Kematian merupakan sesuatu yang pasti akan dialami setiap manusia. Namun, membicarakan kematian tidak selalu mudah. Sebagian orang bahkan cenderung menghindarinya karena kematian sering dikaitkan dengan kehilangan, ketakutan, dan ketidakpastian.
Persoalan inilah yang menjadi salah satu pintu masuk buku Manajemen Kematian karya Khozin Abu Faqih. Buku ini tidak sekadar mengajak pembacanya berbicara mengenai kematian, tetapi mencoba menempatkan kematian sebagai bagian penting dalam cara manusia menjalani kehidupan.
Buku Manajemen Kematian diterbitkan oleh Syaamil di Bandung dan memiliki ISBN 979-3279-43-5. Katalog Perpustakaan Mahkamah Konstitusi mencatat edisi tahun 2003 dengan ketebalan 126 halaman, sementara katalog perpustakaan lain mencatat edisi tahun 2005 dengan judul yang lebih lengkap, Manajemen Kematian: Bagi Mereka yang Merindukan Kematian Mulia. Perbedaan tahun tersebut kemungkinan berkaitan dengan edisi atau pencatatan katalog yang berbeda.
Apa yang Dimaksud dengan Manajemen Kematian?
Istilah “manajemen kematian” mungkin terdengar tidak biasa. Kematian tentu bukan sesuatu yang dapat diatur manusia. Yang menjadi perhatian buku ini adalah bagaimana seseorang mempersiapkan dirinya menghadapi kematian dan bagaimana kesadaran terhadap kematian seharusnya memengaruhi kehidupan.
Dalam perspektif yang ditawarkan Khozin Abu Faqih, mengingat kematian bukan berarti menjadi pasif atau kehilangan semangat menjalani kehidupan. Sebaliknya, kesadaran bahwa kehidupan memiliki batas dapat membuat seseorang lebih serius menggunakan waktu, memperbaiki amal, dan menentukan apa yang benar-benar penting dalam hidupnya.
Katalog Perpustakaan Mahkamah Konstitusi merangkum salah satu gagasan utama buku ini: ketakutan terhadap kematian dapat memiliki dampak kontraproduktif, sementara pemahaman yang tepat terhadap kematian dapat mengubah cara seseorang memandang kehidupan dan mempersiapkan dirinya.
Dari Perjalanan Hidup hingga Mengingat Kematian
Buku ini membahas perjalanan manusia menuju kematian sekaligus pentingnya dzikrul maut, yaitu mengingat kematian. Dalam salah satu ringkasan pembahasan buku, terdapat lima bagian utama yang mencakup perjalanan hidup manusia, dzikrul maut, hakikat kematian, pembahasan mengenai kematian di jalan Allah, serta upaya menumbuhkan kerinduan terhadap syahadah.
Buku Pintar 30 Hari Berjualan Produk Digital
Bingung memulai jualan produk digital? Dapatkan panduan utama beserta bonus Mesin Konten 30 Hari untuk membantumu merencanakan konten promosi secara lebih terstruktur.
- 2 buku digital dalam 1 paket
- Panduan dan materi praktik
- File PDF yang bisa dibaca di HP
Dengan demikian, kematian dalam buku ini tidak ditempatkan sebagai tema yang berdiri sendiri. Ia dikaitkan dengan bagaimana manusia menjalani kehidupan sejak sekarang.
Pertanyaan yang kemudian muncul bukan hanya “kapan saya akan mati?”, tetapi juga “apa yang saya lakukan selama masih hidup?”
Advertorial Pilihan
Informasi dan cerita menarik dari berbagai pihak.
Pesantren Bina Insan Mulia Buka Seleksi 2.500 Calon Santri Baru Tahun Ajaran 2027–2028, Ini Jadwal dan Lokasinya
11 Okt 2026
Cara Mendapatkan Penjualan di Lynk.id: Bukan Sekadar Mengumpulkan Klik
06 Okt 2026
Workshop Nasional Ibu Nyai dan Ning Nusantara Batch 2 di Banten, Gratis untuk 500 Peserta
24 Sep 2026Kesadaran seperti inilah yang membuat pembahasan kematian memiliki dimensi reflektif. Waktu yang dimiliki manusia menjadi sesuatu yang berharga karena tidak dapat diulang.
Mengapa Manusia Perlu Mengingat Kematian?
Mengingat kematian sering dianggap sebagai sesuatu yang menakutkan. Namun, Manajemen Kematian mencoba melihat persoalan tersebut dari sudut pandang yang berbeda.
Mengingat kematian dapat menjadi pengingat agar manusia tidak terlalu terlena dengan kehidupan dunia. Kesadaran tersebut dapat mendorong seseorang melakukan evaluasi diri, memperbaiki hubungan dengan Allah, serta mempersiapkan bekal untuk kehidupan setelah kematian.
Penelitian di UIN Sunan Gunung Djati Bandung bahkan secara khusus mengkaji nilai-nilai pendidikan keimanan dalam buku Manajemen Kematian karya Khozin Abu Faqih. Penelitian tersebut menemukan pembahasan mengenai iman kepada Allah, iman kepada kitab-kitab Allah, iman kepada hari akhir, serta iman kepada qada dan qadar.
Artinya, buku ini bukan hanya dapat dibaca sebagai buku tentang kematian, tetapi juga dapat dilihat sebagai karya yang membawa pembaca kepada refleksi mengenai keimanan.
Kematian dan Cara Memanfaatkan Waktu
Salah satu pesan penting yang dapat ditarik dari pembahasan buku ini adalah hubungan antara kesadaran terhadap kematian dan pemanfaatan waktu.
Manusia sering merasa memiliki banyak waktu. Padahal, tidak seorang pun mengetahui berapa lama kehidupannya akan berlangsung.
Kesadaran tersebut semestinya bukan membuat seseorang kehilangan harapan, tetapi justru mendorongnya untuk menggunakan waktu dengan lebih bermakna. Pekerjaan, keluarga, ilmu, dakwah, amal sosial, dan berbagai aktivitas kehidupan dapat dilihat kembali dari pertanyaan sederhana: apakah semua itu membawa manusia kepada kehidupan yang lebih baik?
Penelitian UIN Sunan Gunung Djati juga mencatat tema pemanfaatan waktu, persiapan menghadapi hari kebangkitan, kejernihan hati, kekuatan iman, ketakwaan, dan amal saleh dalam pembahasan buku ini.
Manajemen Kematian sebagai Refleksi Keimanan
Hal menarik lainnya adalah adanya kajian akademik yang menjadikan buku Manajemen Kematian sebagai objek penelitian. Skripsi di UIN Sunan Gunung Djati Bandung membahas secara khusus nilai-nilai pendidikan keimanan yang terdapat di dalamnya.
Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa buku ini memuat nilai keimanan kepada Allah, kitab-kitab Allah, hari akhir, serta qada dan qadar. Pembahasannya juga mencakup kematian, hari kebangkitan, hisab amal, kehidupan akhirat, dan persiapan manusia menghadapi kehidupan setelah dunia.
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa Manajemen Kematian memiliki ruang pembahasan yang lebih luas daripada sekadar mengajak pembaca mengingat ajal.
Kematian menjadi pintu untuk membicarakan iman, amal, waktu, tanggung jawab, dan tujuan kehidupan.
Pesan Utama Buku Karya Khozin Abu Faqih
Pada akhirnya, Manajemen Kematian dapat dibaca sebagai ajakan untuk melihat kehidupan dari perspektif yang lebih panjang.
Kematian bukan sesuatu yang dapat dinegosiasikan. Ia merupakan bagian dari perjalanan manusia. Karena itu, yang dapat dilakukan manusia bukan menghindari kenyataan tersebut, melainkan mempersiapkan diri sebaik mungkin.
Kesadaran terhadap kematian juga dapat membuat seseorang lebih menghargai waktu. Apa yang dilakukan hari ini memiliki konsekuensi bagi kehidupan yang akan datang. Karena itu, mengingat kematian pada akhirnya bukan hanya berbicara mengenai akhir kehidupan, tetapi juga mengenai bagaimana seseorang memilih untuk menjalani kehidupannya sekarang.
Mengenal Karya Khozin Abu Faqih
Manajemen Kematian merupakan salah satu karya yang menarik untuk ditempatkan dalam pembahasan mengenai pemikiran dan karya Khozin Abu Faqih. Buku ini menunjukkan perhatian penulis terhadap persoalan keimanan, kehidupan manusia, kematian, serta persiapan menghadapi kehidupan akhirat.
Bagi pembaca yang ingin mengenal lebih jauh sosok dan pemikiran Khozin Abu Faqih, buku ini dapat menjadi salah satu pintu masuk untuk memahami tema-tema yang pernah ia tuliskan.
Artikel sebelumnya :
- Khozin Abu Faqih: Dari Dunia Tarbiyah, Kaderisasi hingga Politik PKS
- Abdul Hadi Wijaya, 2 Periode di DPRD Jabar dan Cicit KH Hasyim Asy’ari yang Berkiprah di PKS
Pada akhirnya, pesan yang terasa kuat dari Manajemen Kematian bukan sekadar tentang bagaimana manusia menghadapi kematian, melainkan bagaimana kesadaran terhadap kematian dapat membuat manusia lebih serius dalam menjalani kehidupan.
Sebab, memahami bahwa hidup memiliki batas seharusnya membuat setiap waktu yang dimiliki menjadi semakin bernilai.