membantu dirinya dalam mengelola Tebuireng sekaligus bersiap menghadapi kemungkinan terjadinya pergantian kepemimpinan pesantren.
Gus Sholah Memulai Proses Regenerasi
Pada Januari 2016, Gus Sholah meminta Gus Kikin datang dan membantu kepengurusan Tebuireng. Permintaan tersebut kemudian menjadi awal dari perjalanan Gus Kikin menuju posisi sebagai pengasuh pesantren.
Menurut penuturan Gus Kikin, saat itu Gus Sholah tidak sekadar meminta bantuan dalam menjalankan kegiatan pesantren. Ia juga diminta bersiap apabila suatu saat terjadi suksesi kepemimpinan di Tebuireng.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa Gus Sholah telah memikirkan keberlanjutan kepemimpinan pesantren jauh sebelum dirinya wafat.
Bagi sebuah pesantren besar seperti Tebuireng, pergantian pengasuh bukan persoalan sederhana. Tebuireng memiliki sejarah panjang yang tidak dapat dipisahkan dari keluarga besar pendirinya, KH Hasyim Asy’ari. Karena itu, proses menentukan siapa yang akan meneruskan kepemimpinan pesantren membutuhkan pertimbangan keluarga besar.
Melibatkan Keluarga Besar KH Hasyim Asy’ari
Proses regenerasi tersebut kemudian melibatkan keluarga besar Bani Hasyim, yaitu keturunan KH Hasyim Asy’ari.
Buku Pintar 30 Hari Berjualan Produk Digital
Bingung memulai jualan produk digital? Dapatkan panduan utama beserta bonus Mesin Konten 30 Hari untuk membantumu merencanakan konten promosi secara lebih terstruktur.
- 2 buku digital dalam 1 paket
- Panduan dan materi praktik
- File PDF yang bisa dibaca di HP
Gus Sholah mengumpulkan lebih dari 200 anggota keluarga besar untuk membicarakan masa depan kepemimpinan Tebuireng. Mereka diminta menyampaikan pandangan dan usulan mengenai sosok yang dianggap layak untuk meneruskan kepengasuhan pesantren.
Proses tersebut menunjukkan bahwa penetapan pengasuh Tebuireng tidak hanya didasarkan pada keputusan pribadi Gus Sholah.
Advertorial Pilihan
Informasi dan cerita menarik dari berbagai pihak.
Pesantren Bina Insan Mulia Buka Seleksi 2.500 Calon Santri Baru Tahun Ajaran 2027–2028, Ini Jadwal dan Lokasinya
11 Okt 2026
Cara Mendapatkan Penjualan di Lynk.id: Bukan Sekadar Mengumpulkan Klik
06 Okt 2026
Workshop Nasional Ibu Nyai dan Ning Nusantara Batch 2 di Banten, Gratis untuk 500 Peserta
24 Sep 2026Setelah mendapatkan berbagai masukan dari keluarga besar, pembahasan kemudian dilanjutkan oleh sebuah tim yang dikenal sebagai Tim Sembilan. Anggotanya mewakili garis keturunan putra-putra KH Hasyim Asy’ari.
Dari proses musyawarah tersebut, nama Gus Kikin akhirnya mendapatkan kepercayaan untuk dipersiapkan sebagai penerus kepemimpinan Tebuireng.
Dari Wakil Pengasuh hingga Penerus Gus Sholah
Setelah proses tersebut, Gus Kikin kemudian dipercaya menjadi Wakil Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng.
Periode 2016 hingga 2020 menjadi masa penting bagi Gus Kikin. Selama kurang lebih empat tahun, ia berada di lingkungan kepemimpinan Tebuireng bersama Gus Sholah.
Posisi tersebut dapat dipandang sebagai masa transisi sekaligus proses pengenalan Gus Kikin terhadap berbagai persoalan yang dihadapi pesantren.
Gus Kikin bukan orang yang benar-benar asing dengan dunia pesantren. Ia berasal dari keluarga yang memiliki hubungan erat dengan tradisi pesantren Tebuireng dan merupakan bagian dari keluarga besar keturunan KH Hasyim Asy’ari.
Namun, menjadi bagian dari keluarga besar pendiri pesantren tentu berbeda dengan memimpin sebuah pesantren besar. Karena itu, masa menjadi wakil pengasuh menjadi bagian penting dalam proses regenerasi tersebut.
Gus Sholah Wafat, Gus Kikin Melanjutkan Kepemimpinan
Pada 2 Februari 2020, Gus Sholah meninggal dunia. Wafatnya Gus Sholah menandai berakhirnya salah satu periode penting dalam sejarah modern Tebuireng.
Namun, proses regenerasi yang telah disiapkan sejak 2016 membuat estafet kepemimpinan tidak berjalan tanpa persiapan.
Gus Kikin kemudian dipercaya meneruskan kepengasuhan Pondok Pesantren Tebuireng.
Dengan demikian, perjalanan Gus Kikin menjadi pengasuh Tebuireng sebenarnya telah dimulai sekitar empat tahun sebelum Gus Sholah wafat.
Januari 2016 menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan tersebut. Pada saat itulah Gus Sholah meminta Gus Kikin membantu dan bersiap menghadapi kemungkinan suksesi kepemimpinan.
Mengapa Gus Kikin?
Pertanyaan berikutnya yang menarik adalah mengapa Gus Sholah dan keluarga besar Tebuireng akhirnya memberikan kepercayaan tersebut kepada Gus Kikin.
Jawabannya tidak bisa dilepaskan dari beberapa faktor, mulai dari hubungan keluarga, latar belakang pesantren, pengalaman organisasi, hingga kemampuan Gus Kikin dalam mengelola berbagai aktivitas di luar pesantren.
Gus Kikin juga memiliki pengalaman di dunia usaha dan dikenal memiliki perhatian terhadap pengembangan kelembagaan. Pengalaman tersebut menjadi modal tersendiri ketika ia kemudian dipercaya mengelola pesantren yang memiliki sejarah panjang sekaligus menghadapi tuntutan perubahan zaman.
Karena itu, penunjukan Gus Kikin sebagai pengasuh Tebuireng lebih tepat dipahami sebagai hasil dari sebuah proses regenerasi yang telah dipersiapkan secara bertahap.
Bukan keputusan yang muncul secara mendadak setelah Gus Sholah wafat.
Regenerasi yang Dipersiapkan Sejak Empat Tahun Sebelumnya
Kisah awal Gus Kikin menjadi pengasuh Tebuireng memperlihatkan bahwa regenerasi kepemimpinan pesantren dapat dipersiapkan jauh sebelum pergantian kepemimpinan benar-benar terjadi.
Gus Sholah memulai proses tersebut pada 2016. Keluarga besar dilibatkan, masukan dikumpulkan, kemudian nama Gus Kikin mendapatkan kepercayaan untuk dipersiapkan.
Selama empat tahun berikutnya, Gus Kikin menjalankan peran sebagai Wakil Pengasuh hingga akhirnya mengambil estafet kepemimpinan setelah wafatnya Gus Sholah pada 2020.
Perjalanan tersebut menjadikan Gus Kikin bukan sekadar sosok yang tiba-tiba menggantikan Gus Sholah. Ia merupakan figur yang telah dipersiapkan melalui proses panjang untuk meneruskan salah satu pesantren paling bersejarah di Indonesia.
Dari sinilah perjalanan Gus Kikin sebagai Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng bermula: sebuah proses regenerasi yang dimulai sejak Januari 2016 dan kemudian menemukan momentumnya setelah wafatnya Gus Sholah empat tahun kemudian.