Nama Sean Musa Sharaf mendadak menjadi perhatian setelah mencetak kemenangan mengejutkan di UFC 331. Petarung kelas berat asal Santa Ana, California, itu menghentikan Gable Steveson hanya dalam 12 detik di Crypto.com Arena, Los Angeles, Sabtu, 19 September 2026.
Namun, yang membuat kemenangan Sean terasa berbeda bukan hanya cepatnya KO tersebut. Setelah pertarungan, ia melakukan sujud dan membaca Surah Al-Fatihah. Momen itu kemudian diketahui berkaitan dengan ayahnya yang telah meninggal dunia.
Sean dalam wawancara setelah pertandingan mengatakan bahwa ia telah bekerja dan berdoa sangat keras sebelum pertarungan. Ia juga menyampaikan bahwa dirinya ingin mendoakan ayahnya yang telah wafat. Media yang meliput kemenangan tersebut kemudian menyoroti momen Sean melakukan sujud dan membaca Al-Fatihah seusai kemenangan.
Baca juga :
- Arman Tsarukyan Menguatkan Posisi sebagai Penantang Utama Justin Gaethje Usai Taklukkan Mauricio Ruffy di Ronde Pertama
- Mengapa Islam Makhachev Naik Kelas ke Welterweight? Bukan Sekadar Mencari Tantangan Baru
Bagi Sean, kemenangan atas Steveson bukan sekadar tambahan satu angka dalam rekor profesionalnya. Ia memasuki UFC 331 setelah mengalami dua kekalahan dalam dua penampilan UFC sebelumnya. Kemenangan atas Steveson menjadi kemenangan UFC pertamanya sekaligus salah satu momen paling penting dalam perjalanan kariernya.
“My Blood Is Palestinian”
Di balik sosok petarung Amerika itu terdapat latar belakang keluarga Palestina.
Dalam wawancara media day UFC 331, Sean memperkenalkan dirinya sebagai orang dari Santa Ana, California, sekaligus mantan anggota United States Marine Corps. Setelah itu ia menyampaikan latar belakang keluarganya.
Buku Pintar 30 Hari Berjualan Produk Digital
Bingung memulai jualan produk digital? Dapatkan panduan utama beserta bonus Mesin Konten 30 Hari untuk membantumu merencanakan konten promosi secara lebih terstruktur.
- 2 buku digital dalam 1 paket
- Panduan dan materi praktik
- File PDF yang bisa dibaca di HP
“My blood is Palestinian. My father’s from Jerusalem,” kata Sean.

Free Palestine. It’s Not a Crime
Advertorial Pilihan
Informasi dan cerita menarik dari berbagai pihak.
Pesantren Bina Insan Mulia Buka Seleksi 2.500 Calon Santri Baru Tahun Ajaran 2027–2028, Ini Jadwal dan Lokasinya
11 Okt 2026
Cara Mendapatkan Penjualan di Lynk.id: Bukan Sekadar Mengumpulkan Klik
06 Okt 2026
Workshop Nasional Ibu Nyai dan Ning Nusantara Batch 2 di Banten, Gratis untuk 500 Peserta
24 Sep 2026Ia menjelaskan bahwa ayahnya berasal dari Jerusalem dan kemudian berimigrasi ke Amerika Serikat sebagai seorang pengungsi. Sean mengatakan bahwa dirinya ingin menggunakan kesempatan bertarung di UFC untuk mewakili orang-orang Palestina.
Pernyataan tersebut penting karena identitas Palestina bukan sesuatu yang baru muncul setelah ia menang atas Steveson. Dalam wawancara sebelum pertandingan, Sean sudah terbuka mengenai latar belakang keluarganya dan keinginannya menggunakan platform UFC untuk menyuarakan isu Palestina.
Profil resmi UFC juga mencantumkan Sean sebagai seorang petarung yang ingin menggunakan platformnya untuk meningkatkan perhatian terhadap situasi di Palestina. Dalam profil tersebut, ia memperkenalkan dirinya sebagai “a Palestinian, United States Marine from Santa Ana California chasing my dreams.”
“Free Palestine. It’s Not a Crime”
Pernyataan Sean mengenai Palestina bahkan disampaikan sebelum ia masuk ke oktagon.
Ketika ditanya mengenai situasi Palestina dalam media day, Sean menjawab bahwa mereka hanya mengatakan, “Free Palestine. It’s not a crime.”
Baca juga :
- Mengenal Hai’ah Ulama Filistin: Organisasi Ulama Palestina yang Berdiri Sejak 2009
- Abdul Karim Miqdad dan Jejak Kasus Siprus: Dugaan Peran ‘Handler’, Malaysia, Bahan Peledak, dan Target Israel
Ia kemudian menjelaskan bahwa dirinya tidak ingin melihat perempuan dan anak-anak menjadi korban kekerasan. Sebagai mantan Marine, Sean mengaitkan pandangannya dengan pengalamannya mengenai aturan keterlibatan militer dan pentingnya meminimalkan korban sipil.
Setelah kemenangan, pesan tersebut kembali ia sampaikan.
Dalam wawancara pascapertandingan, Sean mengatakan bahwa orang-orang Palestina sedang menderita dan ia berharap mereka dapat hidup bebas. Ia juga terlihat mengenakan keffiyeh Palestina dalam rangkaian wawancara setelah pertandingan.
Dengan demikian, pesan Palestina yang disampaikan Sean bukan sekadar reaksi spontan setelah memenangkan pertarungan. Ia sudah membicarakannya sebelum pertarungan dan kembali mengulanginya setelah kemenangan.
Dari Marine Corps ke Oktagon UFC
Perjalanan Sean menuju UFC juga tidak biasa.
Sebelum menjadi petarung profesional, Sean merupakan anggota United States Marine Corps dan menjalani dinas selama sekitar enam tahun. Dalam wawancara UFC 331, ia mengatakan bahwa pengalaman sebagai Marine membentuk kemampuannya menghadapi tekanan.
Menurut Sean, seorang Marine harus mampu tetap tenang dalam situasi penuh tekanan, menjaga konsentrasi dan menemukan cara untuk menyelesaikan misi. Mentalitas tersebut menurutnya juga sangat berguna dalam pertarungan MMA.
Sean mulai berlatih untuk bertarung pada 2018. Ia kemudian membangun karier profesional dan akhirnya mendapatkan kesempatan tampil di UFC pada 2024.
Sebelum menghadapi Steveson, Sean sudah dua kali bertanding di UFC. Namun keduanya berakhir dengan kekalahan dari Junior Tafa dan Steven Asplund. Catatan resmi UFC menunjukkan bahwa kemenangan atas Steveson menjadi kemenangan pertamanya di organisasi tersebut.
Karena itu, KO 12 detik terhadap Steveson bukan hanya kemenangan atas seorang lawan. Itu juga menjadi titik balik bagi karier Sean.
Sebuah Kemenangan yang Personal
Ada alasan mengapa ekspresi Sean setelah pertarungan terlihat begitu emosional.
Ia bukan hanya berbicara tentang kemenangan. Ia berbicara tentang doa, ayahnya yang telah meninggal, ibunya, dan keluarganya.
Dalam wawancara pascapertandingan, Sean mengatakan bahwa ia telah bekerja dan berdoa sangat keras untuk mencapai momen tersebut. Ia juga menyampaikan keinginannya membantu ibunya dan membuat sang ibu dapat beristirahat setelah bertahun-tahun bekerja.
Di tengah sorotan kamera UFC, Sean kemudian melakukan sujud.
Bagi penonton, adegan tersebut menjadi salah satu gambar paling kuat dari UFC 331: seorang petarung yang baru saja menjatuhkan lawannya dalam 12 detik, kemudian menundukkan diri dan membaca Al-Fatihah untuk ayahnya.
Tidak lama kemudian, ia kembali menyampaikan pesan yang sejak sebelum pertarungan sudah ia bawa:
“Free Palestine.”
Sean Sharaf kini bukan hanya dikenal karena tangan kirinya yang menjatuhkan Gable Steveson dalam hitungan detik. Kisahnya juga membawa identitas keluarga, kehilangan seorang ayah, perjalanan sebagai mantan Marine, perjuangan menjadi petarung UFC, serta hubungan emosionalnya dengan Palestina ke panggung olahraga terbesar dunia.
Dan bagi Sean Musa Sharaf, kemenangan di UFC 331 tampaknya bukan sekadar tentang siapa yang menang dan siapa yang kalah di dalam oktagon. Itu adalah sebuah momen untuk mengenang ayahnya, bersyukur kepada Tuhan, dan menyampaikan kepada dunia bahwa di balik seorang petarung kelas berat terdapat sebuah kisah keluarga dan identitas yang ingin ia bawa bersamanya.