Naik Kelas, Turun Finishing? Mengapa Islam Makhachev Belum Menang KO di Welterweight

Islam Makhachev memang masih menjadi salah satu petarung paling dominan di UFC. Namun sejak naik dari lightweight ke welterweight, ada satu perubahan menarik yang mulai terlihat: kemampuan mengakhiri pertarungan sebelum bel terakhir belum kembali muncul.

Setelah menaklukkan Charles Oliveira, Dustin Poirier, dan Renato Moicano di kelas lightweight, Makhachev dikenal sebagai petarung yang sangat efektif dalam mencari penyelesaian. Ia mampu membawa lawan ke lantai, mengontrol posisi, kemudian mengakhiri pertarungan melalui submission.

Baca Juga :

Namun situasinya berbeda setelah Islam naik ke kelas welterweight atau 170 pound.

Dalam dua pertarungan pertamanya di kelas tersebut, Makhachev menghadapi Jack Della Maddalena dan Ian Machado Garry. Hasilnya sama-sama kemenangan angka. Tidak ada KO, TKO, maupun submission.

Apakah ini tanda kekuatan Makhachev menurun?

Belum tentu.

Justru ada kemungkinan bahwa persoalannya bukan pada Islam, melainkan pada ukuran tubuh dan karakteristik lawan yang harus dihadapinya di kelas 170 pound.

170 Pound Bukan Sekadar Naik 15 Pound

Perbedaan lightweight dan welterweight memang hanya 15 pound dalam batas timbang resmi. Lightweight memiliki batas 155 pound, sedangkan welterweight berada di 170 pound.

Tetapi angka pada timbangan bukanlah keseluruhan cerita.

Petarung MMA melakukan rehidrasi setelah timbang badan. Karena itu, berat tubuh mereka ketika masuk octagon dapat jauh lebih tinggi dibandingkan angka resmi saat weigh-in.

Di kelas welterweight, semakin besar pula kemungkinan seorang petarung memiliki frame tubuh yang memang dirancang untuk membawa massa lebih banyak.

Ian Machado Garry adalah contoh yang sangat jelas.

Garry memiliki tinggi sekitar 6 kaki 3 inci dengan jangkauan tangan sekitar 74 inci. Sementara Makhachev berada di sekitar 5 kaki 10 inci dengan reach sekitar 70,5 inci.

Artinya, Islam bukan hanya menghadapi petarung dengan berat resmi 170 pound.

Ia menghadapi lawan yang lebih tinggi, lebih panjang, memiliki frame lebih besar, dan setelah rehidrasi dapat membawa massa tubuh yang jauh lebih besar ke dalam octagon.

Bahkan sebelum pertarungan Makhachev vs Garry, sejumlah laporan memperkirakan berat Garry saat fight night dapat mendekati 190 pound.

Angka 195 atau bahkan 200 pound secara teoritis bukan sesuatu yang mustahil bagi petarung besar di kelas ini, meskipun tidak ada data resmi yang membuktikan Garry benar-benar mencapai angka tersebut.

Dan di sinilah persoalannya menjadi menarik.

Mengapa Islam Sulit Mendapatkan Finish?

Salah satu senjata utama Makhachev adalah kemampuannya mengontrol tubuh lawan.

Di lightweight, ia berkali-kali mampu membawa lawan ke posisi yang menguntungkan, mempertahankan kontrol dan kemudian mencari submission.

Tetapi semakin besar tubuh lawan, semakin besar pula tenaga yang dibutuhkan untuk mengontrolnya.

Seorang fighter dengan massa tubuh lebih besar tidak otomatis lebih sulit dikalahkan. Namun secara fisik, ada lebih banyak berat, tenaga, dan struktur tubuh yang harus dikendalikan.

Pertarungan melawan Garry memperlihatkan hal tersebut.

Islam tetap mampu melakukan takedown dan mengontrol lawannya. Bahkan pada ronde kedua ia berhasil menjatuhkan Garry melalui head kick.

Namun Garry mampu bangkit dan bertahan sampai akhir lima ronde.

Inilah perbedaan penting antara Islam di lightweight dan Islam di welterweight.

Di 155 pound, lawan-lawannya sering kali akhirnya menyerah terhadap kombinasi pressure, wrestling, positional control dan submission.

Di 170 pound, Islam mungkin harus mengeluarkan energi lebih besar hanya untuk mendapatkan posisi yang sama.

Islam Tidak Kehilangan Power

Karena itu, menurut saya terlalu dini jika muncul kesimpulan bahwa Makhachev kehilangan finishing power setelah naik kelas.

Head kick yang menjatuhkan Garry justru menjadi bukti bahwa kemampuan menghasilkan damage masih ada.

Masalahnya adalah damage tidak selalu berarti finish.

Garry mampu pulih.

Dan ketika lawan mampu pulih, Islam kembali kepada senjata utamanya: kontrol, wrestling dan fight IQ.

Ini membuat Makhachev terlihat sedikit berbeda dibandingkan ketika masih bertarung di lightweight.

Dulu kita sering melihat Islam mencari submission ketika mendapatkan posisi dominan.

Sekarang ia tampak semakin nyaman memenangkan ronde demi ronde.

Itu bukan penurunan.

Bisa jadi justru sebuah evolusi.

Dari Finisher Menjadi Five-Round Champion

Inilah bagian yang paling menarik dari perjalanan Makhachev di 170 pound.

Islam mungkin sedang berubah dari seorang finisher menjadi complete five-round champion.

Di lightweight, kemampuan menyelesaikan pertarungan menjadi salah satu ciri khasnya.

Di welterweight, ia mulai menunjukkan bahwa dirinya tidak harus mengakhiri pertandingan untuk mendominasi.

Ia bisa memenangkan pertarungan selama 25 menit.

Mengontrol lawan.

Mengurangi risiko.

Mengambil ronde.

Dan ketika kesempatan finish tidak datang, ia tetap pulang membawa kemenangan.

Pertarungan melawan Garry memperlihatkan hal tersebut dengan jelas. Makhachev menang unanimous decision dengan scorecard 49-46, 49-46 dan 48-47.

Memang muncul perdebatan mengenai scorecard tersebut. Sebagian penggemar menilai pertarungan lebih dekat, terutama karena Garry memiliki beberapa momen bagus dalam striking dan mampu menggagalkan sejumlah usaha takedown.

Tetapi satu hal sulit dibantah: Islam berhasil memaksakan jenis pertarungan yang ia inginkan.

Tantangan Terbesar Islam Justru Ukuran Lawan

Kalau Makhachev ingin membangun era baru di welterweight, tantangan terbesar bukan sekadar mencari lawan dengan teknik yang lebih baik.

Ia harus menghadapi fighter yang secara natural memang lebih besar.

Ini berbeda dengan menghadapi Oliveira atau Moicano di lightweight.

Di kelas 170 pound, Islam akan berhadapan dengan fighter yang sejak awal membangun tubuh mereka untuk kelas tersebut.

Karena itu, kemenangan decision atas Della Maddalena dan Garry seharusnya tidak langsung dibaca sebagai tanda bahwa Islam menjadi kurang berbahaya.

Bisa jadi justru sebaliknya.

Islam sedang belajar memenangkan pertarungan melawan tubuh-tubuh yang lebih besar.

Dan jika ia akhirnya mampu menemukan cara untuk kembali mendapatkan submission atau KO secara konsisten di welterweight, itu akan menjadi perkembangan yang jauh lebih mengerikan.

Sebab saat itu Islam bukan lagi sekadar mantan raja lightweight yang naik kelas.

Ia akan menjadi juara 170 pound yang memiliki kemampuan wrestling elit, kontrol luar biasa, fight IQ tinggi, sekaligus finishing ability.

Di kelas ringan, Islam mencari cara untuk mengakhiri pertarungan. Di kelas welterweight, ia mulai menunjukkan bahwa ia mampu menguasai pertarungan.

Dan mungkin, justru di situlah evolusi terbesar Makhachev sedang berlangsung

Tinggalkan komentar