Kehadiran KH Muhammad Cholil Nafis dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang digelar DPP Partai Keadilan Sejahtera (PKS) menjadi salah satu momen menarik dalam dinamika kehidupan keislaman dan politik Indonesia.
Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat tersebut hadir sebagai pengisi tausiah dalam acara Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H di Kantor DPP PKS, Jakarta, Sabtu, 12 September 2026. Acara tersebut mengangkat tema “Meneladani Akhlak Rasulullah SAW, Inspirasi Membangun Negeri”.
Baca juga :
- Awal Mula Gus Kikin Menjadi Pengasuh Tebuireng, Diminta Gus Sholah Sejak Januari 2016
- Masa Kecil Hilmi Aminuddin di Tebuireng: Fakta yang Jarang Diketahui
Kehadiran Cholil Nafis menarik perhatian bukan semata karena ia berbicara di sebuah acara partai politik. Lebih dari itu, materi yang disampaikannya justru membawa pesan tentang pentingnya persatuan, keterbukaan dan akhlak dalam kehidupan bermasyarakat maupun berbangsa.
Cholil Nafis Bicara Persatuan
Dalam tausiyahnya, Cholil Nafis menempatkan persatuan sebagai salah satu pelajaran penting dari perjalanan Rasulullah SAW.
Ia mencontohkan Piagam Madinah sebagai salah satu gambaran bagaimana Rasulullah SAW membangun kehidupan bersama di tengah masyarakat yang memiliki latar belakang berbeda.
Menurut Cholil, persatuan menjadi modal penting untuk membangun Indonesia ke depan. Ia menekankan bahwa seluruh elemen bangsa perlu memiliki ruang untuk bekerja sama demi menjaga republik.
Buku Pintar 30 Hari Berjualan Produk Digital
Bingung memulai jualan produk digital? Dapatkan panduan utama beserta bonus Mesin Konten 30 Hari untuk membantumu merencanakan konten promosi secara lebih terstruktur.
- 2 buku digital dalam 1 paket
- Panduan dan materi praktik
- File PDF yang bisa dibaca di HP
Pesan tersebut menjadi menarik ketika disampaikan di hadapan jajaran dan kader PKS. Sebab, kehidupan politik Indonesia selama ini tidak terlepas dari perbedaan pilihan, organisasi, kelompok dan kepentingan.
Karena itu, persatuan yang dimaksud tidak harus berarti semua orang memiliki pilihan politik yang sama. Persatuan dapat dimaknai sebagai kemampuan berbagai kelompok untuk tetap bekerja bersama meskipun memiliki posisi dan jalan perjuangan yang berbeda.
Advertorial Pilihan
Informasi dan cerita menarik dari berbagai pihak.
Pesantren Bina Insan Mulia Buka Seleksi 2.500 Calon Santri Baru Tahun Ajaran 2027–2028, Ini Jadwal dan Lokasinya
11 Okt 2026
Cara Mendapatkan Penjualan di Lynk.id: Bukan Sekadar Mengumpulkan Klik
06 Okt 2026
Workshop Nasional Ibu Nyai dan Ning Nusantara Batch 2 di Banten, Gratis untuk 500 Peserta
24 Sep 2026Cholil bahkan menyinggung hubungan antara organisasi kemasyarakatan Islam dan partai politik. Ia mengajak agar berbagai elemen tersebut dapat saling membuka diri, mengetahui ruang perjuangannya masing-masing dan mencari titik temu untuk bekerja bersama.
Tiga Akhlak Rasulullah yang Disampaikan
Dalam kesempatan tersebut, Cholil Nafis menyampaikan tiga akhlak sederhana yang menurutnya dapat diteladani dari Rasulullah SAW.
Pertama adalah basthul wajhi, yaitu menampilkan wajah yang ramah. Secara sederhana, nilai ini dapat diwujudkan melalui senyum, menyapa dan membangun hubungan yang baik dengan orang lain.
Dalam konteks kehidupan sosial dan politik, pesan tersebut menjadi relevan. Perbedaan pilihan politik sering kali membuat hubungan antarmanusia menjadi renggang. Padahal, perbedaan pilihan tidak seharusnya menghilangkan sikap saling menghormati.
Artikel sebelumnya :
- MIAI, KH Hasyim Asy’ari, dan Resolusi Jihad: Jejak Perjuangan Ulama Mempertahankan Kemerdekaan Indonesia
- Manajemen Kematian Karya Khozin Abu Faqih: Isi, Gagasan, dan Pesan Utamanya
Cholil mengaitkan nilai tersebut dengan hubungan antarormas dan partai. Menurutnya, berbagai kelompok perlu bisa saling bertemu dengan sikap terbuka dan menerima aspirasi masing-masing.
Kedua adalah kafful adza, yakni menahan diri dan mencegah munculnya kemudaratan bagi orang lain.
Dalam konteks politik, nilai tersebut dapat diterjemahkan sebagai upaya menghadirkan kebijakan yang tidak merugikan masyarakat. Politik bukan hanya tentang mendapatkan posisi atau memenangkan pertarungan, tetapi juga tentang bagaimana kekuasaan digunakan untuk menghadirkan kebaikan.
Ketiga adalah badzlun nada, yaitu berkorban dan memberikan manfaat bagi orang lain.
Pesan ini menjadi salah satu bagian penting dari tausiyah Cholil. Orientasi seseorang, termasuk mereka yang berada di ruang politik, seharusnya tidak hanya bertanya apa yang bisa diperoleh, tetapi juga apa yang dapat diberikan kepada masyarakat.
Dengan demikian, politik tidak berhenti pada perebutan kekuasaan. Politik idealnya menjadi sarana untuk memberikan manfaat yang lebih luas.
Ketika Akhlak Nabi Dibawa ke Ruang Politik
Menariknya, pesan Cholil Nafis tersebut bertemu dengan konteks politik yang menjadi ruang acara.
PKS sendiri dalam peringatan Maulid tersebut menekankan pentingnya keteladanan Rasulullah SAW dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Presiden PKS Almuzzammil Yusuf mengajak masyarakat, terutama para pemimpin dan pejabat publik, menghidupkan semangat Al-Qur’an dan menjadikan akhlak Rasulullah sebagai inspirasi dalam menghadirkan keadilan, kesejahteraan, kejujuran dan amanah.
Karena itu, kehadiran Cholil Nafis dapat dibaca sebagai bagian dari pesan yang lebih luas: bahwa nilai-nilai keagamaan tidak semestinya hanya dibicarakan dalam ruang ibadah, tetapi juga harus diterjemahkan dalam kehidupan sosial dan politik.
Politik yang berakhlak bukan berarti politik tanpa perbedaan.
Justru, politik yang berakhlak diuji ketika perbedaan terjadi.
Bagaimana seseorang tetap menghormati orang yang berbeda pilihan? Bagaimana kelompok politik dapat bekerja sama ketika memiliki kepentingan berbeda? Dan bagaimana kekuasaan digunakan untuk memberikan manfaat, bukan sekadar keuntungan bagi kelompok sendiri?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi relevan dengan pesan tiga akhlak yang disampaikan Cholil Nafis.
Ulama, Ormas dan Partai Politik
Kehadiran Cholil Nafis di acara PKS juga memperlihatkan bahwa hubungan antara ulama, organisasi kemasyarakatan Islam dan partai politik memiliki ruang yang cukup luas.
Cholil dikenal sebagai salah satu tokoh ulama yang aktif berbicara mengenai persoalan keislaman dan kebangsaan. Dalam acara Maulid PKS tersebut, ia tidak datang untuk membicarakan politik praktis semata. Pesan yang dibawanya lebih banyak berbicara tentang nilai yang seharusnya menjadi dasar kehidupan bersama.
Di sisi lain, forum seperti ini memperlihatkan bahwa partai politik juga membutuhkan ruang dialog dengan tokoh agama dan masyarakat luas.
Partai politik bukan hanya berhadapan dengan persoalan elektoral. Ia juga memiliki tanggung jawab untuk membangun komunikasi dengan berbagai elemen masyarakat.
Karena itu, pesan tentang saling menyapa, membuka diri dan mencari ruang kerja sama menjadi penting.
Perbedaan organisasi dan pilihan politik tidak harus berujung pada permusuhan.
Maulid dan Pesan untuk Indonesia
Peringatan Maulid Nabi di DPP PKS tahun ini pada akhirnya tidak hanya berbicara tentang sejarah kelahiran Rasulullah SAW.
Ada pesan yang lebih luas tentang bagaimana keteladanan Nabi diterjemahkan dalam kehidupan Indonesia hari ini.
Basthul wajhi mengajarkan keramahan.
Kafful adza mengajarkan agar manusia tidak menjadi sumber mudarat bagi orang lain.
Sementara badzlun nada mengajarkan keberanian untuk memberikan manfaat dan berkorban bagi kepentingan orang lain.
Jika tiga nilai tersebut benar-benar diterapkan dalam kehidupan sosial dan politik, perbedaan seharusnya tidak menjadi alasan untuk saling meniadakan.
Justru dari perbedaan itu dapat lahir kerja sama.
Di tengah politik yang sering kali diwarnai persaingan, pesan Cholil Nafis di Maulid PKS mengingatkan bahwa politik pada akhirnya tetap berhubungan dengan manusia.
Dan ketika politik berhubungan dengan manusia, akhlak menjadi sesuatu yang tidak boleh ditinggalkan.
Sebab membangun negeri bukan hanya membutuhkan program dan kekuasaan, tetapi juga membutuhkan manusia yang mampu menggunakan kekuasaan dengan sikap amanah, menjaga persatuan dan memberikan manfaat bagi sebanyak mungkin orang.